Ada kalanya ingatan komunal kita butuh dirayakan, dan semenjak Senin sore lalu (22/6) hingga Minggu mendatang (28/6), perayaan itu menemukan rumahnya dalam perhelatan Pasar Kangen 2026, agenda tahunan yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta.
Langkah kaki membawaku tiba tepat ketika riuh-rendah pembukaan dimulai. Sayup-sayup terdengar sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Ibu Dian Lakshmi Pratiwi yang membuka acara, penanda resmi bahwa gerbang menuju masa lalu telah diketuk.
Melambatkan langkah di Pasar Kangen.
Selepas seremonial usai, aku membiarkan diri bersama seorang kawan melambat serta "tersesat" di antara barisan stan. Menyusuri lorong-lorongnya seperti sedang membongkar kembali laci kenangan lama yang berdebu. Di satu sudut, deretan barang lawas--dari majalah usang, kaset yang pitanya mungkin sudah agak kusut, hingga mainan dari kaleng bekas--seolah berbisik, memamerkan romansa dari dekade yang telah lewat. Ada kehangatan yang sulit diungkapkan saat melihat benda-benda itu. Mereka tak lagi memiliki fungsi praktis, tetapi nilai kenangannya mutlak tak ternilai.
Salah satu area barang lawasan.
Lantas, tentu saja ada aroma jajanan yang menyerbu indera penciuman. Dari atas pemanggang sate kere hingga legitnya warna-warni gulali, semuanya bersahut-sahutan memanggil memori masa kecil. Begitulah. Pasar Kangen bukan sekadar deretan penjaja kuliner jadul atau barang lawasan, ia adalah sebuah mesin waktu.
Pak Ong, penggagas Pasar Kangen, tampak menikmati jajanan di tengah hiruk-pikuk pengunjung.
Dari seluruh perjalanan sore hingga petang tersebut, fragmen paling favorit justru hadir kala aku memilih berhenti sejenak dan menjadi pengamat. Iya, bagian paling seru dari Pasar Kangen bukanlah apa-apa saja yang dijual, melainkan momen mengamati manusia-manusia di sana, yang mengurai rindu sekaligus merajut memori baru.
Sebuah stan jajanan di Pasar Kangen yang ramai pembeli.
Ada binar mata menarik pada wajah-wajah yang sedang antusias menikmati atau mengantre jajanan, pun ketika memilih barang-barang lawas. Kulihat sepasang kekasih yang tertawa kecil sembari menunjuk jajanan masa kecil yang asing bagi salah satu dari mereka. Ada pula seorang bapak dengan penuh semangat menjelaskan cara kerja mainan jadul kepada anaknya yang sibuk memegang gawai, seolah sedang mewariskan sepotong masa lalunya sendiri.
Petang itu ditutup dengan langit Jogja yang perlahan meredup, menyisakan tawa-tawa para manusia yang merindu serta aroma jajanan tradisional yang melekat di baju.
Pasar Kangen, seperti namanya, tak pernah gagal menjadi ruang jeda yang manis. Ia membuatku tersadar, bahwa terkadang hanya butuh sebuah benda untuk membawa kembali pada ribuan kenangan lampau yang pernah membuat bahagia.
Yogyakarta atau seringkali disebut Jogja merupakan kota yang kaya akan sejarah dan budaya, juga dikenal dengan kelezatan kuliner tradisionalnya. Dari masa ke masa, perkembangan kuliner di Jogja mengalami berbagai perubahan, termasuk kuliner yang dulunya hanya ada di dalam tembok keraton. Seiring perkembangan zaman, ada berbagai makanan para Sultan yang kemudian beredar luas dan menjadi makanan rakyat juga.
Diperkirakan, ada 61% dari hidangan yang tadinya khusus disajikan kepada Sultan atau di lingkungan keraton, seiring berjalannya waktu juga beredar di masyarakat. Makanan-makanan tersebut sangat mudah dijumpai, dan tergolong gampang cara memasaknya.
Inilah tiga contoh makanan favorit Sultan yang kini pun menjadi kegemaran masyarakat.
1. Brongkos
Hidangan khas Yogyakarta yang terbuat dari campuran daging sapi, telur, tahu, kulit melinjo, dan kacang tholo yang dimasak dengan bumbu rempah kuat ini merupakan menu favorit Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
sayur brongkos khas jogja (dok. pribadi)
Keunikan brongkos terletak pada warna kuahnya yang gelap. Hal tersebut karena dalam bumbunya menggunakan kluwek atau kluwak seperti yang ada pada bumbu rawon. Namun, kedua masakan tersebut jauh berbeda. Kelezatan brongkos ada pada perpaduan cita rasanya yang kaya dan kompleks, aroma rempah yang menggugah selera, serta isiannya yang beragam.
2. Gecok Ganem
Seperti brongkos, gecok ganem merupakan hidangan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Menu khas keraton ini berupa bola-bola daging sapi giling, dimasak dengan kuah santan dan beberapa sayuran berwarna cerah.
Masakan ini terasa spesial karena keunikannya yang terletak pada kuahnya. Meskipun bersantan tapi tidak eneg, justru rasanya segar. Dalam kuahnya terdapat irisan belimbing sayur atau belimbing wuluh, itulah yang membuat segar. Sekilas, penampakan makanan ini terlihat pedas, tetapi kalau sudah terasa di indera pengecap, pedasnya masih bisa ditoleransi karena biasanya menggunakan cabai teropong.
Kalau kamu pernah menikmati garang asem, gecok ganem ini sepintas mirip dengan hidangan tersebut.
3. Lodeh
Orang Jogja mana, sih, yang tak kenal sayur lodeh? Menu favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 ini merupakan masakan berkuah santan dengan isian berbagai jenis sayuran. Berdasarkan komposisi atau bahan-bahannya, lodeh termasuk masakan yang "luwes". Dalam artian, secara ekonomis sayur apa saja bisa dimasak menjadi lodeh.
sayur lodeh terong, favorit banyak orang (dok. pribadi)
Sayur lodeh pun digunakan sebagai lambang tolak bala. Hingga kini, Sultan akan menginstruksikan kepada rakyatnya untuk memasak sayur lodeh dengan isian yang sudah ditentukan, apabila Indonesia dan khususnya Jogja sedang mengalami bencana ataupun pagebluk. Instruksi tersebut sifatnya sugesti saja ya, jadi bukan sebuah kewajiban.
Paling anyar adalah ketika awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu. Sebagai tolak bala, Sultan dhawuh kepada warga untuk memasak sayur lodeh tujuh rupa.
Kalau dimasak untuk sehari-hari, sayur lodeh ini tidak ada peraturan saklek harus berisi sayur apa saja. Namun, di dalam keraton, yang biasanya disajikan adalah lodeh keluwih. Secara filosofi, memiliki makna bahwa sayur lodeh keluwih khusus dihidangkan kepada orang linuwih atau yang memiliki kelebihan, tak lain dan tak bukan ialah Raja.
sayur lodeh tujuh rupa sebelum dan sesudah dimasak, sebagai tolak bala pada awal covid-19 tahun 2020 lalu (dok. pribadi)
Untuk menikmati hidangan favorit, termasuk masakan yang menjadi kegemaran para Sultan tadi, kadang terbatasnya waktu dan kesibukan menghalangi kegiatan memasak. Lantas, pesan ke katering menjadi solusi praktis agar tetap bisa menikmati kelezatan kuliner favorit tanpa harus repot memasak.
Memesan masakan khas keraton ataupun berbagai masakan rumahan lainnya, bisa mudah dilakukan kapan saja, dengan memercayakan pada Pawon Bu April yang sudah puluhan tahun berpengalaman dalam masak-memasak dan selalu mendapat pujian dari para pelanggan. Cukup menghubungi WhatsApp di 0817-468-439, semua beres.
Bermacam hidangan dari Keraton Yogyakarta kini tak hanya memanjakan lidah para bangsawan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Jogja. Melalui layanan pesan katering, the real makanan Sultan dapat dinikmati oleh siapa pun yang menginginkan cita rasa autentik serta kelezatan tak terlupakan.
***
**Tulisan ini pernah tayang di akun Kompasiana-ku juga, dengan judul sama.
konsep rijsttafel, meja penuh makanan (dok. pribadi)
Menikmati jamuan makan dengan konsep table manner di hotel atau restoran merupakan suatu hal lumrah pada masa kini. Sebagai tamu, kita cukup duduk manis, makanan akan disajikan satu-persatu untuk dinikmati. Tapi, kalau makanannya sudah dihidangkan semua hingga memenuhi meja, kamu pernah merasakannya?
Nah, beberapa waktu lalu, pada sebuah sore aku merasakan pengalaman tersebut. Bersama teman-teman blogger dan influencer Jogja. Kami kumpul cantik sembari ngobrol sana-sini, mengelilingi meja yang penuh makanan, dari pembuka, menu utama, dan penutupnya sudah tersaji semua di meja makan.
Sekilas Rijsttafel, Jamuan Makan ala Hindia-Belanda
Konsep tersebut dinamakan rijsttafel, sebuah budaya makan bersama yang muncul sejak Hindia-Belanda atau era pemerintahan kolonial. Secara harafiah, rijsttafel memiliki arti "meja nasi". Nasi menjadi hidangan utama yang harus ada dalam budaya makan bersama yang dulunya dilakukan oleh keluarga Belanda, atau campuran Belanda dan Indonesia.
Budaya tersebut lantas berkembang sebagai perjamuan mewah untuk menunjukkan prestise para kalangan atas, dengan mengundang sesama elite juga.
Namun serunya, sekarang kita bisa menikmati makan bersama ala rijsttafel tanpa harus menjadi kalangan bangsawan. Kalau kamu wong Jogja, kini ada sebuah hotel yang menawarkan jamuan makan istimewa penuh kehangatan, kebersamaan, dan tentunya hidangan.
Rasa Nusa, a Taste of Nusantara Heritage
Demikianlah tema yang diangkat hotel ini untuk mempersembahkan uniknya pengalaman makan bersama bak keluarga Belanda di Indonesia pada masa lampau. Oh iya, tadi belum kusebutkan kalau budaya yang diciptakan oleh kolonial ini meskipun bermula di kalangan keluarga Belanda, tetapi menu-menunya justru dari Nusantara semua. Apa pun masakannya, pokoknya berasal dari seluruh penjuru negeri. Dan selain nasi, sambal juga wajib ada di atas meja.
Dari pertemuan budaya Belanda dan kekayaan kuliner Nusantara, sore itu kami berkesempatan menikmati beragam kuliner berbagai daerah, pada waktu yang sama, tanpa harus pergi ke tempat asal makanan-makanan itu.
Apa saja yang kami nikmati? Kuliner Jawa yang penuh cerita menjadi hidangan yang disajikan, terutama yang berasal dari Jogja dan Jawa Tengah. Lebih detailnya, simak penjelasanku di bawah, yuk!
1. Garang Asem Ayam
Menyuguhkan rasa gurih dan asam yang berpadu dalam kuah menyegarkan, menu ini memiliki potongan ayam yang cukup besar dan empuk. Meski bersantan, kesegaran kuah garang asem berasal dari tomat hijau dan paprika, atau cabai teropong. Akan lebih segar kalau ditambahkan belimbing wuluh.
segarnya garang asem ayam (dok. pribadi)
Pada paket lainnya, isian dalam garang asem ini bisa juga diganti dengan daging sapi. Kamu bisa memilihnya sesuai selera serta budget.
2. Mangut Ikan Manyung
Kuliner ini berasal dari Jawa Tengah yang terletak di pesisir pantai utara, yakni Pati dan Semarang. Kuah pedas beraroma smokey yang khas muncul dari daging ikannya, menghadirkan kekuatan cita rasa khas pesisir Laut Jawa.
mangut ikan manyung yang bikin ketagihan (dok. pribadi)
Menggunakan bumbu rempah yang kaya dan meresap sempurna ke dalam ikan, mangut ikan manyung ini menawarkan sensasi rasa yang membuat lidah serasa dimanjakan dan membuat ketagihan.
3. Sate Klathak Gantung
Sebagai orang Jogja, siapa yang tak kenal sate yang disajikan dengan keunikan tersendiri, yaitu tusuknya menggunakan jeruji besi. Makanan khas Bantul tersebut seolah menjadi salah satu kuliner yang harus diburu wisatawan ketika berkunjung ke Jogja.
bumbu sederhana, rasa tak terlupakan, hanya ada di sate klathak (dok. pribadi)
Meski bumbunya sederhana, cita rasa yang dihasilkan sangat autentik menyatu dengan empuk serta lembutnya daging kambing setelah terkena bara arang. Aromanya terus memanggil untuk segera melahapnya. Dan yha, satu tusuk tak akan cukup!
4. Sayur Lodeh Jantung Pisang
Aku menyebutnya ontong. Bukan kali pertama merasakan bagian dari pohon pisang berkulit luar warna merah tua tersebut dimasak sebagai sayur. Namun, kalau sebagai sayur lodeh baru menikmatinya sore itu. Jantung pisang memang tak pernah gagal untuk diolah menjadi masakan.
lodeh jantung pisang favoritku! (dok. pribadi)
Dalam semangkuk lodeh jantung pisang, aku menemukan kehangatan khas rumah simbah. Rasanya ngangenin, dan saat menyuapkan ke dalam mulut, ada perasaan nostalgia yang tiba-tiba muncul. Juara banget chef-nya!
5. Aneka Kudapan Jajan Pasar
Pisang karamel, klepon, mata kebo, dan putri mandi menjadi kudapan-kudapan yang menemani menu utama kala itu.
Jajanan pasar merupakan cermin sederhana dari kearifan budaya Nusantara yang keberadaannya sangat dekat dengan kita, karena masih mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional.
aneka jajanan pasar (dok. pribadi)
Semuanya merupakan favoritku. Selain warna-warnanya begitu menarik, pada setiap gigitan juga tersimpan kisah tentang tradisi serta cinta akan rasa asli Indonesia. Lebih dari sekadar kudapan, jajanan-jajanan tersebut seolah mesin waktu yang mampu membawa pada kenangan masa kecil yang tak lekang oleh waktu.
6. Es Selendang Mayang dan Bir Pletok
Sebagai penutup atau dessert, sudah tersaji es selendang mayang serta bir pletok. Wow! Kebayang, kan, bagaimana segar dan hangatnya.
Es selendang mayang dengan warna-warni tepung hunkwe dan kuah santan manis, serta irisan nangka yang wanginya menguar, lagi-lagi membawaku pada memori lampau, masa duduk di bangku sekolah. Sedangkan hangatnya bir pletok dengan aroma kayu secang dan kayu manis yang mendominasi membuat tenggorokan terasa lega.
Harga dan Cara Menikmati Paket Rijsttafel Rasa Nusa
Banyaknya sajian menu tersebut masih dilengkapi dengan makanan pembuka, soto ala Jogja berciri khas kuah bening. Pun tersedia pilihan minuman berupa kopi, teh, dan air putih yang tak boleh ketinggalan. Sebagai pelengkap untuk menemani obrolan bersama orang-orang tersayang, di atas meja tersedia juga klethikan semprong dan kembang goyang. Lengkap banget!
Coba tebak, pengalaman menikmati makan bersama dengan menu sebanyak itu di restoran hotel berbintang, bisa didapatkan dengan harga berapa? Seratus ribu? Wah, kamu keliru.
Segala rupa menu di atas cuma dibanderol mulai dari Rp65.000 per pax. Dan, yang dihidangkan pada kami tersebut merupakan harga minimalnya. Sudah dapat sebanyak itu, lho. Bayangkan kalau memilih paket dengan harga di atasnya, variasi menunya akan lebih spesial.
minimal 4 orang, sudah bisa menikmati jamuan istimewa (dok. hotelicius)
Di hotel mana, sih? Dari tadi cerita terus, belum disebutkan nama hotelnya. Jadi, kamu bisa mendapatkan uniknya pengalaman menikmati kuliner berbagai daerah dari satu meja saja tersebut di Dhaharan Restaurant, 1O1 Urban Heritage Hotel, yang terletak di Jalan Jogokaryan No. 82 Yogyakarta.
Bisa dinikmati setiap hari dengan reservasi terlebih dahulu, setidaknya H-1, dan berlaku pemesanan minimal empat pax. Untuk reservasi, dapat menghubungi nomor 0274-372500 atau melalui DM Instagram.
Tentang 1O1 Urban Heritage Yogyakarta
Terletak hanya lima menit dari pusat Kota Jogja, hotel ini cukup dekat dengan berbagai destinasi wisata populer serta kawasan kuliner. Selain itu, lingkungan sekitarnya pun aman dan nyaman. Satu jalan dengan Masjid Jogokaryan yang sangat kondang.
syahdunya area pool side di waktu malam (dok. pribadi)
1O1 Urban Heritage Yogyakarta merupakan branding baru dari Lynn Hotel by Horison. Lokasinya sangat dekat dengan tujuan wisata yang kalau sedang di Jogja susah untuk dilewatkan begitu saja. Sebut saja Kawasan Prawirotaman, Keraton Yogyakarta, Tamansari, Kawasan Malioboro, Gembira Loka Zoo, dan berbagai museum yang tersebar di Jogja, bisa dijangkau dengan mudah dari hotel yang dekat dengan Panggung Krapyak ini, salah satu komponen Sumbu Filosofi yang telah disahkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak-benda (WBTB).
Hotel berkonsep heritage serta mengusung green hotel tersebutmemiliki total 112 kamar yang terbagi dalam beberapa tipe. Area hotel dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kolam renang, restoran, musala, dan sebagainya. Hotel ini juga memiliki fasilitas seperti meeting room, dan ballroom yang bisa digunakan untuk pesta pernikahan atau acara lainnya.
Minimal sekali seumur hidup, rasakanlah pengalaman makan bersama yang berbeda serta istimewa ala keluarga Hindia-Belanda. Tak hanya makan bersama, tetapi menjelajah rasa Nusantara, yang semuanya dihadirkan dalam satu meja. Setiap suapan membawa kisah dari daerah masing-masing, membuat siapa pun bisa merasakan kekayaan kuliner Indonesia tanpa bepergian jauh.
Untuk menikmati jamuan rijsttafel, tak harus saat ada momen atau acara khusus. Kamu bisa mengajak keluarga, bestie, geng arisan, atau orang-orang terdekat lainnya untuk menikmati pengalaman makan bersama yang istimewa dan beda dari biasanya ini. Justru, menikmatinya akan lebih seru kalau dalam suasana santai, sembari ngobrol apa saja. Kebersamaan dan kehangatannya pasti akan lebih terasa.
Peserta GESIT di depan area Situs Kerta (dok. Museum Pleret)
Hampir dua pekan lalu, tepatnya 16 Agustus 2025, aku berkesempatan mengikuti "Gowes Situs" alias GESIT yang dihelat rutin per bulan oleh Museum Pleret. Kegiatan ini merupakan jelajah situs-situs di kawasan Kerta dan Plered yang merupakan bekas ibu kota Mataram Islam setelah Kotagede. Kawasan tersebut saat ini secara administratif berada di Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Situs Kerta dan Penemuan Umpak Raksasa-nya
Dengan dresscode bernuansa merah-putih karena event kali itu sekaligus memeriahkan HUT RI 80 tahun, kami mengawali penjelajahan ke Situs Kerta. Sebuah situs yang mengandung peninggalan arkeologis Mataram Islam di masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1646).
Sebelum start, foto di halaman Museum Pleret (dok. Museum Pleret)
Lokasi yang kami kunjungi saat itu, dulunya diperkirakan sebagai bangunan Sitihinggil atau "Lemah Dhuwur" dari Keraton Kerta. Di area situs terdapat umpak yang sejauh penemuan di Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kerta-Plered merupakan yang terbesar.
Umpak merupakan bagian bawah dari saka atau tiang kayu yang berfungsi untuk menyangga bangunan. Bisa dibayangkan dari ukuran umpak yang ditemukan, seberapa besar saka dan bangunan yang dulu merupakan bagian Keraton Kerta tersebut.
Di belakang-atas kami ialah umpak terbesar yang ditemukan (dok. Museum Pleret)
Saat penemuan, hanya terdapat tiga umpak. Kini, dua umpak berada di Situs Kerta dan satu lagi digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk tiang penyangga di Masjid Soko Tunggal yang dekat dengan objek wisata Tamansari.
Dari Fondasi Benteng Hingga Pabrik Gula Kedaton-Plered
Berpindah ke situs selanjutnya ialah sisa fondasi benteng baluwarti (benteng terluar) sisi timur dari Kedaton Plered. Dalam sebuah catatan, disebutkan bahwa benteng tersebut tingginya 5-6 meter dengan ketebalan 2,8 meter.
Pada masa Perang Jawa, area bekas kedaton masih memiliki benteng tinggi itu, sehingga sempat digunakan sebagai benteng pertahanan pasukan Diponegoro saat diserang oleh tentara Hindia-Belanda, 9 Juni 1826.
Menyimak edukator yang menjelaskan tentang bekas benteng baluwarti sisi timur Kedaton Plered (dok. Museum Pleret)
Sekitar tahun 1891, komponen sisa benteng dan bagian istana Kedaton Plered diambil dan dimanfaatkan sebagai bahan material pembangunan Pabrik Gula Kedaton-Plered. Sedangkan bekas jalur benteng diperkirakan sempat digunakan untuk landasan jalur rel kereta lori dari kebun-kebun tebu menuju pabrik gula. Sayangnya, keberadaan pabriknya tak bersisa sama sekali, dan menjelma sebuah lapangan.
Antakapura, Kesyahduan Makam Seorang Ratu
Melewati jalanan yang di kanan-kirinya area persawahan, eksplorasi kami berlanjut ke Antakapura yang berada di atas Gunung Kelir dengan ketinggian 99 mdpl. Sepeda tidak bisa atau lebih tepatnya tidak boleh dibawa sampai atas. Untuk menuju ke sana, kami harus melewati puluhan anak tangga.
Tempat tersebut merupakan kompleks permakaman, di dalamnya terdapat makam Ratu Mas Malang, salah satu selir dari Sunan Amangkurat I yang konon merupakan kesayangan beliau. Selain mendapati nisan Ratu Mas Malang, kami juga menjumpai 22 nisan lainnya yang terbagi dalam tiga lokasi.
Di depan gerbang Antakapura (dok. Museum Pleret)
Kompleks itu dikenal juga sebagai Situs Makam Ratu Malang, mulai dibangun tahun 1665 dan selesai pada 11 Juni 1668. Nama Antakapura diberikan oleh Sunan Amangkurat I sendiri, yang memiliki makna istana kematian atau istana tempat menguburkan jenazah.
Sendang di bawah pohon raksasa (dok. pribadi)
Di sebelah timur-laut kompleks makam terdapat area Sendang Moyo yang juga kami kunjungi. Berada di bawah pohon raksasa, sendang tersebut merupakan kolam berukuran 3,5 x 5 meter yang berfungsi untuk menampung air hujan. Konon, cerita lain menyebutkan bahwa lubang kolam itu sebagai liang lahat yang urung digunakan karena justru muncul sumber mata air.
Situs Kedaton Plered sebagai Titik Pemungkas
Sinar mentari yang kian terik membawa kami pada lokasi pemungkas, ialah sisa struktur bangunan yang diperkirakan sebagai Bangsal Srimanganti dari Kedaton Plered. Dari tadi sudah menyebutkan Plered, tetapi aku belum menjelaskannya. Jadi, Plered ini merupakan ibu kota Mataram Islam setelah berada di Kerta, yaitu ketika masa pemerintahan Sunan Amangkurat I (1647-1677).
Salah satu situs kedaton, berupa struktur bangunan Bangsal Srimanganti (dok. pribadi)
Sebagai pusat pemerintahan, Plered dibangun dengan komponen lengkap yang meliputi istana, pasar, alun-alun, masjid, jaringan jalan, benteng serta pintu gerbang, dan sebagainya. Area yang sekarang digunakan sebagai Museum Pleret dulunya juga merupakan bagian dari ibu kota ketiga Mataram Islam tersebut. Peninggalan yang masih bisa dijumpai dengan bentuk utuh ialah Sumur Gumuling, berada di halaman museum.
Gowes situs bersama Museum Pleret sungguh seru dan menyenangkan. Selain mengunjungi berbagai situs peninggalan Keraton Kerta dan Kedaton Plered, pun bisa menikmati pemandangan pedesaan yang menyegarkan mata. Kalau tak punya sepeda gimana? Jangan khawatir, sepedanya sudah disediakan dan gratis pula. Kamu tinggal bawq diri saja menuju museum. Hehehe.
Buat yang penasaran dan pengin ikutan juga, segera follow Instagram serta Threads @museumpleret. Segala rupa kegiatan seru--tak hanya gowes situs, akan diinfokan di akun tersebut.
***
**Artikel ini tayang juga di akun Kompasiana-ku dengan judul sama.
Deretan patung "Sembah" karya Purjito di halaman Kampus ISI Yogyakarta (dok. pribadi)
Sedari Juni 2025 lalu, ratusan patung beragam wujud menghiasi sudut-sudut area outdoor Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta.
Dari sekian banyak patung, yang paling menyita perhatian para pengunjung ialah 99 patung perempuan berwarna putih karya pematung Purjito. Berjudul "Sembah", karya tersebut terbagi dalam tiga sikap yang masing-masing berjumlah 33 patung dan memiliki makna tersendiri pada tiap sikap. Seingatku, patung-patung tersebut pernah dipamerkan juga di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bertahun-tahun lalu.
Patung dengan salah satu sikap "Sembah" karya Purjito (dok. pribadi)
Selain deretan patung putih misterius, bisa dijumpai pula patung-patung lainnya karya para seniman dari 13 negara. Ada yang bergaya klasik, abstrak, hingga yang kontemporer mengambil karakter-karakter dalam film--misalnya dari Avatar dan Marvel Cinematic Universe. Beberapa patung bergaya klasik menjadi favoritku, bentuknya seperti patung-patung di Eropa. Ketika kubaca informasi pada bagian bawah, rupanya sang pematung memang berasal dari Italia.
Sebuah patung dari karakter dalam film Avatar (dok. pribadi)
Patung berjudul "Para Dewi" karya pematung Italia yang tak diketahui namanya (dok. pribadi)
Keberadaan patung-patung tersebut dalam rangka Yogyakarta International Creative Arts Festival (YICAF) 2025, sebuah agenda rutin yang dihelat FSRD. Penyelenggaran tahun ini merupakan kali ketiga, mengambil tema "Art Platform as International Art Connectivity". Tema itu dipilih sekaligus sebagai upaya FSRD dalam mendukung serta mewujudkan tujuan ISI Yogyakarta mencapai world class university yang terus terkoneksi dengan dunia luar.
Sebagai gambaran, di bawah ini kusertakan video pendek dari sebagian patung yang dipamerkan. Saat datang ke sana, kebetulan banget para mahasiswa sedang libur semester, sehingga bisa dapat suasana syahdu yang magis.
Festival atau pameran masih berlangsung hingga 31 Agustus 2025. Tak hanya di area halaman, pengunjung juga bisa menikmati karya-karya yang dipamerkan di dalam ruangan. Dan, bukan karya patung saja yang dipamerkan, tetapi ada karya-karya meliputi seni lukis, grafis, gambar, DKV, desain interior, fotografi, animasi, serta kriya.
Ada yang mengatakan,"Jangan percaya apa pun, cukup percaya pada makanan."Aku sepakat dengan pernyataan itu. Makanan tak akan membuatmu kecewa―setidaknya makanan yang memang disukai. Ia selalu tahu bagaimana cara menggembirakan orang-orang yang melahapnya.
Beruntungnya tinggal di Indonesia yang memiliki beragam kuliner. Dari sekian banyak macam makanan, satai adalah salah satu yang menjadi favoritku. Sate Madura, Sate Padang, Sate Ambal, Sate Taichan, semua suka... bahkan Sate Kere pun.
Nah, ngomongin perihal satai, di Jogja ada yang cita rasanya sudah mendunia, lho. Bukan karena cabangnya ada di seluruh dunia, melainkan restorannya sudah dikunjungi oleh para turis dari ratusan negara di dunia. Hingga tulisan berikut tayang, ada 104 negara yang warganya sudah menikmati kelezatan satai ini. Kok bisa?
Tiga Menu Sate Ratu yang Bikin Ketagihan
Tersebutlah Sate Ratu. Dalam sebuah obrolan bersama Pak Budi Seputro, salah satu pengelola sekaligus pemilik restoran, beliau mengisahkan bahwa awalnya Sate Ratu merupakan angkringan yang terletak di kawasan Jalan Solo. Pada tahun 2016, Angkringan Ratu berubah konsep menjadi Sate Ratu, dari yang sebelumnya menyediakan berbagai menu khas angkringan menjadi spesial satai. Ada tiga menu yang menjadi andalan restoran yang berlogo kepala ratu ini.
1. Sate Ayam Merah
Menu utamanya ialah Sate Ayam Merah atau selanjutnya dalam artikel akan kusebut Sate Merah saja. Basetaste satai ini berasal dari sebuah tempat di Lombok, kemudian diolah sedemikian rupa dengan mengombinasikan bermacam bumbu khas dari berbagai daerah sehingga menghasilkan cita rasa sempurna dan tak mudah dilupakan oleh siapa pun yang menyantapnya.
Berbeda dari sate ayam kebanyakan yang selalu ditemani bumbu kacang, Sate Merah ini pemberani, tak butuh teman. Dalam proses membuatnya, daging ayam yang telah dipotong dan ditusuk bambu, direndam bumbu khusus selama tiga jam sebelum dibakar. Bisa dibayangkan, bagaimana merasuknya bumbu merah yang bergelimang cabai tersebut. Tak hanya membuat sate jadi berwarna merah, wajah si penyantap pun akan memerah setelah memakannya.
sate merah yang menggoda (dok. pribadi)
Melihat penampakan sate yang berhiaskan banyak isi cabai, membuatku kemecer―perasaan semacam liur menjadi lebih banyak karena tergoda makanan. Pada gigitan pertama, yang terpikirkan olehku adalah, "Satenya enak banget!" Bumbunya benar-benar merasuk ke dalam dagingnya.
Wajar kalau kemudian sate tersebut tak butuh bumbu kacang sebagai pendamping. Proses pembakarannya pun pas banget. Menghasilkan daging yang empuk, lembut, dan terasa juicy, sebagai penanda daging dibakar dengan sempurna, tidak setengah matang dan tidak pula kematangan. Sedangkan untuk tingkat kepedasannya, menurut lidahku masih bisa ditoleransi, meskipun ada teman lain yang tidak tahan dengan pedasnya.
2. Lilit Basah
Beralih ke menu berikutnya yang juga merupakan andalan, yaitu Lilit Basah. Kira-kira, ini siapanya Sate Lilit? Saudaranya? Betul, Lilit Basah ala Sate Ratu merupakan transformasi dari Sate Lilit khas Bali. Tentu saja dengan bumbu yang berbeda.
Awalnya, menu itu memang bernama Sate Lilit yang tusuknya menggunakan bambu pipih. Seiring berjalannya waktu, permintaan Sate Lilit kian meningkat, bahkan ada yang pesan dalam jumlah ratusan/ribuan untuk sebuah acara. Lantas Pak Budi menyiasati dengan menghilangkan bambu, mengubah bentuk, serta proses memasaknya.
Kalau Sate Lilit proses memasaknya dengan cara dibakar, Lilit Basah cukup digoreng sebentar dengan mentega. Voila! Jadilah Lilit Basah yang diluncurkan sejak Juni 2018 lalu. Tanpa bambu bukan saja lebih menghemat waktu dalam proses produksinya, pun sebagai bentuk kepedulian dalam misi menyelamatkan Bumi, dengan mengurangi penebangan serta mengurangi sampah.
lembutnya lilit basah (dok. pribadi)
Dibandingkan Sate Lilit, bentuk dan penyajian Lilit Basah lebih mengundang selera. Dengan taburan bawang goreng dan irisan mentimun, semakin ingin segera melahapnya. Kian mantap dengan adanya kuah yang cenderung manis. Aku sempat mengira kuah tersebut sengaja dibuat untuk mengiringi Lilit Basah. Faktanya, kuah tersebut merupakan uap air hasil pengukusan daging yang telah dicincang.
Saat makan Sate Lilit, biasanya masih terasa ada parutan kelapanya, tetapi dalam Lilit Basah rasanya daging ayam semua, teksturnya padat dan empuk. Sesekali bisa kurasakan daun jeruknya yang sangat kuat. Pun sedikit rasa pedas yang aman bagi siapa pun. Pak Budi sempat menyebutkan, menu tersebut memang dibuat untuk mereka yang kurang suka pedas.
3. Ceker Tugel
Selain Sate Merah dan Lilit Basah, ada juga menu andalan ketiga, bernama Ceker Tugel. Tepat sekali! Menu ini merupakan potongan kaki ayam yang diolah dengan bumbu super pedas. Dibuat khusus untuk penikmat kuliner yang menggemari masakan pedas.
ceker tugel super huhah! (dok. pribadi)
Per porsi Ceker Tugel berisi 6-7 kaki ayam yang masing-masing dipotong menjadi dua, agar lebih mudah saat memakannya. Dimasaknya pun sampai empuk, sehingga ketika digigit langsung mrothol di dalam mulut. Siap-siap banjir keringat dan ingus yang menetes ketika menikmati kuliner pedas dengan bumbu rempah yang sangat kuat tersebut. Ditambah lagi nasinya hangat dan pulen. Duhh, jadi lapar!
Rahasia Sate Ratu Jadi Favorit Turis
Setelah menikmati tiga menu di atas, rasa penasaran mengapa restoran tersebut bisa disukai para wisatawan dalam negeri sekaligus turis mancanegara mulai terjawab. Menu-menu di Sate Ratu sangat berbeda dengan yang disajikan oleh restoran atau rumah makan lain yang sama-sama mengusung sate sebagai menu utama. Selain unik dan tiada dua, cita rasanya pun membuat susah untuk berpaling.
Masih dalam sesi obrolan bersama Pak Budi, beliau membagikan rahasia mengapa Sate Ratu bisa banyak penggemarnya. Di awal membuka Sate Ratu, kedatangan wisatawan asing masih bisa dihitung dengan jari. Bagi Pak Budi, hal tersebut justru dijadikan kunci pembuka agar wisatawan asing lainnya juga berkunjung dan menikmati masterpiece di restorannya.
proses pembakaran sate merah (dok. sate ratu)
Sajian yang istimewa saja tak cukup untuk membuat pelanggan merasa puas dan nyaman, karenanya Pak Budi selalu menyapa para tamu yang kemudian berlanjut dengan obrolan. Dari hal sederhana tersebut, pengunjung akan terkesan dan merasa mendapat pengalaman berbeda saat berkuliner. Karena merasa senang dan puas, biasanya pelanggan akan membagikan pengalamannya pada orang lain. Bisa dengan obrolan antar teman atau antar wisatawan saat di hotel/penginapan, bisa melalui review di portal panduan wisata semacam TripAdvisor, atau dengan bercerita di media sosial, dan sebagainya.
Mengetahui produknya semakin terkenal, Pak Budi tak menyia-nyiakan hal tersebut. Di lokasi restoran yang lama, beliau menyulap dindingnya menjadi ajang menulis pesan dan kesan para pengunjung dari berbagai negara. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan, memang sengaja memanfaatkannya sebagai salah satu ajang promosi, yang ternyata cukup afdal. Kini, di lokasi yang baru tulisan-tulisan tersebut ada dalam pigura yang bersanding dengan pigura-pigura piagam penghargaan dari berbagai media.
Di kalangan wisatawan, Sate Ratu sudah menjadi primadona yang seolah ada peraturan tak tertulis, kalau mengunjungi Jogja jangan lupa singgah ke Sate Ratu. Bahkan, para selebritas dan influencer pun tanpa di-endorse akan merekomendasikan sate ini sebagai salah satu kuliner terbaik saat di Jogja.
penggawa timnas, rizky ridho pun mampir (dok. sate ratu)
Hingga kemudian, muncul tagline"Sate Ratu kesukaan turis mancanegara dan Indonesia." Saking laris dan terkenalnya Sate Ratu dengan tiga menu andalan, banyak yang mengajukan untuk membuka cabang atau waralaba, tetapi selalu ditolak oleh Pak Budi. Beliau ingin Sate Ratu menjadi salah satu kuliner khas Jogja yang tak bisa dijumpai di tempat lain, sehingga keberadaannya akan melegenda.
Lokasi, Harga, dan Cara Mendapatkan Sate Ratu
Buat kamu yang berdomisili di Jogja, atau sedang mengunjungi Jogja dan penasaran juga dengan kelezatan Sate Merah serta gengnya yang masing-masing dibanderol seharga Rp33.000 per porsi, silakan langsung meluncur ke Jogja bagian utara di kawasan Condongcatur. Tepatnya di Jl. Sidomukti (GMap di akhir artikel), buka setiap hari pukul 11.00 sampai dengan 21.00 WIB.
Sedangkan bagi tim mager, jangan khawatir karena kamu tetap bisa menikmati tanpa harus beranjak dari rumah atau hotel. Menu-menu di Sate Ratu sudah bisa dipesan lewat aplikasi pesan makan online seperti GrabFood ataupun GoFood.
Kalau kata aku, sih, mending langsung datang ke restorannya, agar bisa merasakan serunya mengantre, atau kalau beruntung bisa berbincang dengan Pak Budi. Sekadar informasi, Sate Ratu tidak menerima reservasi, semua pengunjung dianggap sama, meskipun seorang pesohor.
Bukan rahasia kalau banyak seniman yang berasal atau tinggal di Jogja dan sekitarnya. Banyaknya budaya yang dimiliki oleh Jogja, bisa menjadi salah satu sumber inspirasi dalam berkarya. Seperti beberapa waktu lalu, aku mendapat kesempatan yang seru dan menyenangkan ketika diajak oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman untuk mengikuti agenda kunjung cagar budaya bersama Putera-Puteri Batik DIY, UMKM batik, serta para blogger dari Jogja dan sekitarnya. Lantas, apa korelasinya mengunjungi cagar budaya dengan inspirasi dalam berkarya? Simak tulisan ini sampai akhir, ya.
