Omon-Omon tentang Pendemo
![]() |
| suasana demo di Jogja yang terpusat di UGM, syukurlah berlangsung damai (dok. cakrawala.co) |
Menyampaikan aspirasi boleh saja, tetapi sudahlah tak perlu turun ke jalanan yang mengundang orang-orang tak bertanggung jawab dengan menunggangi aksi tersebut. Masyarakat Indonesia ini mudah diprovokasi, ditambah lagi sedang dalam keadaan penuh amarah.
Iya, aku tahu, sejarah mengatakan banyak perubahan berawal dari aksi massa atau unjuk rasa di jalanan, tetapi kalau di masa kini ada imbas lain yang merugikan kepentingan banyak orang, gimana tuh? Rasanya sedih dan sangat kecewa saat tahu banyak fasilitas umum seperti halte, museum, dan sebagainya, juga kantor-kantor yang mengalami kerusakan karena dibakar atau sengaja dirusak, bahkan menimbulkan korban jiwa. Entah dilakukan oleh pendemo atau penyusup, rusak ya rusak aja.
![]() |
| unjuk rasa berujung rusuh, terjadi di banyak kota Indonesia (dok. beritasatu.com) |
Memangnya, dengan berbuat demikian lantas bisa menyelesaikan masalah yang dituntut? Yang ada malah menimbulkan masalah baru. Aku bukannya tak punya kepedulian atau rasa nasionalisme. Aku hanya benci kekerasan, aku benci kerusuhan!
Kalau ditanya, apa aku tak marah "diperlakukan" tidak adil oleh keadaan saat ini, yang dikuasai oleh orang-orang (katakanlah) jahat? Hahaha, aku hanya bisa tertawa getir. Selama hidup, aku sudah mendapatkan begitu banyak ketidakadilan dan kekecewaan (versiku), termasuk pada pemerintah. Seolah sudah kebal, atau mungkin mati rasa--entahlah, aku jadi seperti tak peduli.
Meski begitu, kalian para pendemo, saling jagalah dan berhati-hatilah. Barangkali di depan sana kian banyak hal yang perlu disuarakan serta hak-hak yang harus dituntut.
***


