April 22, 2011


Jogja merupakan kota yang penuh dengan keunikan, mulai dari budayanya, tempat wisatanya, masyarakatnya, adat istiadatnya, dan sebagainya. Contoh keunikan Jogja pernah aku tulis di sini, sinisini, dan  di sini. Kali ini aku pengen menulis tentang salah satu keunikan Jogja lagi, yaitu boso walikan atau sering dinamakan sebagai bahasa jape methe (berasal dari kata jape nethe yang berarti cahe dhewe).

Bahasa sehari-hari yang digunakan di Jogja adalah bahasa Jawa. Dan bahasa Jawa ini ada beberapa tingkatan, seperti bahasa Jawa ngoko, krama madya, dan krama inggil (halus). Nah, selain bahasa Jawa, Jogja memiliki keunikan juga dalam hal bahasanya, yaitu boso walikan. Boso walikan merupakan sejenis bahasa prokem atau slang bagi orang Jogja yang ada sejak 1960-an bahkan mungkin sebelumnya sudah ada. Jadi tenar dan membumi di Jogja dan sekitarnya memang pada akhir 1990-an. Denger-denger dulu namanya Boso Gali, yaitu bahasa pengantar bagi para gali, maling, preman ketika mau menjalankan operasinya agar tidak diketahui orang lain selain kelompok mereka.

Kini bahasa ini sudah sering digunakan oleh banyak kalangan di Jogja, mulai dari pelajar, para bos, bakul-bakul pasar, hingga tukang becak. Namun tidak semua orang Jogja mahir menggunakannya, salah satunya ya aku ini. Pernahkah kalian mendengar kata dagadu? Ya, itu memang merupakan salah satu merk oleh-oleh asal Jogja yang sangat terkenal. Kata dagadu ini juga merupakan salah satu boso walikan, yaitu dari kata matamu. Karena itu, merk ini menggunkan gambar mata sebagai logonya.

Okay, yang belum pernah mendengar tentang boso walikan ini mungkin akan mengira bahasa ini sama atau hampir sama dengan boso walikan yang digunakan di kota Malang sana. But, no no... Ini beda. Boso walikan ala Jogja berasal dari empat baris aksara Jawa yang penggunaanya dibolak-balik. Contoh yang cukup familiar adalah dab (mas), poya (ora = tidak) , pisu (ibu), sahan (bapak), pagob (atos = keras), atau ada lagu rap jawa dengan dengan judul pabu saciladh, hmmm…kalau yang ini cari tahu sendiri ya artinya. Rumusnya seperti ini, nih....cekidot yaa

baris pertama dibalik dengan baris ketiga dan baris kedua dibalik dengan baris keempat (meikahazim.wordpress.com)

kalau sudah dibalik, jadinya akan seperti ini :
berpasangan dengan

kemudian


berpasangan dengan

Sudah mudheng belum?? Kalau belum ya wajar lah, aksara Jawa normal aja nggak mudheng apalagi yang dibolak-balik ya?? Hihihi... Kalau pengen menggunakan bahasa ini, harus hafal dengan urutan aksara Jawa plus pasangan kebalikannya. Atau kalau nggak hafal bisa menggunakan rumus di atas tadi sebagai contekan. :p

Begitulah sedikit tentang jape methe yang katanya dulu digunakan sebagai bahasa umpatan atau boso gali tadi. Tapi seiring perkembangan jaman, bahasa ini melebur dengan bahasa sehari-hari dan menjadi keunikan tersendiri bagi Jogja. Yang ingin bermain kata dengan boso walikan, silakan mencoba!! :)

5 comments:

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates