Pagi ini, secara tak sengaja membaca deretan kalimat,

Kelak sejarah akan mencatat, betapa peradaban diselamatkan oleh kesunyian. Dan, betapa keramaian justru menimbulkan musibah di mana-mana.

Dalam keadaan seperti sekarang, kesunyian atau kesepian memang menjadi jalan terbaik untuk sebuah keselamatan. Namun, banyak yang merasa tersiksa dengan kesunyian tersebut. Betapa manusia selama ini sangat memikirkan kefanaan duniawi yang identik dengan keramaian.

Ketika kondisi normal pun, manusia lebih memilih menghindari kesepian. Seolah-olah kesepian dianggap hal yang merana. Nyatanya, kini nyaris semua manusia justru harus mengalami perasaan seperti itu.

Aku yang terbiasa nyaman dengan sunyi atau sepi, tak ada masalah dengan apa yang harus dilakukan sekarang. Memang berkawan sunyi itu menyenangkan, sejatinya. Namun, tak semua orang mampu menjalaninya.

Terbiasa dengan sunyi, bahkan sebelum pandemi

Entah, sudah berapa banyak air mataku tertumpah untuk orang-orang di luar sana, apalagi ketika memohon pertolongan serta belas kasih-Nya. Hari demi hari kian banyak berita menyedihkan. Aku yang memiliki kecemasan berlebih seharusnya tak boleh terpapar berita-berita yang membuat semakin khawatir, takut, bahkan mengalami psikosomatis.

Lantas, aku memilih untuk menjadi mati rasa. Sebenarnya bukan mati rasa, hanya tak ingin memikirkannya terlalu dalam. Karena, dengan semakin banyak berpikir, membuat kesehatan mentalku terganggu.

Meski begitu, tak akan pernah berhenti berharap, kami semua pasti mampu melawan dan mengalahkan korona. Manusia benar-benar lemah, ditumpangi makhluk tak kasat mata saja, segalanya kacau. Di sisi lain, manusia juga makhluk paling cerdas, yang akan menemukan jalan menembus badai ini dan sampai di taman hijau nan sejuk.

Peradaban memang bisa terselamatkan oleh kesunyian, tetapi peradaban juga akan terus tumbuh dengan adanya keramaian.

***

**Jogja, penghujung Maret 2020

Shalluvia. 2022 Copyright. All rights reserved. Designed by Mesha Christina.