June 19, 2013


Di kala sore yang dingin sehabis hujan ini, tiba-tiba saja aku kepingin makan pakai sayur bobor dengan lauk baceman plus sambal jenggotnya yang menggugah selera. Tapi, sepertinya keinginanku ini tak bakal kesampaian. Di siang hari saat banyak orang berjualan sayur matang saja jarang yang menyediakan sayur bobor, apalagi sore-sore begini. Trus, aku cuma bisa membayangkannya sambil kemecer. Huaaaa... :(

Gara-gara keinginanku makan pakai sayur bobor, aku jadi teringat kalau pernah menulisnya dalam lapak milik salah satu portal berita besar di Indonesia. Ketika itu, aku masih semangat-semangatnya menulis di sana. Tanpa banyak ba-bi-bu, aku segera membaca dan pastinya menulisnya  ulang di sini dengan cita-rasa yang berbeda, karena di sono sudah jarang disambangi. :P

Sayur bobor bagi sebagian masyarakat Jawa identik dengan proses menyapih anak.  Lho, memang ada hubungannya? Ada dong! Sebagian masyarakat Jawa tersebut memiliki tradisi berjualan sayur bobor ketika menyapih anaknya. Itu jaman dulu sih, saat ini aku sudah jarang mendapati orang yang melakukan tradisi tersebut. Mungkin dikarenakan di jaman yang serba modern ini orang lebih suka praktisnya saja, enggan melakukan hal-hal yang merepotkan dan (mungkin) juga memakan biaya. Padahal, ditilik dari nilai filosofisnya bagus juga lho.

Masih tersimpan jelas dalam ingatanku, dulu para tetangga datang ke rumah yang sedang memiliki gawe. Mereka berduyun-duyun membawa mangkuk dan mengantre untuk membeli sayur bobor. Tak hanya membawa mangkuk, mereka juga membawa kreweng―pecahan genteng. Ya, untuk membeli sayur bobor dalam tradisi menyapih, kreweng lah yang digunakan sebagai uang atau alat bayarnya. Seru, bukan?!

susu botol sebagai pengganti nenen (okezone.com)
Pengertian menyapih sendiri adalah proses bertahap, yaitu mula-mula mengurangi frekuensi pemberian ASI, sampai dengan berhentinya proses pemberian ASI dari ibu pada anaknya. Di kalangan orang Jawa, menyapih anak biasanya dimasakkan sayur bobor yang terdiri dari daun bayam, labu siam, serta daun kemangi. Sebagai pelengkap, sayur tersebut biasanya disertai sambal dari parutan kelapa―seperti bumbu gudangan, tapi tidak manis―yang disebut sambal jenggot.

Menyapih biasanya dilakukan saat anak sudah saatnya berhenti menyusu dari ibunya, biasanya ketika berusia 18-24 bulan. Berdasarkan yang aku lihat dulu-dulu, seorang anak ada yang mudah bisa disapih dan ada pula yang sulit dipisahkan dari ASI. Oleh karena itu, dilakukanlah tradisi berjualan sayur bobor.

Mengapa keluarga si anak yang disapih berjualan sayur bobor? Hal tersebut dilakukan agar anak yang disapih merasa senang karena banyak orang berdatangan ke rumahnya. Harapannya, tentu saja agar perhatiannya ke ASI akan teralihkan. Dan, mengapa para pembeli harus membawa kreweng sebagai alat bayarnya? Dalam bahasa Jawa ada sebuah kata majemuk gembeng-kreweng yang berarti cengeng sekali (gembeng = cengeng, rewel). Dengan digunakannya kreweng sebagai alat bayar, dimaksudkan agar anak yang sedang disapih tidak rewel atau nangis terus, karena gembeng-nya sudah bersatu dengan kumpulan kreweng yang nantinya akan dibuang. Selain itu, apa yang terkandung dalam sayur bobor juga menyehatkan. :D

Oh iya, di atas aku menyebutkan kalau tradisi berjualan sayur bobor dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa. Aku sebut sebagian, karena aku memang tak tahu dan tak yakin apakah tradisi tersebut ada di seluruh masyarakat Jawa atau hanya di daerahku saja. Bagaimanapun, aku suka dengan apa yang dimaksudkan dalam tradisi berjualan sayur bobor. Alasannya, tentu saja agar bisa mendapatkan sayur bobor bermodal pecahan genteng. Hahaha...

sayur bobor lengkap dengan rangkaiannya (garangasemdjogja.wordpress.com)

Jadi, ada yang mau kirim ransum berisi seperti gambar di atas untuk makan malamku nanti?? Akan diterima dengan senang hati. *ngarep* :))

***

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates