The Iberian Derby, Portugal vs Spain.
(sumber: shutterstock)

Sebagai pendukung Spanyol, selalu ada euforia tersendiri bagiku tiap tim berjuluk La Furia Roja tersebut berjumpa Portugal. Bukan, ini bukan perihal taktik siapa yang terhebat ataupun persaingan skill individu antar pemain. Bagi penonton awam, laga Spanyol melawan Portugal mungkin terlihat sebagai duel dua tim besar bertabur bintang saja. Namun, jika menilik sejarah di Semenanjung Iberia, ada bayangan masa lalu yang turut mengiringi. The Iberian Derby, begitulah julukan yang disematkan untuk rivalitas dua negara tersebut, yang sejatinya merupakan kelanjutan dari konflik ratusan tahun lalu yang "dipindahkan" ke atas lapangan hijau.

Secara historis, Portugal selalu memposisikan diri sebagai saudara muda yang gigih mempertahankan kedaulatannya dari cengkeraman Spanyol. Ingatan masyarakat Portugal tidak akan lupa pada era Uni Iberia (1580–1640), ketika Spanyol mencaplok wilayah mereka selama 60 tahun, atau bagaimana berdarah-darahnya Perang Restorasi demi mengusir pengaruh Madrid. Barangkali, sentimen sebagai pihak yang menolak tunduk inilah yang melahirkan underdog mentality ketika Portugal bersua Spanyol.

Memang unik, di era modern perang tersebut menjelma adu gengsi taktis. Pada abad ke-15, lewat Perjanjian Tordesillas, mereka bersepakat membagi dunia di luar Eropa menjadi dua wilayah kekuasaan, hingga dalam pelayarannya mereka bertemu di Nusantara, tepatnya di Maluku. Sedangkan kini, di lapangan sepak bola, mereka bergantian unjuk taktik. Jika Spanyol tampil lebih segar lewat gaya tiki-taka 2.0 yang tetap bermain kolektif tapi langsung menusuk ke depan, Portugal lebih suka bermain dengan operan sabar dan mencoba mengurung lawan secara perlahan sebelum melepaskan serangan mematikan.

Salah satu representasi terbaik dari sejarah itu tergambar kala Piala Dunia 2018 di Rusia. Laga fase grup yang mempertemukan keduanya berakhir imbang 3-3 bukanlah sekadar drama sepak bola. Ketika CR7 mencetak hat-trick untuk menjegal kemenangan Spanyol, ia sedang memperagakan ulang apa yang dilakukan pasukan Portugal dalam Pertempuran Aljubarrota berabad-abad silam. Iya, enggan takluk terhadap bayang-bayang kebesaran Spanyol (saat itu masih Castilia). Syukurnya, hubungan Portugal dan Spanyol di masa kini sangatlah harmonis dan saling mendukung seperti saudara, terkhusus di bidang ekonomi serta geopolitik.

Iberian Derby. Laga Portugal vs Spanyol selalu seru, ada bayang-bayang sejarah yang dibawa..
The Iberian Derby (sumber: X @goal)

Pada akhirnya, Derbi Iberia adalah bukti bagaimana sepak bola merawat memori sebuah bangsa. Ketika peluit panjang tanda dimulainya pertandingan dibunyikan wasit, Spanyol bertanding seolah membawa kebesaran imperiumnya, sementara Portugal berlari dengan semangat yang tak pernah padam. Selalu berlangsung sengit, 90 menit di lapangan hijau menjadi ruang aman bagi keduanya untuk bertarung, tanpa perlu ada darah yang tertumpah lagi.

Seperti yang akan kita nikmati dalam duel 16 besar Piala Dunia 2026 yang kembali mempertemukan Portugal dengan Spanyol dini hari nanti. Siapa yang akan terus melaju? Meski belum sepenuhnya yakin pada  performa anak-anak asuh Luis de la Fuente, tetapi aku optimis Rodri dan kawan-kawan akan menang! Tipis.


***