March 17, 2011


Jerome memandang keluar jendela. Rintik-rintik putih berjatuhan, sebagian ada yang tertinggal di jendelanya yang kusam dan tua. Pemandangan kota Paris di luar sana sama, serba putih. Musim dingin hampir usai, namun Jerome sudah merasa sangat bosan dan tak sabar. Ia ingin jalan-jalan.

Jerome merupakan salah satu gargoyle* penghuni atap Notre Dame, wujudnya setengah anjing dan setengah serigala. Harusnya ia tak memiliki sayap, namun sejak musim panas lalu ia memiliki sepasang sayap di punggungnya. Ia mendapatkannya secara paksa dari temannya yang berwujud burung. Dengan sayap itu, ia yang sebelumnya hanya berada di atap Notre Dame menjadi bisa mengunjungi tempat-tempat yang baru. Anehnya ia lebih suka mengunjungi tempat yang jauh dari Eropa.

Di musim dingin ini Jerome tak bisa terbang kemana-mana, ia harus menjalankan kodratnya sebagai gargoyle, yaitu melindungi dinding katedral agar tak langsung terkena air dari salju yang mencair. Berbeda dengan musim-musim lainnya, ia makan gaji buta karena terbebas dari tugas utamanya itu. Selain itu, di musim dingin ini, ia tak bisa bebas mengepakkan sayapnya karena dinginnya udara.


Jerome menghentikan pandangannya ke luar, “Hmm… Sudah berapa lama ya aku melamun?”

“Aku merindukan sahabatku Atlas, di Manhattan sana. Apa kabarnya dia?” bibirnya menggumam.

Pandangannya beralih ke meja di samping tempat tidurnya, laptop masih menyala di atasnya dan tampak berkedip-kedip.

“Ahaaaa… Ada email masuk, apakah itu dari Atlas?” Jerome berjalan tergesa ke arah mejanya.

“Huuuh! Ternyata bukan.”

“Tapi he! Tunggu dulu, sepertinya ini email yang salah tujuan. Sebelumnya aku tak punya teman bernama Neyna, apalagi perempuan, big no!! Perempuan kan hanya menyusahkan saja.”

Dengan sekali klik, terbukalah email dari Neyna itu.

“Hai…siapapun dan dimanapun kamu, perkenalkan namaku Neyna. Aku salah satu nereid** yang ditugaskan di Roma untuk menemani Neptunus, tepatnya di Piazza Navona. Aku merasa kesepian dan juga kedinginan, aku ingin jalan-jalan namun aku tak mampu. Maukah kau di sana menjadi temanku di dunia maya?”

Hanya sependek itulah isinya, tapi sudah membuat Jerome begitu penasaran. Selama ini ia berhubungan melalui dunia maya dengan orang-orang yang memang dikenalnya saja. Akhirnya, ia pun membalas email tersebut.

“Neyna…seperti denganmu, aku di sini juga merasa bosan. Di musim panas lalu aku mulai terbiasa jalan-jalan ke luar, tapi di musim dingin ini aku kembali terkurung. Oh iya….perkenalkan, namaku Jerome, aku salah satu gargoyle penunggu atap Notre Dame. Terus terang saja, awalnya aku ingin langsung menghapus emailmu ini, tapi aku penasaran dengan namamu yang indah, hihihi….”

Setelah mengirimkan email balasan ke Neyna, Jerome buru-buru membuka messenger-nya, ia klik add friend dan mengetikkan email Neyna, nereida_neyna. Ya, Jerome menambahkan ID Neyna ke dalam daftar temannya. Seebenarnya ia tak yakin Neyna menggunakan alamat yang sama dengan email untuk messenger-nya, tapi Jerome iseng saja.



Jauh di sebelah tenggara kota Paris…..

“Aduh…apa yang baru saja kulakukan ini bodoh tidak sih? Habis bagaimana lagi, aku kesepian. Biasanya banyak manusia yang berlalu-lalang di depanku dan duduk-duduk di tepi kolam ini. Huhh….aku benci musim dingin, semua serba pucat,” Neyna menggumam setelah mengirimkan email-email tak jelas ke beberapa alamat yang tak jelas juga.

Matanya masih tertuju pada komputer yang ada di depannya. Sampai tiba-tiba layarnya berkedip-kedip, email baru.

“Yihaaaa….ada yang membalas emailku. Ouw…namanya sangat keren, Jerome. Sangat khas Perancis, pasti orangnya ganteng,” Neyna membaca email sambil terkekeh.

Tak lama kemudian, layarnya berkedip-kedip lagi, kali ini dari messenger-nya.

“Permintaan pertemanan? Siapa ya?”

Tak butuh waktu lama bagi Neyna untuk mengenali siapa pemilik ID itu, “Uhm…aku tahu, dari alamatnya aku yakin pasti ini Jerome di Paris sana,”

Neyna segera menerima ajakan pertemanan dari thecoolest_jerome itu.

nereida_neyna        : Hello….

thecoolest_jerome : Hai….apakah benar kau Neyna?

nereida_neyna       : Yupp….aku Neyna, apa kabar Jerome? Mengapa kau merasa bosan?

thecoolest_jerome : Kabarku? Kau tahu sendiri kan Neyna kalau keadaanku sama sepertimu, bosan!! Hahahaha….

nereida_neyna     : Ups….maafkan aku Jerome, tapi setidaknya musim dingin hampir usai dan bunga-bunga akan bermekaran lagi. Itu tandanya kau bisa jalan-jalan lagi kan

thecoolest_jerome : Ya…ya….dan kau juga akan merasa senang kan Neyna? Karena manusia-manusia akan kembali berseliweran di depanmu, bermain-main air di kolammu?

nereida_neyna      : Hihihi….iya Jerome, aku tak sabar menunggu musim semi tiba

nereida_neyna     : Umm…Jerome, maukah saat musim semi tiba kau berkunjung ke tempatku? Kamu kan bisa terbang, sedangkan aku? Aku kan juga ingin jalan-jalan sepertimu,  hiks…

thecoolest_jerome : Ya, tentu saja aku mau Neyna. Sepertinya musim semi ini aku ingin jalan-alan di sekitar Eropa saja, karena aku malah belum pernah….hihihi

nereida_neyna      : Asiiiiiiikkkk…..muaaaahh muaaahhh!! Makasih Jerome, kamu memang laki-laki yang baik

thecoolest_jerome : Hahahahah…itu sudah jelas, dari dulu aku memang terkenal ganteng dan baik

nereida_neyna       : Eh, tapi kau tahu di  mana posisiku bukan?”

thecoolest_jerome : Aku tahu kota Roma, dan aku juga tahu Piazza Navona meskipun aku belum pernah ke sana

nereida_neyna      : Ok….baiklah Jerome, aku di Piazza Navona sebelah….” Neyna tak jadi melanjutkan pembicaraannya

Obrolan yang sedang asyik-asyiknya itu terputus karena tiba-tiba status Jerome offline.

“Fufufu…kemana kau Jerome? Mengapa tiba-tiba menghilang?” Neyna menggerutu.

Pembicaraan yang singkat itu begitu menarik bagi Neyna, sebelumnya ia tak pernah merasa memiliki teman chatting, kecuali dengan saudara-saudaranya di Laut Aegea sana.


Kembali di pusat kota Paris…..

“Sialan….baterai laptopku ternyata habis,” dengus Jerome

Jerome merasa sangat jengkel karena tiba-tiba laptopnya mati dan memutus pembicaraannya dengan Neyna, padahal dia belum  begitu tahu di mana posisi Neyna yang sebenarnya. Ia memang tahu kota Roma, dan ia juga tahu Piazza Navona, tapi ia belum pernah ke sana.

Ia menengok keluar jendela lagi, dan dilihatnya salju-salju mulai meleleh, berubah menjadi air. Pertanda ia harus kembali menyatukan tubuhnya dengan dinding katedral, dan ini dilakukannya sampai musim dingin usai. Tak ada kesempatan lagi berhubungan dengan Neyna.

Di luar, teman-temannya terlihat menggigil karena hal itu. Begitu juga dengan dirinya yang sudah menyatu kembali dengan dinding Notre Dame. Ia dan teman-temannya harus megalirkan air-air  dari lelehan salju sampai ke bawah, jangan sampai membasahi dinding katedral.

***


“Neyna anakku….” Neptunus memanggil Neyna dengan lembut.

“Ya, Paman…ada apa?”

“Musim semi hampir tiba, kau tak merasa kangen dengan kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu di Aegea sana? Aku bisa menyuruh salah satu pengawal saudara kembarku, Poseidon untuk menjemputmu kalau mau.”

“Mmm…tidak Paman, sepertinya musim semi kali ini aku ingin di sini saja. Akan ada temanku yang datang.”

“Hei…teman yang mana Neyna? Paman lihat, sejak kau ditugaskan menemaniku, belum pernah sekalipun Paman melihat ada temanmu yang berkunjung.”

