April 29, 2014


Kembali aku mendapatkan kabar duka. Sore tadi, pakdhe di Semarang telah berpulang ke Rahmatullah. Beberapa tahun terakhir, pakdhe memang mengidap stroke. Kondisi kesehatannya naik-turun. Kadang semangat untuk terapi penyembuhan, tapi di waktu lain bisa sangat ogah-ogahan melakukan apapun. Salut untuk budhe yang sangat sabar dalam merawat dan ngemong pakdhe. Ngemong orang sakit pastinya lebih susah daripada ngemong bocah.
 
Meski tidak tinggal dalam satu kota, namun aku dan adik-adikku memiliki kenangan yang tak terlupakan tentang pakdhe pada masa kecil kami. Dulu, ketika masih sehat, setiap kali ke Jogja dan berkumpul di rumah simbah, seringkali pakdhe mentraktir kami para keponakannya. Selain jajan, keluarga pakdhe hobinya makan. Selera makan mereka sangat besar. Jadi kalau tiba waktunya makan, budhe yang pertama kali mengambilkan makan untuk pakdhe serta anak-anaknya. Dan pasti, sisanya tinggal sedikit, dibagi untuk cucu-cucu simbah lainnya.
 
Selepas makan, pakdhe suka tiba-tiba nongol di depan kami yang masih asyik bermain. Dengan hanya mengenakan sarung, pakdhe selalu mengelus perut buncitnya yang sudah kenyang sambil berkata, "Maem, Sha..." atau "Maem, Vi..." pokoknya tergantung siapa yang sedang diajak bicara. Padahal, nasi dan lauk di dapur sudah hampir licin tandas diserbu keluarganya kan? Itu yang membuat kami tertawa, dan sampai sekarang, kami sering memeragakan kebiasaan pakdhe tersebut untuk lucu-lucuan. :'))

Ketika akhirnya pakdhe terkena stroke, nafsu makannya masih tergolong besar untuk ukuran orang sakit. Meski begitu, tetap saja tubuhnya yang dulu tambun, sekarang menjadi kurus.
 
Tiga minggu lalu merupakan hari pernikahan kakakku, anak pertamanya pakdhe. Anak yang kedua sudah menikah lebih dulu, tiga tahun lalu. Aku ke Semarang membawa oleh-oleh brownies, dan tanpa diduga pakdhe mengatakan, "Wah, roti coklat e enak banget. Iki sopo sing nggowo?" Budhe pun menjawab kalau aku yang membawanya. Maka dari itu, saat untuk kembali ke Jogja, aku janji kalau ke Semarang lagi akan membawakan brownies.
 
Oiya, gara-gara brownies yang kubawa juga, sampai ada cerita yang menurutku lucu. Saat aku dan ibu sudah di Jogja, budhe telepon dan bercerita kalau pakdhe mengatakan, "Aku mau ditinggali duit karo Mamik (ibu), tapi duite kuwi seko Mesha." Siapa yang nggak ngakak coba? Padahal, uang tersebut beneran dari ibu. Duh, jadi malu dicap sebagai orang yang baik hati. :'P

Sebelum aku sempat membawakan brownies untuk pakdhe lagi, Allah sudah berkehendak lain. Rupanya, Allah telah mempersiapkan makanan yang jauh lebih enak daripada brownies untuk pakdhe. Pun tempat yang lebih indah untuknya. Semoga.

"Allah tidak pernah salah meletakkan sesuatu," begitu kalau kata Om Jon, papahnya Rina. Selamat jalan, pakdhe. Aku tahu, Allah memanggilmu kembali karena tugasmu memang sudah purna di dunia ini

***

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates