Pasar Kangen Jogja 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.
Pasar Kangen Jogja 2026

Ada kalanya ingatan komunal kita butuh dirayakan, dan semenjak Senin sore lalu (22/6) hingga Minggu mendatang (28/6), perayaan itu menemukan rumahnya dalam perhelatan Pasar Kangen 2026, agenda tahunan yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta.

Langkah kaki membawaku tiba tepat ketika riuh-rendah pembukaan dimulai. Sayup-sayup terdengar sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Ibu Dian Lakshmi Pratiwi yang membuka acara, penanda resmi bahwa gerbang menuju masa lalu telah diketuk.

Melambatkan langkah di Pasar Kangen Jogja 2026, TBY.
Melambatkan langkah di Pasar Kangen.

Selepas protokoler usai, aku membiarkan diri bersama seorang kawan melambat serta "tersesat" di antara barisan stan. Menyusuri lorong-lorongnya seperti sedang membongkar kembali laci kenangan lama yang berdebu. Di satu sudut, deretan barang lawas—mulai dari majalah usang, kaset yang pitanya mungkin sudah agak kusut, hingga mainan dari kaleng bekas—seolah berbisik, memamerkan romansa dari dekade yang telah lewat. Ada kehangatan yang ganjil saat melihat benda-benda itu. Mereka tak lagi memiliki fungsi praktis yang tinggi, tetapi nilai kenangannya mutlak tak ternilai.

Salah satu area barang lawasan atau klithikan di Pasar Kangen Jogja 2026.
Salah satu area barang lawasan.

Lantas, tentu saja ada aroma jajanan yang menyerbu indera penciuman. Dari atas pemanggang sate kere hingga legitnya warna-warni gulali, semuanya bersahut-sahutan memanggil memori masa kecil. Begitulah. Pasar Kangen bukan sekadar deretan penjaja kuliner jadul atau barang lawasan, ia adalah sebuah mesin waktu.

Penggagas Pasar Kangen Jogja, Ong Hari Wahyu menikmati jajanan di tengah hiruk-pikuk pengunjung.
Pak Ong, penggagas Pasar Kangen, tampak menikmati jajanan di tengah hiruk-pikuk pengunjung.

Namun, dari seluruh perjalanan sore hingga petang tersebut, fragmen paling favorit justru hadir kala aku memilih berhenti sejenak dan menjadi pengamat. Iya, bagian paling seru dari Pasar Kangen bukanlah apa-apa saja yang dijual, melainkan momen mengamati manusia-manusia di sana, yang mengurai rindu sekaligus merajut memori baru.

Suasana Pasar Kangen Jogja 2026 di Taman Budaya Yogyakarta
Sebuah stan jajanan di Pasar Kangen yang ramai pembeli.

Ada binar mata menarik pada wajah-wajah yang sedang antusias menikmati atau mengantre jajanan, pun ketika memilih barang-barang lawas. Kulihat sepasang kekasih yang tertawa kecil sembari menunjuk jajanan masa kecil yang asing bagi salah satu dari mereka. Ada pula seorang bapak dengan penuh semangat menjelaskan cara kerja mainan jadul kepada anaknya yang sibuk memegang gawai, seolah sedang mewariskan sepotong masa lalunya sendiri.

Petang itu ditutup dengan langit Jogja yang perlahan meredup, menyisakan tawa-tawa para manusia yang merindu serta aroma jajanan tradisional yang melekat di baju.

Pasar Kangen, seperti namanya, tak pernah gagal menjadi ruang jeda yang manis. Ia membuatku tersadar, bahwa terkadang hanya butuh sebuah benda untuk membawa kembali pada ribuan kenangan lampau yang pernah membuat bahagia. 


***