aneka hidangan dalam sebuah makan bersama (dok. pngtree)
Makan bersama keluarga atau teman-teman seringkali dianggap sebagai kegiatan yang sederhana. Padahal, di balik kesederhanaannya, ada keistimewaan yang jarang kita sadari, lho. Momen tersebut bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga tentang menjalin hubungan atau silaturahmi, menciptakan kenangan, dan sebagainya.
Sebenarnya, tradisi makan bersama sudah diperkenalkan semenjak era pemerintah Hindia-Belanda, yaitu melalui rijsttafel, yang secara harafiah memiliki arti "meja nasi". Iya, nasi menjadi hidangan utama yang harus ada dalam budaya yang dulunya dilakukan oleh keluarga Belanda, atau campuran Belanda dan Indonesia tersebut. Namun uniknya, menu-menu di sekeliling nasi dan memenuhi meja makan justru keragaman masakan khas Nusantara yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Dan selain nasi, sambal juga wajib ada di atas meja.
Budaya itu lantas berkembang sebagai perjamuan mewah untuk menunjukkan prestise para kalangan atas, dengan mengundang sesama elite juga. Kini, untuk menikmati makan bersama, entah ala rijsttafel ataupun bukan, kita bebas melakukannya, tanpa harus menjadi kalangan bangsawan. Tempatnya pun tak harus di rumah, bisa di restoran mewah hingga di warung pinggir jalan.
Kembali pada keistimewaan momen makan bersama, beberapa hal yang sempat disebutkan di atas akan kubahas satu-persatu. Simak, ya!
Ada Hubungan atau Silaturahmi yang Terjalin dalam Makan Bersama
Saat makan bersama, memungkinkan kita untuk berbagi sepiring cerita, semangkuk tawa, serta berteguk-teguk pengalaman melalui obrolan yang terjadi di sela-sela makan maupun sesudahnya.
Dari momen tersebut, kita dapat mengenal dan memahami satu sama lain dengan lebih baik, serta meningkatkan keharmonisan dalam hubungan keluarga ataupun pertemanan.
Makan Bersama Dapat Mengurai Stres dan Mempebaiki Kualitas Hidup
Dengan makan bersama sembari berbagi cerita, sejenak kita dapat melepaskan beban pikiran dari rutinitas pekerjaan yang terus memburu, dan merasa lebih santai.
Selain itu, kita dapat saling mengingatkan dan sharing akan pentingnya asupan makanan serta kandungan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Hal tersebutlah yang kemudian akan berimbas pada perbaikan kualitas hidup terkait kesehatan.
Menciptakan Kenangan Tak Terlupakan dari atas Meja Makan
Ada hal-hal yang pasti tak terlupakan dalam momen makan bersama, kemudian menjadi cerita yang akan dikenang seumur hidup, baik dari hidangan yang disantap maupun orang-orang yang berada di sekeliling meja makan.
Terlebih bagi usia anak-anak, makan bersama orang tua atau keluarga besar akan memberikan kenangan manis yang terbawa hingga dewasa.
Makan Bersama pun Bisa Mempererat Ikatan Sosial dan Budaya
Contohnya, dalam salah satu kelompok pertemananku yang para anggotanya memiliki kesamaan gemar jajan. Selain asal Jogja, ada beberapa dari kami yang dari luar Jogja, bahkan luar Jawa.
Biasanya, saat jajan atau makan bersama, menjadi sebuah kesempatan untuk saling mengenalkan tradisi dan budaya terkait gastronomi kampung halaman masing-masing. Secara tidak langsung, hal tersebut pun turut melestarikan warisan budaya.
sebuah momen makan bersama teman-teman (dok. pribadi)
Keseimbangan dalam makan bukanlah tentang kandungan nutrisi atau gizi di isi piring saja, melainkan juga bersama siapa kita menikmatinya, pun bagaimana perjalanan makanan tersebut hingga dapat tersaji di atas meja makan.
Setiap momen makan bersama selalu berharga. Sepiring cerita di meja makan tak hanya menciptakan kenangan indah, tetapi ada hal-hal istimewa yang saling terhubung lantas mampu membuat masa depan cerah. Karena, selain memengaruhi perut, kegembiraan juga mengiringi. Pada akhirnya, selain raga sehat, jiwa pun afiat. Kondisi jiwa dan raga yang baik adalah modal utama dalam menggeluti pekerjaan, di bidang apa pun.
Yuuk, jadikan tradisi makan bersama sebagai momen yang selalu dinanti-nanti karena keistimewaannya!
***
**Tulisan ini sebelumnya juga tayang di akun Kompasiana-ku.
Punya hobi memasak memang menyenangkan, apalagi kalau sambil dikontenin. Namun, ada saja hal yang menyebalkannya. Setidaknya ada dua hal yang bikin sebal dari aktivitas memasak. Pertama, perihal mencuci berbagai peralatan dapur setelah digunakan memasak. Selanjutnya, perkara residu yang berupa asap, bau, atau uap minyak yang dihasilkan saat proses memasak. Bener, nggak?
Masalah cuci-mencuci mudah diatasi selama air masih mengalir. Sedangkan residunya? Kalau dibiarkan terus-menerus, bisa menempel di dapur serta butuh effort lebih untuk membersihkannya. Dan, hal yang langsung dirasakan ialah dapur jadi terasa pengap, bahkan kadang sampai menyebar ke seluruh ruangan rumah.
Salah satu solusi modern untuk mengatasi masalah perasapan dapur saat memasak ialah Rinnai Cooker Hood, produk penyedot asap dapur yang bagus dan sudah digunakan banyak orang.
Sekilas Tentang Cooker Hood
Biasa juga disebut penghisap asap dapur, cooker hood merupakan perangkat dapur yang dipasang di atas kompor. Fungsinya untuk menyedot asap, uap minyak, serta aroma makanan ketika memasak. Selain membuat dapur lebih bersih dan segar, juga menjaga kesehatan karena kamu tak lagi menghirup asap berlebihan.
Rinnai sebagai salah satu merek peralatan dapur ternama menghadirkan berbagai jenis cooker hood berdesain modern, cocok untuk yang menginginkan dapur rapi, sehat, serta bernuansa elegan.
Jenis Cooker Hood Rinnai
Ada dua jenis cooker hood yang ditawarkan Rinnai sesuai kebutuhan dapur kamu.
Salah satu tipe Rinnai Cooker Hood menggunakan cerobong.
1. Cooker Hood dengan Cerobong
Bekerja dengan memanfaatkan pipa atau saluran khusus untuk membuang asap, uap, serta bau masakan langsung ke luar ruangan. Sangat efektif karena udara kotor benar-benar dikeluarkan, bukan hanya disaring.
Tipe dengan cerobong cocok pula dipasang di rumah yang memiliki dapur terbuka atau bangunan dengan akses ventilasi ke luar. Sirkulasi udara pun lebih sehat dan dapur tetap segar meski sering digunakan memasak makanan dengan aroma kuat atau menghasilkan banyak asap.
2. Cooker Hood Tanpa Cerobong (Recirculating)
Tipe ini sangat populer, terutama untuk hunian modern seperti apartemen. Sistemnya menyaring asap menggunakan filter karbon, kemudian mengeluarkan udara yang sudah bersih kembali ke dapur. Tidak perlu membuat saluran pembuangan, sehingga pemasangan lebih praktis.
Jika kamu mencari cooker hood tanpa cerobong, Rinnai punya banyak pilihan dengan teknologi penyaringan yang efektif dan variasi harga.
Keunggulan Rinnai Cooker Hood
Rinnai sering menjadi pilihan utama banyak keluarga yang membutuhkan cooker hood. Bukan tanpa alasan, produk buatan Rinnai menawarkan kombinasi antara kualitas, desain, dan fungsionalitas yang sulit ditandingi oleh merek lain.
Agar lebih jelas, berikut penjelasan lengkap tentang berbagai keunggulannya:
1. Desain Elegan dan Modern
Salah satu daya tarik terbesar dari Rinnai adalah tampilannya yang elegan. Dengan desain ramping, alat ini mampu menyatu dengan berbagai konsep kitchen set, mulai dari minimalis hingga modern klasik.
Ada pula varian yang menggunakan material tempered glass dan stainlesssteel berkualitas tinggi. Tak hanya membuat dapur terlihat lebih mewah, bahan tersebut pun kokoh, tahan panas, serta mudah dibersihkan.
2. Fitur Penyaringan Ganda
Keunggulan berikutnya terletak pada sistem penyaringan ganda yang terdiri dari:
✓Filter Minyak (Grease Filter) yang berfungsi menangkap partikel lemak dari asap masakan, sehingga uap minyak tidak menempel di dinding atau perabot dapur.
✓Filter Karbon Aktif yang digunakan khusus pada tipe tanpa cerobong untuk menyaring bau tidak sedap dan mengembalikan udara yang lebih segar ke ruangan.
Kombinasi dua filter tersebut menjadikan dapur tetap bersih, sehat, dan terbebas dari aroma menyengat yang muncul saat atau setelah memasak.
3. Hemat Energi
Banyak yang khawatir penggunaan cooker hood akan menambah beban listrik. Namun, Rinnai membuktikan bahwa produknya tetap ramah energi. Mesin penghisap asapnya didesain efisien. Alih-alih boros, konsumsi listriknya tetap rendah meski digunakan setiap hari. Kamu bisa tetap nyaman memasak tanpa perlu takut tagihan listrik melonjak drastis.
4. Cocok untuk Semua Tipe Dapur
Ukuran dapur bukan lagi masalah jika kamu memilih Rinnai. Produk ini hadir dalam berbagai pilihan ukuran, mulai dari 60 cm untuk dapur kecil hingga 90 cm untuk dapur besar. Sesuaikan dengan kebutuhan ruang, sehingga dapur kecil tetap rapi dan dapur besar semakin fungsional.
5. Mudah Dirawat
Salah satu hal penting dalam memilih cooker hood adalah kemudahan perawatan. Rinnai mempermudah kamu dengan desain filter yang bisa dilepas. Filter minyak dapat dicuci secara berkala menggunakan air hangat atau sabun cuci piring, sehingga performa tetap optimal.
Sedangkan untuk tipe tanpa cerobong, filter karbonnya juga bisa diganti secara praktis sesuai anjuran. Dengan perawatan sederhana ini, cooker hood akan awet digunakan bertahun-tahun.
Tips Memilih Cooker Hood Rinnai yang Bagus
Sebelum membeli, perhatikan beberapa hal berikut agar tidak keliru pilih:
Contoh penempatan cooker hood di dapur.
1. Ukuran
Sesuaikan dengan ukuran kompor. Umumnya, ukuran cooker hood 60 cm cocok untuk kompor dua tungku, sementara ukuran 90 cm untuk kompor tiga tungku.
2. Tipe Cerobong atau Tanpa Cerobong
Jika rumah kamu memungkinkan membuat saluran udara, pilih tipe cerobong. Jika tidak, maka tipe tanpa cerobong adalah pilihan paling praktis.
3. Daya Hisap (Suction Power)
Gunakan minimal 500 m³/jam agar asap benar-benar tersedot dengan baik.
4. Desain dan Warna
Pilih desain yang bagus sesuai gaya dapur kamu, apakah minimalis, modern, atau klasik.
5. Budget
Berapa pun anggaran yang dimiliki, Rinnai menyediakan banyak varian dengan harga kompetitif.
Cara Merawat Rinnai Cooker Hood
Agar awet, jangan lupa lakukan perawatan rutin yang meliputi:
✓Bersihkan filter minyak setiap dua minggu sekali.
✓Ganti filter karbon pada tipe tanpa cerobong setiap 6-12 bulan sekali.
✓Lap bagian luar dengan kain lembut agar tetap mengkilap.
✓Gunakan sesuai petunjuk agar motor penghisap tidak cepat rusak.
Rinnai Cooker Hood Jadi Pilihan yang Tepat
Siapa, sih, yang tak ingin punya dapur bersih, sehat, dan nyaman. Rinnai Cooker Hood merupakan pilihan tepat. Tipe cerobong ataupun tanpa cerobong punya keunggulan masing-masing. Produk ini memang dirancang khusus untuk membantu mengatasi masalah klasik di dapur, mulai dari asap, uap, hingga bau masakan yang sering menempel.
Tak heran banyak keluarga modern yang menjadikan cooker hood dari Rinnai sebagai andalan. Pastinya, produk ini sudah terbukti tahan lama, mudah dirawat, dan banyak mendapat review positif dari pengguna.
Memilih Rinnai Cooker Hood yang banyak direkomendasikan bukan hanya menjaga kesehatan keluarga, tapi juga membuat dapur terlihat lebih modern.
Cooker hood di dapur minimalis dengan kompor dua tungku.
Hadir sebagai solusi dapur modern untuk mengatasi asap dan bau tidak sedap, Rinnai Cooker Hood menawarkan tipe cerobong dan tanpa cerobong yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kamu. Produk ini memiliki desain elegan, hemat energi, dan mudah dirawat.
Berdasarkan berbagai review, banyak pengguna puas karena produk ini efektif, awet, dan meningkatkan kenyamanan dapur. Jadi, jika kamu mencari cooker hood yang bagus, Rinnai bisa menjadi pilihan terbaik untuk hunian kamu. Dapatkan Rinnai Cooker Hood hanya di Distributor Rinnai resmi terdekat.
konsep rijsttafel, meja penuh makanan (dok. pribadi)
Menikmati jamuan makan dengan konsep table manner di hotel atau restoran merupakan suatu hal lumrah pada masa kini. Sebagai tamu, kita cukup duduk manis, makanan akan disajikan satu-persatu untuk dinikmati. Tapi, kalau makanannya sudah dihidangkan semua hingga memenuhi meja, kamu pernah merasakannya?
Nah, beberapa waktu lalu, pada sebuah sore aku merasakan pengalaman tersebut. Bersama teman-teman blogger dan influencer Jogja. Kami kumpul cantik sembari ngobrol sana-sini, mengelilingi meja yang penuh makanan, dari pembuka, menu utama, dan penutupnya sudah tersaji semua di meja makan.
Sekilas Rijsttafel, Jamuan Makan ala Hindia-Belanda
Konsep tersebut dinamakan rijsttafel, sebuah budaya makan bersama yang muncul sejak Hindia-Belanda atau era pemerintahan kolonial. Secara harafiah, rijsttafel memiliki arti "meja nasi". Nasi menjadi hidangan utama yang harus ada dalam budaya makan bersama yang dulunya dilakukan oleh keluarga Belanda, atau campuran Belanda dan Indonesia.
Budaya tersebut lantas berkembang sebagai perjamuan mewah untuk menunjukkan prestise para kalangan atas, dengan mengundang sesama elite juga.
Namun serunya, sekarang kita bisa menikmati makan bersama ala rijsttafel tanpa harus menjadi kalangan bangsawan. Kalau kamu wong Jogja, kini ada sebuah hotel yang menawarkan jamuan makan istimewa penuh kehangatan, kebersamaan, dan tentunya hidangan.
Rasa Nusa, a Taste of Nusantara Heritage
Demikianlah tema yang diangkat hotel ini untuk mempersembahkan uniknya pengalaman makan bersama bak keluarga Belanda di Indonesia pada masa lampau. Oh iya, tadi belum kusebutkan kalau budaya yang diciptakan oleh kolonial ini meskipun bermula di kalangan keluarga Belanda, tetapi menu-menunya justru dari Nusantara semua. Apa pun masakannya, pokoknya berasal dari seluruh penjuru negeri. Dan selain nasi, sambal juga wajib ada di atas meja.
Dari pertemuan budaya Belanda dan kekayaan kuliner Nusantara, sore itu kami berkesempatan menikmati beragam kuliner berbagai daerah, pada waktu yang sama, tanpa harus pergi ke tempat asal makanan-makanan itu.
Apa saja yang kami nikmati? Kuliner Jawa yang penuh cerita menjadi hidangan yang disajikan, terutama yang berasal dari Jogja dan Jawa Tengah. Lebih detailnya, simak penjelasanku di bawah, yuk!
1. Garang Asem Ayam
Menyuguhkan rasa gurih dan asam yang berpadu dalam kuah menyegarkan, menu ini memiliki potongan ayam yang cukup besar dan empuk. Meski bersantan, kesegaran kuah garang asem berasal dari tomat hijau dan paprika, atau cabai teropong. Akan lebih segar kalau ditambahkan belimbing wuluh.
segarnya garang asem ayam (dok. pribadi)
Pada paket lainnya, isian dalam garang asem ini bisa juga diganti dengan daging sapi. Kamu bisa memilihnya sesuai selera serta budget.
2. Mangut Ikan Manyung
Kuliner ini berasal dari Jawa Tengah yang terletak di pesisir pantai utara, yakni Pati dan Semarang. Kuah pedas beraroma smokey yang khas muncul dari daging ikannya, menghadirkan kekuatan cita rasa khas pesisir Laut Jawa.
mangut ikan manyung yang bikin ketagihan (dok. pribadi)
Menggunakan bumbu rempah yang kaya dan meresap sempurna ke dalam ikan, mangut ikan manyung ini menawarkan sensasi rasa yang membuat lidah serasa dimanjakan dan membuat ketagihan.
3. Sate Klathak Gantung
Sebagai orang Jogja, siapa yang tak kenal sate yang disajikan dengan keunikan tersendiri, yaitu tusuknya menggunakan jeruji besi. Makanan khas Bantul tersebut seolah menjadi salah satu kuliner yang harus diburu wisatawan ketika berkunjung ke Jogja.
bumbu sederhana, rasa tak terlupakan, hanya ada di sate klathak (dok. pribadi)
Meski bumbunya sederhana, cita rasa yang dihasilkan sangat autentik menyatu dengan empuk serta lembutnya daging kambing setelah terkena bara arang. Aromanya terus memanggil untuk segera melahapnya. Dan yha, satu tusuk tak akan cukup!
4. Sayur Lodeh Jantung Pisang
Aku menyebutnya ontong. Bukan kali pertama merasakan bagian dari pohon pisang berkulit luar warna merah tua tersebut dimasak sebagai sayur. Namun, kalau sebagai sayur lodeh baru menikmatinya sore itu. Jantung pisang memang tak pernah gagal untuk diolah menjadi masakan.
lodeh jantung pisang favoritku! (dok. pribadi)
Dalam semangkuk lodeh jantung pisang, aku menemukan kehangatan khas rumah simbah. Rasanya ngangenin, dan saat menyuapkan ke dalam mulut, ada perasaan nostalgia yang tiba-tiba muncul. Juara banget chef-nya!
5. Aneka Kudapan Jajan Pasar
Pisang karamel, klepon, mata kebo, dan putri mandi menjadi kudapan-kudapan yang menemani menu utama kala itu.
Jajanan pasar merupakan cermin sederhana dari kearifan budaya Nusantara yang keberadaannya sangat dekat dengan kita, karena masih mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional.
aneka jajanan pasar (dok. pribadi)
Semuanya merupakan favoritku. Selain warna-warnanya begitu menarik, pada setiap gigitan juga tersimpan kisah tentang tradisi serta cinta akan rasa asli Indonesia. Lebih dari sekadar kudapan, jajanan-jajanan tersebut seolah mesin waktu yang mampu membawa pada kenangan masa kecil yang tak lekang oleh waktu.
6. Es Selendang Mayang dan Bir Pletok
Sebagai penutup atau dessert, sudah tersaji es selendang mayang serta bir pletok. Wow! Kebayang, kan, bagaimana segar dan hangatnya.
Es selendang mayang dengan warna-warni tepung hunkwe dan kuah santan manis, serta irisan nangka yang wanginya menguar, lagi-lagi membawaku pada memori lampau, masa duduk di bangku sekolah. Sedangkan hangatnya bir pletok dengan aroma kayu secang dan kayu manis yang mendominasi membuat tenggorokan terasa lega.
Harga dan Cara Menikmati Paket Rijsttafel Rasa Nusa
Banyaknya sajian menu tersebut masih dilengkapi dengan makanan pembuka, soto ala Jogja berciri khas kuah bening. Pun tersedia pilihan minuman berupa kopi, teh, dan air putih yang tak boleh ketinggalan. Sebagai pelengkap untuk menemani obrolan bersama orang-orang tersayang, di atas meja tersedia juga klethikan semprong dan kembang goyang. Lengkap banget!
Coba tebak, pengalaman menikmati makan bersama dengan menu sebanyak itu di restoran hotel berbintang, bisa didapatkan dengan harga berapa? Seratus ribu? Wah, kamu keliru.
Segala rupa menu di atas cuma dibanderol mulai dari Rp65.000 per pax. Dan, yang dihidangkan pada kami tersebut merupakan harga minimalnya. Sudah dapat sebanyak itu, lho. Bayangkan kalau memilih paket dengan harga di atasnya, variasi menunya akan lebih spesial.
minimal 4 orang, sudah bisa menikmati jamuan istimewa (dok. hotelicius)
Di hotel mana, sih? Dari tadi cerita terus, belum disebutkan nama hotelnya. Jadi, kamu bisa mendapatkan uniknya pengalaman menikmati kuliner berbagai daerah dari satu meja saja tersebut di Dhaharan Restaurant, 1O1 Urban Heritage Hotel, yang terletak di Jalan Jogokaryan No. 82 Yogyakarta.
Bisa dinikmati setiap hari dengan reservasi terlebih dahulu, setidaknya H-1, dan berlaku pemesanan minimal empat pax. Untuk reservasi, dapat menghubungi nomor 0274-372500 atau melalui DM Instagram.
Tentang 1O1 Urban Heritage Yogyakarta
Terletak hanya lima menit dari pusat Kota Jogja, hotel ini cukup dekat dengan berbagai destinasi wisata populer serta kawasan kuliner. Selain itu, lingkungan sekitarnya pun aman dan nyaman. Satu jalan dengan Masjid Jogokaryan yang sangat kondang.
syahdunya area pool side di waktu malam (dok. pribadi)
1O1 Urban Heritage Yogyakarta merupakan branding baru dari Lynn Hotel by Horison. Lokasinya sangat dekat dengan tujuan wisata yang kalau sedang di Jogja susah untuk dilewatkan begitu saja. Sebut saja Kawasan Prawirotaman, Keraton Yogyakarta, Tamansari, Kawasan Malioboro, Gembira Loka Zoo, dan berbagai museum yang tersebar di Jogja, bisa dijangkau dengan mudah dari hotel yang dekat dengan Panggung Krapyak ini, salah satu komponen Sumbu Filosofi yang telah disahkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak-benda (WBTB).
Hotel berkonsep heritage serta mengusung green hotel tersebutmemiliki total 112 kamar yang terbagi dalam beberapa tipe. Area hotel dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kolam renang, restoran, musala, dan sebagainya. Hotel ini juga memiliki fasilitas seperti meeting room, dan ballroom yang bisa digunakan untuk pesta pernikahan atau acara lainnya.
Minimal sekali seumur hidup, rasakanlah pengalaman makan bersama yang berbeda serta istimewa ala keluarga Hindia-Belanda. Tak hanya makan bersama, tetapi menjelajah rasa Nusantara, yang semuanya dihadirkan dalam satu meja. Setiap suapan membawa kisah dari daerah masing-masing, membuat siapa pun bisa merasakan kekayaan kuliner Indonesia tanpa bepergian jauh.
Untuk menikmati jamuan rijsttafel, tak harus saat ada momen atau acara khusus. Kamu bisa mengajak keluarga, bestie, geng arisan, atau orang-orang terdekat lainnya untuk menikmati pengalaman makan bersama yang istimewa dan beda dari biasanya ini. Justru, menikmatinya akan lebih seru kalau dalam suasana santai, sembari ngobrol apa saja. Kebersamaan dan kehangatannya pasti akan lebih terasa.
suasana demo di Jogja yang terpusat di UGM, syukurlah berlangsung damai (dok. cakrawala.co)
Terlepas dari adanya provokasi atau penyusup di dalam demo yang berakibat rusaknya beberapa fasilitas umum, faktanya kelakuan masyarakat yang berunjuk rasa memang banyak yang barbar. Lagipula, penyusup tak bakalan ada kalau aksi massa tak terjadi. Intinya, para pendemo tetap ada kelirunya menunurutku, apalagi penyusup yang memanfaatkan momen tersebut.
Menyampaikan aspirasi boleh saja, tetapi sudahlah tak perlu turun ke jalanan yang mengundang orang-orang tak bertanggung jawab dengan menunggangi aksi tersebut. Masyarakat Indonesia ini mudah diprovokasi, ditambah lagi sedang dalam keadaan penuh amarah.
Iya, aku tahu, sejarah mengatakan banyak perubahan berawal dari aksi massa atau unjuk rasa di jalanan, tetapi kalau di masa kini ada imbas lain yang merugikan kepentingan banyak orang, gimanatuh? Rasanya sedih dan sangat kecewa saat tahu banyak fasilitas umum seperti halte, museum, dan sebagainya, juga kantor-kantor yang mengalami kerusakan karena dibakar atau sengaja dirusak, bahkan menimbulkan korban jiwa. Entah dilakukan oleh pendemo atau penyusup, rusak ya rusak aja.
unjuk rasa berujung rusuh, terjadi di banyak kota Indonesia (dok. beritasatu.com)
Memangnya, dengan berbuat demikian lantas bisa menyelesaikan masalah yang dituntut? Yang ada malah menimbulkan masalah baru. Aku bukannya tak punya kepedulian atau rasa nasionalisme. Aku hanya benci kekerasan, aku benci kerusuhan!
Kalau ditanya, apa aku tak marah "diperlakukan" tidak adil oleh keadaan saat ini, yang dikuasai oleh orang-orang (katakanlah) jahat? Hahaha, aku hanya bisa tertawa getir. Selama hidup, aku sudah mendapatkan begitu banyak ketidakadilan (versiku). Seolah sudah kebal, atau mungkin mati rasa--entahlah, aku jadi seperti tak peduli.
Meski begitu, kalian para pendemo, saling jagalah dan berhati-hatilah. Barangkali di depan sana kian banyak hal yang perlu disuarakan serta hak-hak yang harus dituntut.
Peserta GESIT di depan area Situs Kerta (dok. Museum Pleret)
Hampir dua pekan lalu, tepatnya 16 Agustus 2025, aku berkesempatan mengikuti "Gowes Situs" alias GESIT yang dihelat rutin per bulan oleh Museum Pleret. Kegiatan ini merupakan jelajah situs-situs di kawasan Kerta dan Plered yang merupakan bekas ibu kota Mataram Islam setelah Kotagede. Kawasan tersebut saat ini secara administratif berada di Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Situs Kerta dan Penemuan Umpak Raksasa-nya
Dengan dresscode bernuansa merah-putih karena event kali itu sekaligus memeriahkan HUT RI 80 tahun, kami mengawali penjelajahan ke Situs Kerta. Sebuah situs yang mengandung peninggalan arkeologis Mataram Islam di masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1646).
Sebelum start, foto di halaman Museum Pleret (dok. Museum Pleret)
Lokasi yang kami kunjungi saat itu, dulunya diperkirakan sebagai bangunan Sitihinggil atau "Lemah Dhuwur" dari Keraton Kerta. Di area situs terdapat umpak yang sejauh penemuan di Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kerta-Plered merupakan yang terbesar.
Umpak merupakan bagian bawah dari saka atau tiang kayu yang berfungsi untuk menyangga bangunan. Bisa dibayangkan dari ukuran umpak yang ditemukan, seberapa besar saka dan bangunan yang dulu merupakan bagian Keraton Kerta tersebut.
Di belakang-atas kami ialah umpak terbesar yang ditemukan (dok. Museum Pleret)
Saat penemuan, hanya terdapat tiga umpak. Kini, dua umpak berada di Situs Kerta dan satu lagi digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk tiang penyangga di Masjid Soko Tunggal yang dekat dengan objek wisata Tamansari.
Dari Fondasi Benteng Hingga Pabrik Gula Kedaton-Plered
Berpindah ke situs selanjutnya ialah sisa fondasi benteng baluwarti (benteng terluar) sisi timur dari Kedaton Plered. Dalam sebuah catatan, disebutkan bahwa benteng tersebut tingginya 5-6 meter dengan ketebalan 2,8 meter.
Pada masa Perang Jawa, area bekas kedaton masih memiliki benteng tinggi itu, sehingga sempat digunakan sebagai benteng pertahanan pasukan Diponegoro saat diserang oleh tentara Hindia-Belanda, 9 Juni 1826.
Menyimak edukator yang menjelaskan tentang bekas benteng baluwarti sisi timur Kedaton Plered (dok. Museum Pleret)
Sekitar tahun 1891, komponen sisa benteng dan bagian istana Kedaton Plered diambil dan dimanfaatkan sebagai bahan material pembangunan Pabrik Gula Kedaton-Plered. Sedangkan bekas jalur benteng diperkirakan sempat digunakan untuk landasan jalur rel kereta lori dari kebun-kebun tebu menuju pabrik gula. Sayangnya, keberadaan pabriknya tak bersisa sama sekali, dan menjelma sebuah lapangan.
Antakapura, Kesyahduan Makam Seorang Ratu
Melewati jalanan yang di kanan-kirinya area persawahan, eksplorasi kami berlanjut ke Antakapura yang berada di atas Gunung Kelir dengan ketinggian 99 mdpl. Sepeda tidak bisa atau lebih tepatnya tidak boleh dibawa sampai atas. Untuk menuju ke sana, kami harus melewati puluhan anak tangga.
Tempat tersebut merupakan kompleks permakaman, di dalamnya terdapat makam Ratu Mas Malang, salah satu selir dari Sunan Amangkurat I yang konon merupakan kesayangan beliau. Selain mendapati nisan Ratu Mas Malang, kami juga menjumpai 22 nisan lainnya yang terbagi dalam tiga lokasi.
Di depan gerbang Antakapura (dok. Museum Pleret)
Kompleks itu dikenal juga sebagai Situs Makam Ratu Malang, mulai dibangun tahun 1665 dan selesai pada 11 Juni 1668. Nama Antakapura diberikan oleh Sunan Amangkurat I sendiri, yang memiliki makna istana kematian atau istana tempat menguburkan jenazah.
Sendang di bawah pohon raksasa (dok. pribadi)
Di sebelah timur-laut kompleks makam terdapat area Sendang Moyo yang juga kami kunjungi. Berada di bawah pohon raksasa, sendang tersebut merupakan kolam berukuran 3,5 x 5 meter yang berfungsi untuk menampung air hujan. Konon, cerita lain menyebutkan bahwa lubang kolam itu sebagai liang lahat yang urung digunakan karena justru muncul sumber mata air.
Situs Kedaton Plered sebagai Titik Pemungkas
Sinar mentari yang kian terik membawa kami pada lokasi pemungkas, ialah sisa struktur bangunan yang diperkirakan sebagai Bangsal Srimanganti dari Kedaton Plered. Dari tadi sudah menyebutkan Plered, tetapi aku belum menjelaskannya. Jadi, Plered ini merupakan ibu kota Mataram Islam setelah berada di Kerta, yaitu ketika masa pemerintahan Sunan Amangkurat I (1647-1677).
Salah satu situs kedaton, berupa struktur bangunan Bangsal Srimanganti (dok. pribadi)
Sebagai pusat pemerintahan, Plered dibangun dengan komponen lengkap yang meliputi istana, pasar, alun-alun, masjid, jaringan jalan, benteng serta pintu gerbang, dan sebagainya. Area yang sekarang digunakan sebagai Museum Pleret dulunya juga merupakan bagian dari ibu kota ketiga Mataram Islam tersebut. Peninggalan yang masih bisa dijumpai dengan bentuk utuh ialah Sumur Gumuling, berada di halaman museum.
Gowes situs bersama Museum Pleret sungguh seru dan menyenangkan. Selain mengunjungi berbagai situs peninggalan Keraton Kerta dan Kedaton Plered, pun bisa menikmati pemandangan pedesaan yang menyegarkan mata. Kalau tak punya sepeda gimana? Jangan khawatir, sepedanya sudah disediakan dan gratis pula. Kamu tinggal bawq diri saja menuju museum. Hehehe.
Buat yang penasaran dan pengin ikutan juga, segera follow Instagram serta Threads @museumpleret. Segala rupa kegiatan seru--tak hanya gowes situs, akan diinfokan di akun tersebut.
***
**Artikel ini tayang juga di akun Kompasiana-ku dengan judul sama.
Deretan patung "Sembah" karya Purjito di halaman Kampus ISI Yogyakarta (dok. pribadi)
Sedari Juni 2025 lalu, ratusan patung beragam wujud menghiasi sudut-sudut area outdoor Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta.