Kamis pekan ketiga Desember 2024 (19/12), pagi-pagi sebelum jam menunjukkan angka 8, aku sudah berada di halaman Kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Banyak peserta yang sudah tiba juga, dan nampak wajah mereka yang antusias untuk segera mengikuti tur hari itu. Sekira pukul 08.15, Mas Erwin Djunaedi, perwakilan dari Disbud Sleman sebagai koordinator teknis kegiatan membuka perjumpaan dengan memberikan briefing, disusul penjelasan singkat dari Ibu Endah K. Wardani selaku Kepala Seksi Cagar Budaya Disbud Sleman mengenai agenda kunjung cagar budaya yang rupanya rutin diadakan oleh Disbud Sleman dengan menggandeng berbagai komunitas.
Kabupaten Sleman memiliki puluhan candi yang tersebar di berbagai kecamatan/kapanewon. Sayangnya, masih jarang yang tertarik untuk mengunjunginya, kecuali candi-candi besar yang memang ikonik seperti Candi Prambanan atau Situs Ratu Boko. Kalau pun ada, biasanya sekadar untuk latar berfoto, belum banyak yang memahami tentang sejarah candi. Alasan itulah yang kemudian melandasi adanya agenda kunjung cagar budaya. Harapannya, semakin banyak yang mengerti tentang cagar budaya, khususnya candi, yang selama ini dekat dengan tempat tinggal kita.
Candi Sari dengan Segala Kesyahduannya
Kami menyambangi dua candi tertua bercorak Buddha yang ada di Kabupaten Sleman. Candi Sari menjadi jujugan pertama. Setiba di candi yang terletak di Dusun Bendan tersebut, kami sudah ditunggu oleh Mbak Shinta Dwi Prasasti, pamong budaya dari Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X yang akan menjadi pemandu pada hari yang sangat cerah itu. Mbak Shinta mengawali penjelasan Candi Sari dengan menyebutkan kalau catatan pertama tentang candi tersebut dilakukan oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java pada 1817, meskipun survei dilakukan olehnya sejak 1812.
Pembangunan Candi Sari diperkirakan di abad 8 Masehi, tepatnya tahun 778 Masehi. Pada saat itu merupakan era Mataram Kuno di bawah pemerintahan Rakai Panangkaran, dibangun bersamaan dengan candi kedua yang akan kami kunjungi juga. Para penasehat keagamaan dari Wangsa Syailendra menyarankan kepada Rakai Panangkaran agar membangun candi sebagai tempat pemujaan Dewi Tara dan biara untuk para pendeta Buddha.
penampakan Candi Sari (dok. pribadi)
Candi Sari tersebutlah yang diyakini dibangun sebagai biara atau asrama para pendeta. Namun, ada juga sumber lain yang memperkirakan sebagai wihara atau tempat beribadah, yaitu merujuk pada bangunannya yang bertingkat. Lantai atas sebagai tempat beribadah atau bermeditasi, sedangkan bagian bawah sebagai tempat untuk menaruh sesajinya.
Penemuan candi ini berlangsung pada abad 20 Masehi oleh seorang arkeolog Belanda. Ditemukan dalam kondisi yang rusak berat. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1929 hingga 1930, selanjutnya dilakukan restorasi bertahap sejak masa setelah proklasai hingga tahun 90an. Dahulu, di sekeliling candi juga diperkirakan ada pagar batunya yang sayangnya sudah tidak bisa dijumpai saat ini.
Kunjungan ke Candi Sari saat itu merupakan kali ke-2 bagiku. Yang terlintas di kepala masih sama dengan sewaktu kunjungan pertama. Candinya sangat cantik dan megah, suasana sekitarnya pun tenang dan syahdu. Ditambah lagi di sekitarnya banyak pepohonan yang membuat lindap saat duduk di bawahnya, sembari bengong mengagumi mahakarya dari nenek moyang.
Seperti candi beraliran Buddha lainnya, candi ini memiliki stupa di bagian atap. Pada dinding sekelilingnya dipenuhi relief indah, terutama bermacam bodhisatwa-nya yang saat berkeliling bersama dengan dipandu Mas Erwin, kami menghitung keseluruhan makhluk yang dimuliakan dalam ajaran Buddha tersebut berjumlah 36 karakter.
salah satu sisi Candi Sari dengan relief bodhisatwa-nya (dok. pribadi)
Saat masuk ke dalam candi, kami menemukan tiga ruangan yang pada dindingnya juga terdapat relief. Lantai atasnya sudah tidak ada berwujud, sehingga jarak ruangannya dengan bagian puncak terasa sangat tinggi, menciptakan hawa yang adem. Bahan lantai atas diperkirakan menggunakan kayu, sehingga sangat mungkin sudah rusak.
Candi Kalasan, si Tua Penuh Keunikan
Beralih ke tujuan kedua yang berjarak 750 m saja dari Candi Sari dan bisa ditempuh dalam waktu 2-3 menit dengan bus, kendaraan yang kami gunakan. Ialah Candi Kalasan. Kalau teman-teman pernah melewati jalan raya Jogja-Solo dan melihat candi yang terletak di pinggir jalan, itulah Candi Kalasan.
Candi bercorak Buddha ini merupakan yang tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti yang pernah disebutkan di atas, pembangunannya berlangsung pada tahun 778 Masehi bersamaan dengan Candi Sari. Dibuktikan dengan adanya prasasti yang ditemukan di sekitar selatan candi. Candi Kalasan merupakan satu-satunya candi di Indonesia yang memiliki nama sesuai dengan nama daerah yang disebutkan dalam prasastinya.
foto bersama di Candi Kalasan (dok. pribadi)
Dalam prasasti penanda berdirinya, disebutkan nama Tara Bhawana, menginformasikan bahwa kuil atau candi dibangun dengan tujuan memuliakan Dewi Tara, dewi penting dalam kepercayaan Buddha yang disinyalir sebagai salah satu ibu sang Buddha dari tiga masa.
Ada beberapa keunikan yang yang dimiliki oleh candi yang terletak di Dusun Kalibening ini. Di antaranya memiliki bajralepa, sebuah lapisan luar candi berwarna putih, semacam plester kuno untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme yang bisa merusak, juga untuk memperindah candi. Saat bulan purnama, lapisan tersebut akan bersinar keemasan ditempa cahaya bulan. Hal ini sangat membuatku penasaran, semoga suatu saat bisa membuktikannya dengan mata kepala sendiri.
berdiri di atas moonstone (dok. pribadi)
Candi Kalasan juga memiliki moonstone, sebuah batu di bagian pintu masuk candi yang menghadap timur, sebagai lambang batas antara dunia dan kahyangan. Kalasan adalah satu-satunya candi dengan moonstone pada era Mataram Kuno, yang terbuat dari satu batu utuh atau monolit. Biasanya, kuil-kuil yang memilikinya terletak di India bagian selatan atau di Sri Lanka, bedanya kalau di sana terdapat ukiran-ukiran pada batunya sebagai hiasan, sedangkan pada Candi Kalasan polos saja. Begitu penjelasan Mas Erwin yang saling melengkapi dengan penjelasan Mbak Shinta.
Dua Candi yang Kaya Relief Indah
Selain merupakan candi bercorak Buddha yang dibangun bersamaan, Candi Sari dan Candi Kalasan punya kesamana dalam hal relief. Dua-duanya memiliki motif relief yang sangat kaya atau beragam.
Dalam Candi Sari yang sempat kusinggung, ada 36 relief bodhisatwa yang semua wujudnya berbeda, dengan karakter keindahan masing-masing. Banyaknya karakter bodhisatwa tersebut tak lepas dari berkembangnya aliran Buddha yang ada di Indonesia, yaitu Buddha Mahayana. Aliran ini, selain memuja Shiddarta Gautama juga memuliakan bodhisatwa.
Beralih ke relief lain, ada Kala yang terdapat di atas pintu masuk candi, dengan maksud sebagai simbol melawan marabahaya. Uniknya, Kala di salah satu sisi Candi Kalasan, terdapat bentuk candi atau gambaran kahyangan tepat di atas kepalanya.
relief Kala di atas salah satu pintu masuk Candi Kalasan (dok. pribadi)
Di mana ada Kala, biasanya ada Makara juga. Makara ini makhuk yang tak kalah unik, perpaduan tiga hewan, biasanya terletak pada bagian bawah pintu atau tangga menuju candi. Kalau dalam mitologi Buddha digambarkan dalam wujud perpaduan makhluk laut dan gajah (hanya belalainya), mulutnya menganga dan terdapat makhluk singa. Mengapa singa? Karena hewan tersebut melambangkan sabdanya Buddha.
Ada pula relief Kinara Kinari yang merupakan sepasang makhluk surgawi bin kahyangan dengan wujud burung berkepala manusia, yang mengapit pohon kalpataru atau pohon kehidupan. Selain relief-relief yang sudah kusebutkan, masih ada banyak relief lainnya. Juga bisa dijumpai bermacam ragam hias seperti sulur-sulur tanaman, bentuk jambangan bunga atau yang disebut purnakalasa, pola geometri, dan sebagainya.
Relief sebagai Sumber Inspirasi Berkarya
Sangat banyaknya bentuk relief serta ragam ragam hias yang bisa ditemukan di Candi Sari dan Candi Kalasan menjadi alasan mengapa dua candi tersebut menjadi tujuan cagar budaya kali itu.
Adanya agenda kunjung cagar budaya bertema "Cagar Budaya sebagai Inspirasi Berkarya" yang sepenuhnya difasilitasi oleh Dinas Kebudayaam Kabupaten Sleman tersebut, diharapkan putera-puteri batik dan para UMKM batik mendapatkan inspirasi dalam membuat karya, yaitu dengan menciptakan motif batik yang diambil dari relief-relief indah yang dijumpai.
berburu inspirasi di candi (dok. pribadi)
Itulah yang menjadikan kunjungan kami siang itu sangat seru. Setelah mendapat penjelasan dari pemandu, para peserta bebas menikmati suasana candi dengan cara masing-masing. Duduk di bawah pohon sembari membuat sketsa batik yang langsung terlintas di kepala, berkeliling candi mengagumi mahakarya nenek moyang dengan mengamati detail pahatan reliefnya, hingga sekadar duduk bengong di bawah pohon menikmati suasana yang sangat tenang sembari membayangkan betapa peradaban nenek moyang kita pernah secemerlang itu.
salah satu bentuk ragam hias dalam relief candi (dok. pribadi)
Dari diskusi singkat sebelum penutupan acara setelah makan siang bersama, saya terkesan dengan ide slaha satu peserta dari UMKM batik yang terinspirasi memnciptakan motif batik dengan mengambil salah satu bentuk flora yang akan dijadikan motif ceplok, juga yang mendapatkan ide untuk membuat motif batik dari ragam hias jambangan yang akan dikolaborasikan dengan motif lainnya. Rasanya tak sabar juga melihat hasil karya teman-teman dari Putera-Puteri Batik DIY dan para pelaku UMKM batik.
Pada akhir acara, Bu Endah menyatakan kalau dalam undang-undang, cagar budaya, termasuk candi, harus dilindungi. Langkah melindunginya dengan tiga cara, yaitu pembersihan atau perawatan, pengembangan (melalui penelitian), serta pemanfaatan. Pemanfaatan inilah yang ingin ditonjolkan oleh Disbud Sleman, karena sebuah candi tidak diketahui manfaatnya kalau orang-orang tidak mengenalnya, baik dari sisi sejarah maupun filosofinya.
kerudung Mbak Shinta merupakan contoh kreasi fashion yang terinspirasi dari cagar budaya, berupa gambar candi peninggalan Majapahit (dok. pribadi)
Dengan mengkreasikan motif batik dari relief-relief candi, harapannya bisa memperkenalkan candi melalui media yang bisa dinikmati oleh banyak pihak, salah satunya lewat dunia fashion. Sehingga banyak pula yang kemudian penasaran, dan para akhirnya semoga bisa menuntun mereka untuk mengunjungi candi. Lantas, lewat tulisan ini, tentunya juga untuk menambah wawasan teman-teman pembaca mengenai cagar budaya yang ada di sekitar kita, agar tak sekadar sebagai latar berfoto saat mengunjunginya.
Bloger asal Jogja ini suka memandang hujan, tetapi lebih sering berbinar karena langit biru. Gemar mendengarkan musik, tetapi tidak dengan menyanyi. Kadang jalan-jalan, kadang menonton film/serial, kadang membaca buku, dan mencoba untuk rutin menulis. Silakan kirim surel ke mesha.christina@gmail.com, apabila ada pertanyaan, penawaran kerja sama, atau ajakan kolaborasi.