Negara Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat menjanjikan bagi para produsen game, baik bagi developer asing ataupun para kreator lokal. Berbagai kalangan dan generasi pasti memiliki jiwa untuk bermain sebuah game. Masing-masing generasi memiliki ketertarikan pada game, yang membedakan biasanya kerumitan game yang mereka mainkan.

Banyaknya pecandu game di Indonesia sayangnya belum diimbangi dengan game yang diciptakan oleh anak bangsa, alias masih didominasi game buatan asing. Padahal, sebenarnya negeri kita ini tak kekurangan talenta yang tertarik pada game developing. Hanya saja, terkadang mereka yang memiliki minat dalam bidang tersebut masih bingung, ke mana harus mengembangkan dan mengasah kemampuannya.


Game Working Space Muncul dari Kolaborasi Berbagai Stakeholder

Tak ingin menyia-nyiakan banyaknya talenta anak muda Indonesia dalam pembuatan game, ICE (Indonesia Cyber Education) Institute bersama Acer Indonesia berkolaborasi untuk memberikan dukungannya dengan menghadirkan sebuah wadah, yaitu Game Working Space pertama di Indonesia yang berlokasi di Kota Surakarta.


Pada Selasa lalu (29/11), aku bersama beberapa teman bloger dari Jogja berkesempatan mengikuti pembukaan sekaligus peresmian Game Working Space yang tepatnya berada di Solo Technopark tersebut.

Acara dimulai tepat jam 09.00 WIB. Setelah MC membuka acara, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat oleh Walikota Surakarta kepada perwakilan mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan dalam Program Mikrokredensial Game Developer (PMGD) yang diselenggarakan oleh ICE Institute dari Februari hingga Juli 2022.

Penyerahan sertifikat oleh Walikota Surakarta pada perwakilan mahasiswa peserta pelatihan

Selain kolaborasi antara ICE Institute (terkhusus Universitas Terbuka) dan Acer Indonesia, keberadaan Game Working Space juga melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui platform Kedaireka, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), serta Solo Technopark.

Pada rangkaian acara pembukaan, para stakeholder yang terlibat, masing-masing memiliki perwakilan sebagai pembicara sekaligus yang akan meresmikan Game Working Space. Dari Kota Surakarta tentu saja ada Mas Walikota, Gibran Rakabuming Raka. Selanjutnya ada Bapak Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E, M.Si. selaku Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Universitas Terbuka, Bapak Muhammad Neil El Himam, M.Sc. dari Deputi Bidang Ekonomi Digital Kemenparekraf, Ibu Fransisca Maya yang merupakan Head of Marketing Acer Indonesia, serta Ibu Yulita Priyoningsih selaku Koordinator Pembelajaran Khusus-Belmawa Kemendikbud Ristek.


Mengapa Game Working Space Dibuat?

Dalam kesempatannya, Mas Walikota menyatakan bahwa kehadiran Game Working Space menjadi momentum untuk mendukung pelaku dan penggiat industri game di Indonesia. Dibukanya Game Working Space juga akan memberi ruang sebanyak-banyaknya bagi talenta-talenta game, terutama di Surakarta untuk dapat bergabung dan menjadi bagian dalam memajukan industri game nasional. Mas Wali pun mengapresiasi komitmen yang ditunjukkan Acer Indonesia, ICE Institute, dan Kedaireka dalam upaya meningkatkan kualitas game lokal serta menjadikan Solo Technopark sebagai pusat unggulan teknologi game pertama di Indonesia.

Bersamaan dengan peresmian Game Working Space, ICE Institute juga menghadirkan program akselerasi talenta game nasional sebagai keberlanjutan dari Program Mikrokredensial Game Developer (PMGD). Program inkubasi ini secara khusus dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa unggulan guna hilirisasi produk game yang telah dikembangkan. Selain itu, program ini merupakan upaya strategis yang diharapkan dapat mengakselerasi terciptanya talenta game Indonesia, maupun produksi game di Indonesia.

Para pembicara atau narasumber

Seperti yang sepintas pernah kusebutkan, PMGD diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Selama lima bulan inkubasi, sebanyak 672 mahasiswa berasal dari 180 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia berhasil mengembangkan 54 game dengan tiga game unggulan. Program ini didampingi oleh para pakar dari 10 perguruan tinggi dengan pendanaan dari Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Kemendikbud Ristek.

Bapak Ali Muktiyanto atau yang akrab disapa Gus Ali menambahkan, program akselerasi game nasional diharapkan akan berkembang dan mampu meningkatkan produktivitas dan sustainabilitas, sehingga berdampak pada peningkatan jumlah talenta game developer, startup bidang game, jumlah produksi game nasional, dan pada akhirnya dapat turut meningkatkan perekonomian Indonesia.

Sedangkan Menurut Bapak Neil, dengan keberadan Game Working Space di Surakarta bisa menjadikan daya tarik tersendiri bagi para gamer. Beliau yakin, yang akan mengunjungi tak hanya gamer asal Surakarta, tetapi juga dari kota-kota lain, bahkan tak menutup kemungkinan dari luar Pulau Jawa. 

Bapak Neil juga sedikit menyinggung tentang gelaran Piala Presiden Esport tahun lalu, dari enam game yang dipertandingkan, ada tiga game yang merupakan buatan lokal. Harapannya, tahun-tahun mendatang akan lebih banyak game karya anak bangsa yang bisa dipertandingkan, khususnya yang muncul dari inkubasi di Game Working Space.

Ibu Yulita menyampaikan, adanya Game Working Space juga diharapkan agar para mahasiswa yang merasa terjebak dalam memilih jurusan, dapat mengambil mata kuliah selain di bidangnya tersebut, yaitu selama satu semester bisa belajar game developing di ICE Institute. Dan, dengan kolaborasi dari berbagai pihak serta dukungan para stakeholder yang berkelanjutan (tak hanya saat peresmian), harapannya perkembangan game di Indonesia bisa berjaya.


Dukungan Penuh Acer Indonesia untuk Game Working Space

Melalui Ibu Fransisca Maya, Acer Indonesia menyatakan kebanggaannya karena bisa menghadirkan Game Working Space pertama di Indonesia. Acer tak hanya ingin dikenal sebagai penyedia produk gaming, tetapi juga memiliki tujuan menjadi bagian dari ekosistem serta turut memajukan perkembangan game di tanah air.

Produk gaming Acer Indonesia di ruang produksi Game Working Space

Acer Indonesia mendukung penuh industri game di Indonesia melalui Game Working Space serta pengadaan peranti gaming unggulan berupa satu unit Predator Thronos full set, satu unit Predator Orion PC, 12 unit Veriton PC, 12 unit Monitor XV242Y_P, satu unit Projector BS-120P/PA, 10 unit Gaming Chairs, serta satu unit Acer Swift 3 Ci5. Produk unggulan yang dihadirkan untuk Game Working Space tersebut, sebagian besar merupakan produk dalam negeri karya bangsa dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP)  sebanyak 40%.

Ibu Maya juga menyebutkan, Acer Indonesia telah melakukan sejumlah kegiatan lain untuk kemajuan industri game nasional, termasuk mengadakan turnamen Predator League, yang merupakan salah satu kompetisi esport terbesar di dunia.  Sejak penyelenggaraannya pada 2017 lalu di Jakarta, Predator League bahkan telah menghasilkan banyak talenta berbakat, yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.


Pembukaan dan Tur Game Working Space Pertama di Indonesia

Setelah kelima narasumber memberikan penjelasan, acara selanjutnya beranjak pada pembukaan Game Working Space yang sesungguhnya, yaitu dengan membuka tirai hitam yang sebelumnya menutup area pintu masuk Game Working Space. Tirai ditarik secara bersamaan, dan terpampang nyatalah tempat yang sejak tadi diperbincangkan.

Sebelum tirai dibuka

Game Working Space setelah tirai dibuka

Tak dibiarkan penasaran, lantas para tamu undangan dan media pun diajak tur mengelilingi Game Working Space. Dibagi dalam beberapa grup, kami mengikuti serta mendengarkan penjelasan mengenai ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Touring ini sekaligus menyudahi rangkaian acara tersebut.

1. Lounge
Ruangan ini berada di paling depan. Dengan suasana yang homey, dalam ruangan ini terdapat beberapa bean bag dan loker.


Di sini para mahasiswa bisa melakukan networking dengan para sesama kreator atau dengan investor.

2. Area Testing Game


Pada ruangan ini terdapat tiga layar PC untuk bisa mendapatkan pengalaman yang nyata saat menjajal game, seperti misalnya bisa merasakan getaran dari game yang sedang diuji coba. 

3. VR Studio
Bagian ini tidak benar-benar berupa ruangan, tetapi masih jadi satu dengan area testing game.


Di sini terdapat sebuah PC dan satu set peralatan VR oculus quest untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam mencoba game berupa virtual reality.

4. Ruang Produksi
Merupakan ruangan tempat untuk para mahasiswa melakukan pembelajaran dan memproduksi game.


Tersedia 10 PC berspesifikasi tinggi yang sudah disiapkan lengkap dengan kursi gaming yang super nyaman.

5. Stadium Gaming
Selain bisa melakukan uji coba game di area testing, para mahasiswa juga bisa melakukannya di sini. 

Bersama teman-teman bloger asal Jogja di stadium gaming (dok. Dian Purnama)

Namun, ruangan ini memiliki fungsi utama jika ada kompetisi game atau esport, terutama untuk multiplayer game.

6. Studio Streaming
Ruangan terakhir ini berisi peralatan radio serta alat-alat untuk memonitor game-game online, dan bisa juga langsung tersambung ke YouTube untuk melakukan siaran streaming.


Puas mengikuti touring serta mengagumi ruangan-ruangan yang ada di dalam Game Working Space membuatku tersadar, di balik sebuah game yang bisa asyik dimainkan, sesederhana apa pun jenis permainannya, ternyata ada proses sangat panjang yang membutuhkan keseriusan serta ketekunan pembuatnya.

Belasan tahun lalu, aku pernah memainkan Ragnarok Online dan Seal Online dengan capaian level yang lumayan tinggi untuk non-gamer. Iya, aku memainkannya bukan karena memang gemar bermain game, tetapi sebuah keharusan. Kala itu, aku bekerja di bagian penjualan merch dari berbagai game milik LYTO, yang mewajibkan karyawannya untuk memainkan game produksinya, agar bisa nyambung saat ngobrol dengan para customerSedangkan jiwa gamer-ku yang sesungguhnya adalah cukup bermain game semacam yang ada di marketplace si oyen. Hihihi...

***

GAME WORKING SPACE

Solo Technopark

Jl. Ki Hajar Dewantara No. 19

Jebres, Kota Surakarta 57126

Shalluvia. 2022 Copyright. All rights reserved. Designed by Mesha Christina.