Dari sekian banyak patung, yang paling menyita perhatian para pengunjung ialah 99 patung perempuan berwarna putih karya pematung Purjito. Berjudul "Sembah", karya tersebut terbagi dalam tiga sikap yang masing-masing berjumlah 33 patung dan memiliki makna tersendiri pada tiap sikap. Seingatku, patung-patung tersebut pernah dipamerkan juga di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bertahun-tahun lalu.
Patung dengan salah satu sikap "Sembah" karya Purjito (dok. pribadi)
Selain deretan patung putih misterius, bisa dijumpai pula patung-patung lainnya karya para seniman dari 13 negara. Ada yang bergaya klasik, abstrak, hingga yang kontemporer mengambil karakter-karakter dalam film--misalnya dari Avatar dan Marvel Cinematic Universe. Beberapa patung bergaya klasik menjadi favoritku, bentuknya seperti patung-patung di Eropa. Ketika kubaca informasi pada bagian bawah, rupanya sang pematung memang berasal dari Italia.
Sebuah patung dari karakter dalam film Avatar (dok. pribadi)
Patung berjudul "Para Dewi" karya pematung Italia yang tak diketahui namanya (dok. pribadi)
Keberadaan patung-patung tersebut dalam rangka Yogyakarta International Creative Arts Festival (YICAF) 2025, sebuah agenda rutin yang dihelat FSRD. Penyelenggaran tahun ini merupakan kali ketiga, mengambil tema "Art Platform as International Art Connectivity". Tema itu dipilih sekaligus sebagai upaya FSRD dalam mendukung serta mewujudkan tujuan ISI Yogyakarta mencapai world class university yang terus terkoneksi dengan dunia luar.
Sebagai gambaran, di bawah ini kusertakan video pendek dari sebagian patung yang dipamerkan. Saat datang ke sana, kebetulan banget para mahasiswa sedang libur semester, sehingga bisa dapat suasana syahdu yang magis.
Festival atau pameran masih berlangsung hingga 31 Agustus 2025. Tak hanya di area halaman, pengunjung juga bisa menikmati karya-karya yang dipamerkan di dalam ruangan. Dan, bukan karya patung saja yang dipamerkan, tetapi ada karya-karya meliputi seni lukis, grafis, gambar, DKV, desain interior, fotografi, animasi, serta kriya.
Lagi-lagi aku ingin bercerita seputar bus kota. Sebagai pengguna Trans Jogja, banyak kejadian yang pernah kujumpai, baik ketika di dalam bus ataupun di halte. Beberapa membekas dalam hati serta ingatan, beberapa lagi sekadar singgah.
Di pengujung Juni ini, tepatnya sore tadi, aku berada dalam sebuah bus koridor 2B, dari Terminal Condongcatur menuju Jalan Brigjen Katamso dengan rute memutar jauh. Aku sengaja naik koridor tersebut, selain karena tak perlu transit untuk ganti bus, juga menikmati perjalanannya.
Singkat cerita, sesampai di halte sekitar Gambiran, sepasang tunanetra memasuki bus. Setelah kubantu duduk pada dua kursi kosong di seberangku, mereka nampak gembira--terdengar dari obrolan yang dilakukan, karena mungkin biasanya berjalan kaki saja.
Seorang penumpang di sebelahku, yang qadarullah mengalami disabilitas juga (pada bagian kaki), tiba-tiba mengangsurkan selembar 20 ribu pada tunanetra yang pria saat hendak turun. Sedikit berbagi rezeki, katanya. Ia juga menceritakan kalau dirinya pun panyandang cacat, tetapi pada bagian kaki. Ia bersyukur, kondisinya masih bisa untuk bekerja--dibandingkan sepasang tunanetra di hadapannya, meski harus menggunakan bantuan tongkat penyangga.
sengaja tak kupotret mereka untuk menghargai privasi, jadi kamera kuarahkan pada kursi kosong di sebelahnya (dok. pribadi)
Menyaksikan pemandangan yang mungkin menurut orang lain merupakan hal biasa, tepat di depan mataku tersebut, seketika aku terenyuh. Begitulah diriku, yang hatinya sensitif dan mudah terharu.
Dalam keterbatasan, si bapak di sebelahku masih memikirkan untuk membantu orang lain, yang menurutnya tak seberuntung dirinya. Sepasang tunanetra di depanku juga merasa sangat senang atas rezeki tersebut.
Kejadian itu merupakan salah satu yang membekas dalam hatiku ketika naik bus. Lantas, aku pun tersadar, berbagi tak harus menunggu menjadi kaya di mata orang lain. Berbagi adalah perihal keikhlasan.
Di saat banyak orang yang duduk di kursi kekuasaan tak pernah puas dengan kekayaan yang dimiliki, rupanya masih ada segelintir manusia yang merasa bahwa seberapa pun harta yang dimiliki, ia sudah merasa cukup dan "kaya", sehingga bisa berbagi tanpa harus takut kekurangan.
Percayakah, bahwa di setiap jiwa seseorang pasti memiliki keberanian? Bahkan, pada orang yang dikatakan penakut. Misalnya saja, kisah yang pernah kualami bertahun lalu.
Seperti biasa, sepulang kerja aku hampir selalu menggunakan bus kota. Saat naik lewat pintu belakang, mendadak ada segerombolan pria yang mencoba menghalang-halangi jalanku, ada juga yang memegangi kakiku. Sedikit takut, aku mengabaikan mereka, mencoba cuek. Mungkin cuma iseng, pikirku.
Sore itu bus yang kutumpangi lumayan penuh, sehingga aku berdiri karena tak kebagian tempat duduk. Hendak mengecek ponsel, aku meraba saku belakang celana tempatku menyimpannya. Namun, aku tak menemukan apa pun di sana. Ponselku raib. Seketika pikiranku melayang pada segerombolan pria yang kuanggap iseng tadi. Memang suuzon, tetapi aku yakin mereka yang mengambil. Kebetulan posisi mereka berada di belakangku, duduk di kursi panjang dekat pintu. Aku langsung menoleh ke arah mereka.
“Hehh… mana HP-ku?!”
“HP apa, Mbak? Kita nggak tahu apa-apa kok,” jawab salah satunya.
“Halah! Nggak usah bohong. Aku tahu pasti kalian yang ngambil HP-ku, kan? Mana kembalikan!
Gertakan yang tanpa kusadari berani kulakukan tersebut rupanya tak membuat mereka mengaku. Yakali, ada maling ngaku.
Aku belum menyerah, lantas kucoba berteriak melapor pada kondektur.
“Paaakk… itu, lho, mereka ngambil HP saya.”
Masih sia-sia ternyata. Kondektur serta penumpang lain diam seribu bahasa, tak menghiraukan teriakanku. Zaman dulu, bus kota jalur tertentu di Jogja memang sering disusupi pencopet, dan seakan enggan berurusan dengan mereka, sopir dan kondektur memilih tak acuh.
hanya ilustrasi (dok. pinterest-pak den)
Entah apa yang menggerakkanku, akhirnya nekat kudatangi gerombolan tersebut. Kutarik baju salah satu dari mereka. Ajaib! Tiba-tiba mereka mengembalikan ponselku.
“Nih, Mbak, HP-nya…”
Tak lama kemudian, bus tiba di sebuah persimpangan jalan, banyak penumpang turun, termasuk gerombolan pria tadi. Aku pun mendapat tempat duduk. Saat sudah duduk, aku terpekur dan dalam hati mulai bertanya-tanya pada diri sendiri, 'kok bisa jadi super berani'. Aku heran, karena pada masa itu diriku dikenal sebagai pribadi pendiam dan penakut, yang tak mau berkonfrontasi, trimo ngalah.
Rupanya, motivasi dan kebutuhan bagai dua sisi mata uang. Ketika kebutuhan datang kemudian mendesak, dari sanalah motivasi akan ikut terpompa untuk mewujudkan kebutuhan. Nah, kondisi yang kualami termasuk dalam kategori mendesak alias kepepet, sehingga tanpa sadar termotivasi untuk keluar dari situasi tersebut.
Kala itu, ponsel masih merupakan barang mewah, setidaknya bagi keluargaku. Seolah, di alam bawah sadarku ada ketakutan yang lebih besar jika ponselku benar-benar hilang, yaitu dimarahi Bapak. Padahal, beliau tak akan marah seandainya aku kecopetan, namanya juga musibah. Namun, pada akhirnya justru ketakutan tersebut yang membuatku berani pada sisi lainnya.
Hingga kini, yang masih menjadi misteri bagiku ialah mengapa para pencopet langsung mengembalikan ponsel milikku. Entahlah, random banget mendadak teringat hal itu lagi.
Kalau sekarang? Image-ku di mata orang yang tak benar-benar mengenalku, masih sosok yang anteng dan kalem. Memang tak keliru, aku pun masih enggan berkonfrontasi atau ribut-ribut, tetapi jika mendesak dan memang tidak bersalah atau di pihak yang benar, apa pun kuhadapi. Dalam sebuah kelompok pun begitu, kalau kami terancam, kemungkinan besar aku yang maju membela. Bedanya, kali ini kulakukan dengan sadar-penuh. Meski begitu, semoga kita semua selalu dijauhkan dari segala bentuk ancaman atau marabahaya, Yagesya!
Ada yang mengatakan,"Jangan percaya apa pun, cukup percaya pada makanan."Aku sepakat dengan pernyataan itu. Makanan tak akan membuatmu kecewa―setidaknya makanan yang memang disukai. Ia selalu tahu bagaimana cara menggembirakan orang-orang yang melahapnya.
Beruntungnya tinggal di Indonesia yang memiliki beragam kuliner. Dari sekian banyak macam makanan, satai adalah salah satu yang menjadi favoritku. Sate Madura, Sate Padang, Sate Ambal, Sate Taichan, semua suka... bahkan Sate Kere pun.
Nah, ngomongin perihal satai, di Jogja ada yang cita rasanya sudah mendunia, lho. Bukan karena cabangnya ada di seluruh dunia, melainkan restorannya sudah dikunjungi oleh para turis dari ratusan negara di dunia. Hingga tulisan berikut tayang, ada 104 negara yang warganya sudah menikmati kelezatan satai ini. Kok bisa?
Tiga Menu Sate Ratu yang Bikin Ketagihan
Tersebutlah Sate Ratu. Dalam sebuah obrolan bersama Pak Budi Seputro, salah satu pengelola sekaligus pemilik restoran, beliau mengisahkan bahwa awalnya Sate Ratu merupakan angkringan yang terletak di kawasan Jalan Solo. Pada tahun 2016, Angkringan Ratu berubah konsep menjadi Sate Ratu, dari yang sebelumnya menyediakan berbagai menu khas angkringan menjadi spesial satai. Ada tiga menu yang menjadi andalan restoran yang berlogo kepala ratu ini.
1. Sate Ayam Merah
Menu utamanya ialah Sate Ayam Merah atau selanjutnya dalam artikel akan kusebut Sate Merah saja. Basetaste satai ini berasal dari sebuah tempat di Lombok, kemudian diolah sedemikian rupa dengan mengombinasikan bermacam bumbu khas dari berbagai daerah sehingga menghasilkan cita rasa sempurna dan tak mudah dilupakan oleh siapa pun yang menyantapnya.
Berbeda dari sate ayam kebanyakan yang selalu ditemani bumbu kacang, Sate Merah ini pemberani, tak butuh teman. Dalam proses membuatnya, daging ayam yang telah dipotong dan ditusuk bambu, direndam bumbu khusus selama tiga jam sebelum dibakar. Bisa dibayangkan, bagaimana merasuknya bumbu merah yang bergelimang cabai tersebut. Tak hanya membuat sate jadi berwarna merah, wajah si penyantap pun akan memerah setelah memakannya.
sate merah yang menggoda (dok. pribadi)
Melihat penampakan sate yang berhiaskan banyak isi cabai, membuatku kemecer―perasaan semacam liur menjadi lebih banyak karena tergoda makanan. Pada gigitan pertama, yang terpikirkan olehku adalah, "Satenya enak banget!" Bumbunya benar-benar merasuk ke dalam dagingnya.
Wajar kalau kemudian sate tersebut tak butuh bumbu kacang sebagai pendamping. Proses pembakarannya pun pas banget. Menghasilkan daging yang empuk, lembut, dan terasa juicy, sebagai penanda daging dibakar dengan sempurna, tidak setengah matang dan tidak pula kematangan. Sedangkan untuk tingkat kepedasannya, menurut lidahku masih bisa ditoleransi, meskipun ada teman lain yang tidak tahan dengan pedasnya.
2. Lilit Basah
Beralih ke menu berikutnya yang juga merupakan andalan, yaitu Lilit Basah. Kira-kira, ini siapanya Sate Lilit? Saudaranya? Betul, Lilit Basah ala Sate Ratu merupakan transformasi dari Sate Lilit khas Bali. Tentu saja dengan bumbu yang berbeda.
Awalnya, menu itu memang bernama Sate Lilit yang tusuknya menggunakan bambu pipih. Seiring berjalannya waktu, permintaan Sate Lilit kian meningkat, bahkan ada yang pesan dalam jumlah ratusan/ribuan untuk sebuah acara. Lantas Pak Budi menyiasati dengan menghilangkan bambu, mengubah bentuk, serta proses memasaknya.
Kalau Sate Lilit proses memasaknya dengan cara dibakar, Lilit Basah cukup digoreng sebentar dengan mentega. Voila! Jadilah Lilit Basah yang diluncurkan sejak Juni 2018 lalu. Tanpa bambu bukan saja lebih menghemat waktu dalam proses produksinya, pun sebagai bentuk kepedulian dalam misi menyelamatkan Bumi, dengan mengurangi penebangan serta mengurangi sampah.
lembutnya lilit basah (dok. pribadi)
Dibandingkan Sate Lilit, bentuk dan penyajian Lilit Basah lebih mengundang selera. Dengan taburan bawang goreng dan irisan mentimun, semakin ingin segera melahapnya. Kian mantap dengan adanya kuah yang cenderung manis. Aku sempat mengira kuah tersebut sengaja dibuat untuk mengiringi Lilit Basah. Faktanya, kuah tersebut merupakan uap air hasil pengukusan daging yang telah dicincang.
Saat makan Sate Lilit, biasanya masih terasa ada parutan kelapanya, tetapi dalam Lilit Basah rasanya daging ayam semua, teksturnya padat dan empuk. Sesekali bisa kurasakan daun jeruknya yang sangat kuat. Pun sedikit rasa pedas yang aman bagi siapa pun. Pak Budi sempat menyebutkan, menu tersebut memang dibuat untuk mereka yang kurang suka pedas.
3. Ceker Tugel
Selain Sate Merah dan Lilit Basah, ada juga menu andalan ketiga, bernama Ceker Tugel. Tepat sekali! Menu ini merupakan potongan kaki ayam yang diolah dengan bumbu super pedas. Dibuat khusus untuk penikmat kuliner yang menggemari masakan pedas.
ceker tugel super huhah! (dok. pribadi)
Per porsi Ceker Tugel berisi 6-7 kaki ayam yang masing-masing dipotong menjadi dua, agar lebih mudah saat memakannya. Dimasaknya pun sampai empuk, sehingga ketika digigit langsung mrothol di dalam mulut. Siap-siap banjir keringat dan ingus yang menetes ketika menikmati kuliner pedas dengan bumbu rempah yang sangat kuat tersebut. Ditambah lagi nasinya hangat dan pulen. Duhh, jadi lapar!
Rahasia Sate Ratu Jadi Favorit Turis
Setelah menikmati tiga menu di atas, rasa penasaran mengapa restoran tersebut bisa disukai para wisatawan dalam negeri sekaligus turis mancanegara mulai terjawab. Menu-menu di Sate Ratu sangat berbeda dengan yang disajikan oleh restoran atau rumah makan lain yang sama-sama mengusung sate sebagai menu utama. Selain unik dan tiada dua, cita rasanya pun membuat susah untuk berpaling.
Masih dalam sesi obrolan bersama Pak Budi, beliau membagikan rahasia mengapa Sate Ratu bisa banyak penggemarnya. Di awal membuka Sate Ratu, kedatangan wisatawan asing masih bisa dihitung dengan jari. Bagi Pak Budi, hal tersebut justru dijadikan kunci pembuka agar wisatawan asing lainnya juga berkunjung dan menikmati masterpiece di restorannya.
proses pembakaran sate merah (dok. sate ratu)
Sajian yang istimewa saja tak cukup untuk membuat pelanggan merasa puas dan nyaman, karenanya Pak Budi selalu menyapa para tamu yang kemudian berlanjut dengan obrolan. Dari hal sederhana tersebut, pengunjung akan terkesan dan merasa mendapat pengalaman berbeda saat berkuliner. Karena merasa senang dan puas, biasanya pelanggan akan membagikan pengalamannya pada orang lain. Bisa dengan obrolan antar teman atau antar wisatawan saat di hotel/penginapan, bisa melalui review di portal panduan wisata semacam TripAdvisor, atau dengan bercerita di media sosial, dan sebagainya.
Mengetahui produknya semakin terkenal, Pak Budi tak menyia-nyiakan hal tersebut. Di lokasi restoran yang lama, beliau menyulap dindingnya menjadi ajang menulis pesan dan kesan para pengunjung dari berbagai negara. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan, memang sengaja memanfaatkannya sebagai salah satu ajang promosi, yang ternyata cukup afdal. Kini, di lokasi yang baru tulisan-tulisan tersebut ada dalam pigura yang bersanding dengan pigura-pigura piagam penghargaan dari berbagai media.
Di kalangan wisatawan, Sate Ratu sudah menjadi primadona yang seolah ada peraturan tak tertulis, kalau mengunjungi Jogja jangan lupa singgah ke Sate Ratu. Bahkan, para selebritas dan influencer pun tanpa di-endorse akan merekomendasikan sate ini sebagai salah satu kuliner terbaik saat di Jogja.
penggawa timnas, rizky ridho pun mampir (dok. sate ratu)
Hingga kemudian, muncul tagline"Sate Ratu kesukaan turis mancanegara dan Indonesia." Saking laris dan terkenalnya Sate Ratu dengan tiga menu andalan, banyak yang mengajukan untuk membuka cabang atau waralaba, tetapi selalu ditolak oleh Pak Budi. Beliau ingin Sate Ratu menjadi salah satu kuliner khas Jogja yang tak bisa dijumpai di tempat lain, sehingga keberadaannya akan melegenda.
Lokasi, Harga, dan Cara Mendapatkan Sate Ratu
Buat kamu yang berdomisili di Jogja, atau sedang mengunjungi Jogja dan penasaran juga dengan kelezatan Sate Merah serta gengnya yang masing-masing dibanderol seharga Rp33.000 per porsi, silakan langsung meluncur ke Jogja bagian utara di kawasan Condongcatur. Tepatnya di Jl. Sidomukti (GMap di akhir artikel), buka setiap hari pukul 11.00 sampai dengan 21.00 WIB.
Sedangkan bagi tim mager, jangan khawatir karena kamu tetap bisa menikmati tanpa harus beranjak dari rumah atau hotel. Menu-menu di Sate Ratu sudah bisa dipesan lewat aplikasi pesan makan online seperti GrabFood ataupun GoFood.
Kalau kata aku, sih, mending langsung datang ke restorannya, agar bisa merasakan serunya mengantre, atau kalau beruntung bisa berbincang dengan Pak Budi. Sekadar informasi, Sate Ratu tidak menerima reservasi, semua pengunjung dianggap sama, meskipun seorang pesohor.
Bloger asal Jogja ini suka memandang hujan, tetapi lebih sering berbinar karena langit biru. Gemar mendengarkan musik, tetapi tidak dengan menyanyi. Kadang jalan-jalan, kadang menonton film/serial, kadang membaca buku, dan mencoba untuk rutin menulis. Silakan kirim surel ke mesha.christina@gmail.com, apabila ada pertanyaan, penawaran kerja sama, atau ajakan kolaborasi.