August 27, 2013


Sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada.  Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun? Apa pendapatmu mengenai hal itu?

Baiklah, di hari kedua #10daysforASEAN ini para peserta diajak untuk berwisata sejarah. Kebetulan sekali, aku sangat gemar dengan hal-hal berbau sejarah. Tapi, meskipun mengaku tertarik dengan sejarah, sebenarnya pengetahuanku tentang sejarah lokal sangatlah cetek. *malu* Jadi, hayuk saja kalau musti berselancar di dunia maya untuk mencari referensi yang berhubungan dengan tema  hari ini.

Back to topic! Dibandingkan dengan Candi Borobudur yang terletak di tlatah Magelang, Kuil Angkor Wat yang terletak di Kamboja penampakannya justru lebih mirip dengan Candi Prambanan. Hal tersebut tentu saja karena keduanya dibangun pada masa kerajaan dengan agama Hindu yang dianut oleh masyarakatnya. Seperti yang kita tahu, candi atau kuil bergaya arsitektur Hindu memiliki ciri salah satunya bangunan yang menjulang tinggi dan mengerucut di bagian atasnya. Tampak menyerupai gunung, karena bagi umat Hindu, gunung merupakan tempat suci yang dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa.

Namun, menurut para arkeolog dan sejarawan yang telah mengamati secara lebih detail, rupanya relief pada dinding Angkor Wat justru lebih mirip dengan relief yang terpahat pada Borobudur―meskipun tetap ada kemiripan dengan relief di Prambanan. Padahal, Borobudur merupakan candi dengan gaya arsitektur Budha dan telah dibangun tiga abad sebelum adanya Angkor Wat. Mengapa bisa mirip mungkin tak perlu diperdebatkan, karena sudah jelas kalau dalam kepercayaan Hindu dan Budha memiliki Dewa-dewa dengan nama yang hampir sama. Selain itu kisah mitologi dalam kedua kepercayaan tersebut juga mirip. Bahkan, sekitar dua abad setelah pembangunannya, Angkor Wat juga diubah dari tempat peribadatan Hindu menjadi tempat peribadatan Budha.

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah, adanya kesamaan relief candi di Kamboja sana dengan candi-candi di Indonesia apakah merupakan tanda kalau negara kita berasal dari rumpun yang sama dengan Kamboja dan juga negara-negara ASEAN lainnya? Sebelumnya, definisi rumpun dalam hal ini adalah golongan besar bangsa (bahasa) yang sama asal dan jenisnya; bisa juga bangsa-bangsa yang berasal dari nenek moyang yang sama.

Kalau ada perkiraan negara-negara ASEAN itu masih satu rumpun, menurutku itu mungkin saja. Namun, bukan berarti keseluruhan negara ASEAN berasal dari nenek moyang yang sama. Ditilik dari bahasa yang digunakan, sebenarnya ada dua rumpun bahasa yang berkembang di wilayah Asia Tenggara. Pertama, rumpun bahasa Austro-Asia yang dalam perkembangannya kemudian dibagi menjadi berbagai bahasa, di antaranya bahasa Mon-Khmer yang dituturkan di Kamboja dan Vietnam. Kemudian, yang kedua adalah rumpun bahasa Autronesia, yaitu induk dari aneka ragam dialek Melayu yang digunakan di Indonesia, Singapura, Malaysia, serta Brunei Darussalam. Bahasa Tagalog yang digunakan di Filipina dan bahasa Thai yang dituturkan di Thailand pun masih tercakup dalam rumpun bahasa Austronesia. Sedangkan bahasa yang digunakan di Laos merupakan turunan dari bahasa Thai. Hanya Myanmar saja yang rumpun bahasanya berbeda sama sekali, yaitu rumpun bahasa Sino-Tibet atau Cina-Tibet.

Diperkirakan, nusantara telah menjalin kerja sama dengan bangsa-bangsa lain sejak jaman nenek moyang terdahulu. Perdagangan merupakan hal yang paling mungkin dijalin antar daratan-daratan lain, termasuk yang berada dalam wilayah Asia Tenggara. Bisa dikatakan, jalinan persaudaraan negara-negara ASEAN memang sudah ada sejak masih banyaknya kerajaan-kerajaan yang berdiri.

saling membaur dan bekerja sama antar anggota ASEAN


Kesamaan tujuan untuk berkembang menjadi lebih baik membuat nenek-nenek moyang kita akhirnya terus bekerja sama. Bukan hanya dalam perdagangan saja, tapi pada akhirnya berkembang pula dalam hal pertukaran budaya, pernikahan antar ras, penyebaran bahasa, bahkan penyebaran agama. Hal terakhir yang kusebutkan merupakan salah satu alasan mengapa Borobudur dan Angkor Wat bisa memiliki kemiripan relief. Jauh sebelum Islam dan Nasrani masuk ke Asia Tenggara, Hindu dan Budha telah lebih dulu masuk dari negara India. Perkembangan dua kepercayaan tersebut menggunakan bahasa Sansekerta, sehingga tak heran bila cerita-cerita dalam relief biasanya juga menggunakan bahasa Sansekerta. Bahasa Sansekerta yang pada mulanya hanya digunakan sebagai bahasa keagamaan, akhirnya juga memengaruhi bahasa sehari-hari yang dituturkan. Pasti tahu kan kalau saat ini banyak kata-kata dari bahasa Sansekerta yang diserap dalam bahasa Melayu, begitu pun yang terjadi dengan bahasa Thai, Mon-Khmer, dan sebagainya.

Adanya kemiripan akar sosial-budaya yang melatari, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN memang sudah seharusnya menjalin hubungan dengan tetap saling menghormati perbedaan yang ada. Pembentukan Komunitas ASEAN yang sedianya akan diwujudkan tahun 2020 pun akhirnya dipercepat menjadi tahun 2015. Salah satu pilar yang telah disepakati oleh para Kepala Negara dalam Komunitas ASEAN 2015 adalah sosial-budaya. Dari hal tersebut, ASEAN bisa lebih banyak peduli dan berbagi antar negara anggotanya. Bekerja sama saling menguntungkan dan kelak ASEAN diharapkan menjadi kawasan industri yang maju tanpa melupakan peninggalan peradaban-peradaban yang sudah dibangun sejak nenek moyangnya. Semoga!

***


Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates