November 13, 2013


Di era yang serba modern ini, segala sesuatunya bisa didapatkan atau dilakukan dengan mudah, sehingga terkadang membuat kita menjadi begitu konsumtif. Ditambah lagi dengan mudahnya mengakses internet, hampir segalanya jadi bisa dilakukan dari satu tempat saja, asalkan kita memiliki sambungan internet dan gadget yang menunjang. Jadilah kehidupan kita di masa kini semacam terperangkap dalam sebuah kotak  berlayar kaca di depan mata yang mampu membawa kita ke mana saja, pun melakukan apa saja. Bahkan dalam hal permainan, kebanyakan anak jaman sekarang sudah tak bisa lepas dari gadget di tangan. Berbagai permainan atau mereka lebih senang menyebutnya sebagai games, bisa dilakukan melalui smartphone, tablet, ataupun laptop. Mulai dari yang sederhana hingga memerlukan keahlian khusus, semua ada. Mulai dari yang tak membutuhkan sambungan internet, hingga yang memerlukan jaringan internet super kilat juga ada. Inilah yang tanpa sadar membuat anak-anak di era modernisasi ini menjadi egois dan individualis.

anak-anak dengan gadget di tangan (sumber gambar)

Berbeda dengan ketika saya masih bocah. Saya biasa menyebut masa bocah saya dengan sebutan generasi 90-an, karena di rentang tahun tersebut saya menghabiskan masa kecil. Belum adanya gadget yang membombardir kehidupan masa kecil saya dan juga kawan-kawan sebaya lainnya, membuat kami lebih kreatif dalam bermain. Kreatif maksudnya, dalam bermain kami tak hanya duduk, tetapi juga melakukan berbagai macam gerak dan lagu. Masih teringat dengan jelas, saya dan kawan-kawan hampir setiap hari bermain bersama di halaman rumah, di halaman sekolah, di pelataran balai, di lapangan kampung, atau sekedar di teras rumah. Kami melakukan berbagai permainan mulai dari yang individu seperti gasing, yoyo, layangan, dakonan (congklak), bola bekel, beradu kelereng (gundu), dan sebagainya. Sedangkan permainan kelompok yang biasa dilakukan adalah jamuran, ancak-ancak alis, gobak sodor, cublak-cublak suweng, yeye (lompat tali), jethungan (petak umpet), dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-persatu.

berbagai permainan tradisional (sumber gambar)

Dari sekian banyak permainan tradisional yang pernah saya mainkan bersama kawan-kawan, semuanya menarik. Namun, cublak-cublak suweng yang begitu membekas di hati saya. Meski sederhana, permainan tersebut menarik dari berbagai segi. Ya menarik namanya, ya menarik cara memainkannya, ya menarik lirik lagu yang mengiringinya, bahkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya pun menarik. Berbicara tentang cublak-cublak suweng, saya selalu teringat pada simbah putri yang telah memperkenalkan permainan cublak-cublak suweng pada saya, meski sebenarnya tanpa dikenalkan oleh simbah pun pasti saya juga tetap akan mengenalnya, karena di masa kecil saya banyak anak-anak yang bermain cublak-cublak suweng. Ya, bagaimanapun saya tetap harus berterimakasih pada simbah putri.
Pada malam hari, di saat bulan memantulkan sinar matahari dengan sempurna, saya dan kawan-kawan, setelah belajar akan keluar rumah kemudian menuju halaman rumah salah satu kawan dan bermain bersama. Di bawah terang bulan, kami bermain ancak-ancak alis, jamuran, dan juga berkejaran kesana-kemari. Sangat mengasyikkan! Lalu kalau sudah lelah, kami beristirahat. Bukan sembarang istirahat, karena dalam posisi duduk, kami tetap saja bermain. Tentu saja cublak-cublak suweng yang kami mainkan. Sebelum memulai permainan, kami melakukan hompimpah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Pak Empo. Pak Empo ialah anak yang kalah dalam hompimpah, kemudian ia akan berbaring telungkup sedangkan kawan-kawan lainnya duduk melingkari dan menaruh telapak tangan dengan posisi terbuka di atas punggung Pak Empo. Permainan tersebut bisa diikuti oleh banyak anak sekaligus, selama punggung Pak Empo masih bisa memuat telapak tangan-tangan peserta.

Oh iya, sebelum melakukan pemainan cublak-cublak suweng, jangan lupa mencari benda apapun yang bentuknya kecil dan bisa digenggam. Bisa kerikil, logam, dan sebagainya—biasanya kami menggunakan kerikil. Benda tersebut nantinya akan dianggap sebagai suweng (giwang). Setelah siap, barulah kami memulai permainan dengan menyanyikan lagu yang liriknya sebagai berikut:

Cublak-cublak suweng
Suweng e ting gelenter
Mambu ketundung gudel
Pak Empo lirak-lirik
Sopo ngguyu ndelikkake…

Sir, sir pong dele gosong
Sir, sir pong dele gosong
Sir, sir pong dele gosong…

Hehehe… lucu ya liriknya? Sambil menyanyikan lagu di atas, si pemegang ’suweng’ akan memutar kerikil dari satu telapak tangan ke telapak tangan anak-anak lain, seolah akan memberikan pada salah satu dari mereka. Begitu seterusnya hingga lagu di bait pertama habis. Ketika masuk bait kedua, ’suweng’ sudah digenggam oleh salah satu anak, Pak Empo bangun dan anak-anak lainnya menutup kedua tangan seperti menggenggam sesuatu, tapi bagian telunjuknya terbuka. Lalu, kedua tangan posisi menggenggam tadi diangkat setinggi dada serta digoyangkan sambil menyanyi dan mengikuti irama lagu bait kedua hingga selesai.

hayooo... sopo ngguyu ndelikkake! (sumber gambar)

Saat anak-anak menyanyikan bait kedua tersebut, Pak Empo akan kebingungan menebak siapa yang membawa suwengnya. Awas, di bagian ini Pak Empo seringkali terkecoh karena biasanya anak-anak selalu menunjukkan pertanda seolah mereka yang menyembunyikan ’suweng’. Kalau Pak Empo berhasil menebak siapa pembawa ’suweng’, maka anak yang ditunjuk tersebut akan menjadi Pak Empo selanjutnya, tetapi kalau salah tebak maka ia pun akan menjadi Pak Empo kembali. Begitu seterusnya sampai kami lelah bernyanyi dan bermain. :P Dulu, kalau ada anak yang menurut kami nakal dan kebetulan ia menjadi Pak Empo, maka biasanya ia akan dijendilke atau sengaja dibuat menjadi Pak Empo terus sampai ia bosan dan lelah telungkup. Caranya dengan menyembunyikan ’suweng’ di tempat lain, bukan di tangan salah satu dari kami, dengan begitu, siapapun yang ia tebak, maka tak ada yang benar. Puas rasanya kami bisa ‘balas dendam’ pada anak tersebut, hahaha…

Kelihatannya memang hanya menyanyi dan menyembunyikan benda kecil, namun permainan cublak-cublak suweng ada manfaatnya juga bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Dengan memainkan permainan tersebut, efek yang paling sepele adalah secara tidak langsung anak akan diajak belajar menyanyi dan menghafal lagu, juga berlatih kekompakan dalam menyamakan ritme lagu dan gerak tangan. Selain itu, anak pun akan belajar bagaimana harus menjaga sebuah rahasia.

Bukan rahasia lagi kalau orang Jawa pada dasarnya memiliki budaya senang berkumpul, meski dalam kegiatan tersebut sekedar duduk-duduk dan mengobrolkan hal yang ‘tak penting’. Dari kebiasaan suka berkumpul itu bisa ditebak kalau mungkin dulu permainan-permaian tradisional Jawa juga muncul dari kebiasaan berkumpul. Hal itu bisa dilihat dari berbagai permainan dalam masyarakat Jawa yang kebanyakan melibatkan banyak anak. Salah satunya ya cublak-cublak suweng yang sudah saya sebutkan di atas.

Permainan anak tradisional dilakukan tak hanya untuk mencari kesenangan, melainkan juga memberi dampak positif dan media belajar bagi anak-anak. Dampak yang paling jelas dengan melakukan permainan tradisional yaitu mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan teman. Selain itu, permainan tradisional juga mampu: melatih gerak motorik dan kreatifitas, melatih kemandirian, mengajarkan arti kesetiakawanan, mengajarkan bagaimana cara mengendalikan diri dan emosi, belajar saling menghargai, belajar bekerja sama, berlatih kesabaran, hingga diajarkan bagaimana cara berempati terhadap orang lain. Seperti yang telah diketahui, masa kanak-kanak merupakan masa perkembangan otak yang paling bagus untuk mengajarkan berbagai pengalaman serta pelajaran hidup yang kelak akan mempengaruhi kepribadian ketika dewasa.

Sebagai tambahan, dalam melakukan permainan tradisional, anak-anak selalu mengawalinya dengan hompimpah. Apapun permainannya, jangan lupa hompimpah dulu! Asal tahu saja, dalam hompimpah pun ada makna yang terkandung di baliknya. Hompimpah kalau diuraikan memiliki makna tertentu yang kandungannya sangat bagus. Hompimpah alaihom artinya dari Tuhan kembali ke Tuhan. Jadi ketika anak-anak melakukan hompimpah sebelum melakukan permainan, secara tak langsung mereka belajar arti kepasrahan. Ketika akhirnya mengucap gambreng, mau tangannya menengadah ke atas, mau tangannya tengkurap, mereka tidak peduli. Tak peduli dalam artian pasrah mau menang atau kalah, pokoknya mereka bisa bermain bersama.

ular naga panjangnya bukan kepalang... (dok. pribadi)

Mulai hilangnya atau sudah sulit dijumpainya permainan tradisional di masa kini sangat disayangkan, karena itu tandanya juga menghilangnya salah satu nilai budaya Indonesia. Tentunya, kita semua tak ingin jika pada akhirnya salah satu budaya tersebut akan benar-benar musnah. Kalau mau menyadari, orang dewasa sebenarnya juga turut andil sebagai penyebab mulai menghilangnya permainan tradisional. Sebagai orang dewasa, kita sering kali khilaf dengan tak lagi mengajak dan mengajarkan anak-anak kita, adik-adik kita atau anak-anak di sekitar kita bagaimana bermain bersama tanpa campur tangan teknologi. Jadi, untuk mencegah kemusnahan permaian tradisional, mulai sekarang kita bisa mengajak dan mengajarkan anak-anak di sekitar kita untuk bermain bersama di alam terbuka, sejenak meninggalkan gadget di tangan. Mari bermain bersama… ;)

***

*tulisan ini pernah dipublikasikan di akun kompasiana-ku, ditulis ulang di sini karena untuk update blog saja. :P

3 comments:

  1. Dulu waktu masih langsing, sering main lompat karet... :D
    Rindu masa kecil dan lagu anak-anak. :(

    ReplyDelete
  2. Hehehe sekarang merasa sdh gendut, mas? Mustinya justru buat olahraga biar langsing lagi lho. Hihihi...

    ReplyDelete

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates