Juara Piala Dunia 2026, Timnas Spanyol!
(dok. sefutbol)

Aku harus jujur, memulai tulisan ini dengan sebuah pengakuan bahwa sebenarnya tak menaruh ekspektasi muluk-muluk pada Timnas Spanyol dalam gelaran Piala Dunia 2026.

Bukan karena meragukan kualitas timnas yang kudukung sejak 2008 tersebut, toh modal mereka luar biasa besar setelah berhasil menjuarai Euro 2024 lalu. Tetapi, lebih karena sadar, skuad La Roja saat ini didominasi anak-anak muda. Panggung Piala Dunia memiliki atmosfer serta tekanan yang berbeda. Jadi, dari sudut pandang suporter layar kaca, aku hanya ingin menikmati permainan mereka tanpa beban dan tak mau berekspektasi lebih.


Menonton dengan Hati, Bukan Angka

Namun, anak-anak asuh Luis de la Fuente tersebut rupanya punya rencana lain. Perlahan tapi pasti, apa yang mereka sajikan di lapangan justru membuatku semringah pada tiap babaknya.

Tulisanku ini bukanlah perihal statistik ataupun angka penguasaan bola. Ini soal rasa, bagaimana mataku berbinar melihat keberanian pasukan muda itu, terutama pemain debutan Pau Cubarsi yang tampil begitu tenang dan dewasa, tak seperti pemain-pemain lain seusianya.

Menonton Timnas Spanyol versi sekarang benar-benar menyenangkan. Ada gairah yang hidup, ada kombinasi apik antara bakat muda yang lapar dan pemain senior yang jadi jangkar. Setiap kali mereka melaju dari fase gugur hingga menembus babak final, aku tak pernah menganalisis taktik. Cukup duduk manis serta menikmati setiap detiknya dengan rasa bangga yang diam-diam muncul. Padahal aku bukan orang Spanyol, yak. Biarin lebay. Hahaha!


Tiba-Tiba Dapat Dukungan dari Seluruh Dunia

Ada hal menarik lainnya yang terasa di Piala Dunia kali ini. Memasuki babak-babak krusial, Spanyol seperti tak berjuang sendirian. Hampir seluruh linimasa dan pencinta bola dunia mendadak berdiri di belakang La Roja.

Apa lagi kalau bukan karena narasi tandingan di lapangan. Kontroversi keputusan wasit yang berulang kali dinilai menguntungkan Argentina sepanjang turnamen membuat publik sepak bola geram dan lelah. Di sisi lain, Spanyol datang bukan cuma dengan permainan sepak bola yang indah dan bersih, tapi juga dengan simpati publik global berkat sikap tegas negara dan warganya yang vokal mendukung kemanusiaan di Palestina.

Kemenangan Spanyol mendadak jadi harapan banyak orang. Iya, semacam panggung di mana semua orang ingin melihat keadilan dan kejujuran menang.


120 Menit dan Detak Jantung yang Berpacu

Lantas, tibalah malam final yang mendebarkan itu. Di Indonesia jatuh pada 20 Juli 2026 waktu dini hari. Skenarionya benar-benar menguji ketahanan mental. Ketika pertandingan tertahan tanpa gol dan masuk ke babak perpanjangan waktu, ketegangan kian menjadi, dan hanya mampu menahan napas di depan TV.

Ferran Torres setelah membobol gawang Argentina dalam final Piala Dunia 2026.
Ferran Torres usai membobol gawang Argentina (dok. sefutbol)

Hingga kemudian, momen magis itu datang di babak extra time. Bola akhirnya menggetarkan jala gawang lawan yang dikawal Emiliano Martinez melalui gol Ferran Torres. Pada detik itu, seluruh rasa tegang yang kutahan, lepas seketika. Aku berteriak kegirangan pada dini hari itu. Dua bintang di atas lambang La Roja akhirnya sah! Bukan sekadar angan-angan.


Sempurna di Panggung Dunia

Kala peluit panjang dibunyikan wasit dan beberapa waktu kemudian Trofi Piala Dunia diangkat tinggi-tinggi oleh sang kapten, kegembiraanku tak bisa dibendung. Ditambah lagi melihat penghargaan individu yang disapu bersih oleh para penggawa Timnas Spanyol.

Penghargaan pribadi dalma Piala Dunia 2026 diberikan pada Pau Cubarsi, Rodrigo Hernandez atau Rodri, dan Unai Simon.
Penghargaan pribadi untuk Cubarsi, Rodri, dan Unai Simon (dok. sefutbol)

Rodrigo Hernandez atau biasa disebut Rodri yang tampil sebagai jenderal lapangan tengah dengan ketenangan  super berhak membawa pulang Golden Ball. Unai Simon yang sepanjang turnamen berdiri kokoh membentengi gawang dan hanya kebobolan satu gol, berhak mendapat penghargaan Golden Glove. Dan tentu saja wonderkid berusia 19 tahun, Pau Cubarsi yang membuktikan kualitasnya sebagai benteng masa depan dengan menyabet gelar Best Young Player.

Penutup perjalanan yang benar-benar sempurna.

Piala Dunia 2026 memang telah usai. Bagi orang lain, mungkin hanya sebuah turnamen sepak bola yang penuh drama seperti sebelum-sebelumnya. Namun tidak bagiku. Ini adalah perjalanan menyaksikan generasi baru yang melampaui segala ekspektasi, bahkan dirayakan oleh seluruh penjuru dunia.

Terima kasih sudah berjuang seindah itu, La Roja. Terima kasih sudah membuktikan bahwa keraguan kecilku di awal sama sekali tidak beralasan.

Vamos, La Roja!


***


Shalluvia. 2010-2026 Copyright. All rights reserved. Designed by Mesha Christina.