Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta di Kauman
Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta (dok. pribadi)

Sebuah pertanyaan bagi orang Jogja atau yang sempat mengunjunginya. Pernah salat di Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta? Tak harus salat, minimal berada di areanya.

Ketika berada di sana, adakah yang memperhatikan kalau masjid tua yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I ini memiliki arsitektur unik?


Masjid sebagai Salah Satu dari Catur Gatra Tunggal

Masjid merupakan salah satu dari empat komponen utama syarat berdirinya sebuah kerajaan Islam di Jawa. Konsep ini dikenal sebagai catur gatra tunggal, tiga komponen lainnya yaitu keraton atau istana, alun-alun, serta pasar.

Tentu saja, keberadaan masjid adalah bentuk penegasan bahwa sebuah wilayah tersebut merupakan kerajaan Islam.

Fasad Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta
Fasad masjid (dok. pribadi)

Didirikan tahun 1773, tepatnya tanggal 29 Mei 1773 Masehi atau 6 Rabiul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699, dengan penghulu keraton Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat sebagai pengawas pembangunan, Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta memiliki bentuk berbeda dengan gaya masjid pada umumnya yang berkubah.


Arsitektur Atap Masjid Gedhe Keraton Mengadopsi Bentuk Meru pada Pura

Masjid-masjid pada era Mataram Islam dibangun menggunakan arsitektur tajug tumpang tiga atau tajug lambang teplok.  Hal itu masih terus berlangsung saat Mataram Islam pecah menjadi Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Penggunaan gaya arsitektur itu berawal dari pembangunan Masjid Agung Demak.

Tajug tumpang tiga merujuk pada atapnya yang berbentuk limasan bertingkat tiga. Atap bertingkat tersebut mengadopsi dari meru (menyerupai gunung) yang merupakan ciri khas rumah ibadah umat Hindu di Jawa kala itu.

Atap Masjid Keraton Yogyakarta berbentuk tajug tumpang tiga
Bentuk atap tajug tumpang tiga (dok. pribadi)

Mengapa mengadopsi arsitektur Hindu di Jawa, mengapa tidak mengadopsi gaya masjid berkubah seperti di Jazirah Arab yang notabene merupakan asal dari agama Islam?

Saat Islam masuk ke tanah Jawa, agama Hindu lah yang berkembang di sana. Dalam proses persebaran Islam, Walisongo tidak serta-merta membangun sebuah tempat ibadah yang "asing" bagi orang-orang Jawa di masa itu. 

Di agama Islam, tidak ada syarat dan ketentuan dalam membangun masjid bentuknya harus begini atau begitu, maka para wali kemudian mengadopsi gaya arsitektur pura menjadi bentuk tajug tumpang tiga pada Masjid Agung Demak, lantas diikuti masjid-masjid lainnya di Jawa.


Makna Filosofis pada Atap Masjid Gedhe Keraton

Setiap tingkat pada atap masjid itu memiliki filosofi tersendiri. Dari bawah ke atas masing-masing menggambarkan iman (keyakinan), islam (berkaitan dengan tarekat), dan ikhsan (titik tertinggi dari keberagamaan, berserah kepada Allah). 

Sebagai ciri bahwa masjid tersebut milik Sultan, maka di puncak atap dipasang hiasan mahkota berbentuk bunga. Hiasan pada puncak masjid disebut mustaka, bentuknya merupakan stilirisasi dari daun kluwih, bunga gambir, dan gada.

Mustaka pada puncak Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta
Detail mustaka pada puncak atap masjid (dok. kratonjogja)

Daun kluwih bermakna linuwih atau lebih, itu berarti manusia akan memiliki kelebihan jika telah melewati tiga tahapan ilmu tasawuf. Bunga gambir berbentuk bulat, memiliki makna arum angambar atau keharuman yang menebar. Berada paling atas ada gada yang melambangkan keesaan Allah SWT.


Penutup

Bukan rahasia kalau orang Jawa itu manusia simbol. Segala sesuatunya dibuat atau dilakukan dengan berbagai simbol yang memiliki makna dan tujuan baik. Termasuk pada bentuk masjid yang berkembang di masa kerajaan-kerajaan Islam dahulu. Ini baru membahas atapnya, lain waktu semoga aku bisa membahas tentang makna serta fungsi bagian lainnya di dalam maupun di area luar masjid.

Sekadar tambahan, masjid yang sedikit kubahas di atas juga dikenal sebagai Masjid Gedhe Kauman, malah sepertinya nama itu lebih kondang. Namun sebenarnya, masjid tersebut milik Keraton Yogyakarta--bukan milik Kampung Kauman, dan bernama resmi Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi, bagi yang masih menyebutnya sebagai Masjid Gedhe Kauman maupun Masjid Kauman, bisa diubah ke Masjid Gedhe Keraton, atau Masjid Gedhe saja malah tak mengapa.


***