“Paling-paling kau hanya bermain-main denagn Walrus dan Cupid-cupid ini,” lanjut Neptunus sambil menunjuk Walrus yang ditumpangi Neyna dan Cupid-cupid di pingiran kolam.

“Ya, paduka…..hihihi,” jawab Walrus dan para Cupid serentak sambil terkekeh mengejek Neyna.

“Ihh….kalian ini! Awas ya kalau temanku itu datang, akan kutinggal jalan-jalan kalian semua.”

“Ehm….sepertinya keponakanku ini sedang jatuh cinta,” Neptunus tersenyum dan menggoda Neyna.

“Sudahlah paman, jangan menggodaku seperti itu. Eh, lihatlah paman, salju-salju mulai meleleh. Ini berarti musim semi tak lama lagi akan datang,” Neyna tersipu kemudian mengalihkan perhatian Neptunus.

***


Sabtu siang di minggu pertama bulan Mei. Musim dingin sudah berganti dengan musim semi. Daun-daun mulai menghijau dan bunga-bunga mulai bermekaran. Di ujung selatan Piazza Navona, tepatnya di Fountain of Neptune, tempat Neyna sedang gelisah. Ya, ia menunggu Jerome. Pembicaraan di dunia maya pada musim dingin lalu menjadi pembicaraan pertama sekaligus terakhir bagi Neyna dan Jerome, karena sejak itu mereka tak pernah saling chatting lagi, pun berkirim email.

Sebenarnya Neyna masih selalu online, juga mengirim email pada Jerome, namun sama sekali tak ada balasan. ID Jerome di daftar teman messenger Neyna juga selalu berwarna abu-abu, tak pernah sekalipun terlihat berwarna kuning. Itulah yang membuat Neyna begitu gelisah.

Neyna sendiri tak mengerti dengan apa yang dirasakananya setelah mengenal Jerome. Ia menjadi sering melamun seorang diri. Sampai-sampai Neptunus dan para Cupid dibuat bingung olehnya.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba Neyna menggumam, “Akankah Jerome benar-benar mengunjungiku? Ini kan sudah musim semi.”

“Ahh…ada apa denganku ini? Sejak mengenal Jerome musim dingin lalu aku menjadi mellow seperti ini. Ini bukan aku yang selama ini. Biasanya aku nereid yang selalu ceria menemani Neptunus di kolam ini. Bermain-main dengan Walrus dan Cupid-cupid kecil ini.” Neyna masih berbicara sendiri.

Sementara penghuni kolam lainnya hanya bisa saling pandang dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Neyna.


Di pusat kota Paris……

“Hmm….aku sudah wangi nih, dan sebentar lagi aku akan berangkat menuju Roma, yihaaaaaaa……” Jerome berdiri di atas Notre Dame bersama teman-temannya dan tak sadar  berteriak sambil mengepakkan sayapnya yang besar.

“Sssssttt….kecilkan suaramu Jerome, aku ingin tidur siang. Kau jangan menggangguku,” protes salah satu temannya.

“Ups….maaf kawan, aku sedang bahagia ini. Setelah ini aku akan pergi menemui pujaan hatiku, dan kau lanjutkanlah tidurmu.”

“Ya, cepatlah kau pergi sana, suara kepakkan sayapmu itu sudah cukup membuatku berisik. Atau kau ingin aku meminta pada Pierre agar meminta kembali sayap itu??” ancam Hugo, teman Jerome tersebut.

“Jangan kawan! Kalau begitu aku akan pergi sekarang, doakan aku yaaaa….” Jerome meninggalkan Hugo dan terbang ke arah negeri berbentuk sepatu boots.


Kembali ke kota Roma…..

Tak lama kemudian Jerome sudah berada di Roma, ia masih berputar-putar diatasnya. Dilihatnya Basilica Saint Petrus, Colosseum, Olimpico Stadium, dan hohoho….ia juga sempat melintas di atas Sungai Tiber yang konon merupakan sungai tempat dibuangnya si kembar Romulus dan Remus sang pendiri kota Roma.

Jerome masih belum menemukan Neyna, ia tak tahu persis dimana Neyna berada, yang ia tahu Neyna berada di salah satu kolam air mancur yang ada di kota Roma. Tiba-tiba ia menukik ke bawah ketika melihat sebuah kolam yang begitu ramai dikunjungi oleh manusia, dan di kolam itu juga ada Neptunus. Trevi Fountain nama kolam itu, tapi ternyata Neyna tak ada di sana. Bukan kolam itu yang ia cari.

Sampai akhirnya tibalah ia di Piazza Navona, salah satu ruang publik di Roma. Di sana ada dua kolam air mancur, di sebelah utara dan selatan. Ia lebih dulu menengok ke kolam yang di sebelah selatan, Fontana del Moro.

“Neyna, di manakah kau? Mengapa tak ada di sini juga? Bukankah aku ini sudah di Piazza Navona?” Jerome mulai sedikit patah semangat

Namun ternyata patah semangat Jerome hanya beberapa menit saja, karena kemudian ia terbang kembali ke arah utara Piazza Navona, dan didapatinya di sebelah sana ada satu kolam air mancur lagi. Dan ia sangat yakin kalau itulah tempat yang ia cari, manakala ia melihat seorang gadis yang sedang melamun di atas Walrus.

Jerome sedikit menukik ke bawah ketika ia tepat berada di atas Fountain of Neptune. Dan tiba-tiba perempuan di atasnya itu berseru, “Jeromeeeee…..kau pasti Jerome, kan?”

“Hihihi….kau Neyna ya? Kau sangat cantik. lebih cantik dari yang kubayangkan.”

“Kau ini….wajar saja kalau aku cantik, aku kan nereid, salah satu peri laut. Dan kau Jerome, ternyata tidak seganteng yang aku bayangkan.”

“Neyna….”

“Tunggu dulu….kau memang tak seganteng yang aku kira, tapi kau benar-benar keren Jerome. Kau gagah sekali dengan sepasang sayap di punggungmu itu.”

“Hmm…aku tahu, kau mengatakan itu agar aku mengajakmu jalan-jalan di atas punggungku ini kan?” selidik Jerome

“Hahahahaha…kau tahu saja, Jerome…”

“Oh iya, perkenalkan…ini Paman Neptunus yang menguasai seluruh perairan di seluruh dunia ini, tentunya bersama saudara-saudara kembarnya yang lain,” Neyna menjelaskan tentang Neptunus dengan asal-asalan.

“Halo Paman, aku yakin pasti Paman ini mengenal Atlas juga, bukan?” Jerome mengulurkan tangannya pada Neptunus.

“Ya anak muda, aku memang mengenal Atlas, dia adalah...” suara Neptunus tertahan oleh sahutan Neyna yang tiba-tiba.

“Stop!! Jawabnya sampai itu saja, Paman. Aku tak sabar ingin ikut berkeliling dengan Jerome.”

“Baiklah, ayo kita mulai petualangan ini. Paman Neptunus, aku pinjam Neyna sehari saja yaaaaaaaa……” Jerome berpamitan pada Neptunus dan langsung menyambar Neyna, kemudian meletakkan di atas punggungnya.

Neptunus hanya bisa melongo melihat Neyna dan Jerome yang meninggalkannya begitu cepat.

***


“Kemana kita akan pergi, Neyna?”

“Terserah kau saja, Jerome. Pokoknya aku ingin ke tempat yang baru, yang jauh dari Roma, juga dari kota asalmu, Paris. Tapi sebelumnya aku ingin tahu, apakah manusia-manusia itu bisa melihat kita?”

“Hahahahah….tentu saja tidak, kita bebas berjalan di manapun tanpa khawatir mereka ketakutan melihat wujud kita yang tak manusiawi ini.”

“Ok, sepertinya aku tahu tempat yang menarik. Kuatkan peganganmu Neyna,” lanjut Jerome yang kemudian terbang dengan kencang ke arah utara.

Akhirnya tibalah mereka berdua di kota yang meskipun musim semi tetap terasa dingin, Helsinki. Mereka berdua menukik ke bawah.

“Di manakah ini, Jerome?”

“Tempat ini bernama Esplanadi, ini juga ruang publik, sama seperti Piazza Navona di kotamu. Tapi suasana di sini berbeda dengan di Roma ataupun Paris.”

“Iya, tempat ini sejuk dan banyak pepohonan.” angguk Neyna

“Ney….lihatlah di ujung Timur itu. Ada kolam air mancur juga.”

Tanpa menjawab, Neyna sudah berjalan ke arah kolam yang berhiaskan patung anjing laut di tepinya, sementara di tengahnya menjulang patung perunggu berwujud perempuan telanjang yang begitu anggun. Hampir mirip dengan Neyna, patung itu bernama Havis Amanda.

“Cantik sekali patung ini,” Neyna mengagumi patung itu sambil duduk di tepi kolam dan mendongakkan kepalanya mengagumi Havis Amanda.

“Neyna, aku masih belum percaya akhirnya kita bisa bertemu. Maafkan aku, sejak saat itu aku tak pernah online lagi. Aku harus melaksanakan tugasku sebagai gargoyle di akhir musim dingin,” tiba-tiba Jerome menggenggam tangan Neyna.

“Tak mengapa, Jerome. Yang penting kau tak mengingkari janjimu untuk mengunjungiku di musim semi, bahkan saat musim semi benar-benar baru tiba. Aku senang Jerome….” Neyna membalas genggaman tangan Jerome dan memandang lembut ke arahnya.

“Kau tahu Jerome? Di akhir musim dingin aku lebih sering melamun, memikirkan dirimu. Hahahahah…mungkin ini terdengar aneh tapi begitulah kenyataannya."

“Begitu juga denganku, aku menahan dingin di dinding Notre Dame dengan membayangkan dirimu, hihihi….”

“Tapi ada yang harus diingat Jerome,” Neyna menunduk sedih.

“Apa itu?”

“Kau tahu, kita tak mungkin akan bersatu. Kita hidup di jaman yang berbeda. Kau dari jaman abad pertengahan, sedangkan aku sudah hidup sejak jaman kuno, sejak jaman peradaban manusia ini dimulai. Dan kita juga memiliki tugas masing-masing yang tak mungkin ditinggalkan, Jerome.” Mata Neyna berkaca-kaca.

“Ya, aku tahu betul Neyna. Dewa telah mengutusmu untuk menemani Neptunus menjaga kedamaian di perairan dan juga melindungi para pelaut atau nelayan, sedangkan aku diciptakan untuk melindungi sebuah bangunan agar tak lapuk karena air. Pada dasarnya kita sama-sama berhubungan dengan air, Ney….” Jerome menarik tubuh Neyna ke dalam pelukannya.

“Seperti ini saja sudah membuatku senang, Ney. Selama ini aku tak pernah mengenal yang namanya seorang perempuan. Semua gargoyle adalah laki-laki,” Jerome melanjutkan pembicaraannya.

“Semua nereid juga perempuan. Sebelum kau, laki-laki yang kukenal hanyalah ayahku Nereus, Poseidon atau Neptunus sang penguasa laut dan Cupid-cupid kecil yang ada di kolamku.”

Hening. Hanya semilir angin yang melingkupi mereka berdua. Mereka tak sadar kalau Havis Amanda menyimak pembicaraan di belakang mereka.

“Hai anak-anakku….aku ikut bersedih dengan apa yang kalian alami. Tapi menurutku, kalian janganlah menyesali keadaan ini. Cinta memang tak harus saling memiliki. Kalian bisa membagikan cinta itu pada makhluk-makhluk lain. Manusia misalnya, kau Neyna…teruslah menjadi pelindung para nelayan di lautan. Dan kau, Jerome….teruslah melindungi katedral-katedral yang masih ada agar manusia-manusia bisa tetap menggunakannya untuk mengunjungi dan mengingat Tuhannya. Itulah cinta yang sesungguhnya." 

Mendengar wejangan Amanda, Jerome dan Neyna saling pandang penuh arti dengan tangan saling menggenggam. Bersamaan mereka mengucapkan, “Benar, cinta memang tak harus memiliki….kami sadar akan kodrat kami dan bagaimanapun dewa-dewa juga tak akan pernah mempersatukan kami."

***


Kala itu hampir senja, terlihat semburat jingga di langit negeri seribu danau itu, semilir angin menampar-nampar wajah. Dan di ujung Timur Esplanadi, tampak sepasang makhluk tak manusiawi saling berpelukan.

aku tak berani berharap
aku tak berani membayangkan yang lebih jauh
seperti ini saja sudah cukup bagiku
seperti ini saja sudah cukup membuatku bahagia
karena itu….
aku tak ingin semua ini segera berakhir
aku tak ingin semua ini musnah
aku hanya ingin kami selalu bersama
mengarungi indahnya dunia ini…..




*gargoyle : nama patung berwujud monster yang biasanya ada di atap katedral, fungsinya sebagai jalan air hujan agar tidak membasahi dinding katedral secara langsung.

**nereid : peri laut yang berjumlah 50 dalam mitologi Yunani, merupakan makhluk yang ramah dan sering menolong para pelaut dan nelayan dalam menghadapi badai, patung nereid sering disandingkan dengan Neptunus atau Poseidon sang penguasa lautan.

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates