December 30, 2011


sececer cerita yang baru sempat tertuliskan...

narsis...
Rencana pertama dan kedua gagal, rencana ketiga aku dan Ika bertekad agar tak gagal lagi, hingga akhirnya pada suatu Kamis (15/09) tercapai juga keinginan membawa Gee dan Surup―nama sepeda kami―sampai ke Pantai Parangtritis yang kondang juga dengan sebutan Paris itu.

Setelah berpamitan pada bapak, pukul tujuh pagi kami berangkat dari rumahku. Jalanan sudah mulai ramai, namun kami tetap  bersemangat mengayuh Gee dan Surup menuju timur kota Jogja, Jalan Imogiri. Kami memang sepakat untuk melewati jalan tersebut, karena ada rencana untuk mampir ke Bendungan Tegal yang terletak di Kebon Agung, Imogiri. Di tengah perjalanan, kira-kira 45 menit dari keberangkatan, kami sempat bertanya pada seorang tukang becak tentang letak bendungan tersebut, ternyata masih 5 Km lagi. Kami pun melanjutkan kayuhan, masih dengan semangat!

Mengikuti petunjuk yang diberikan tukang becak, kami menemukan bendungan tersebut. Sebelum benar-benar sampai sana, kami sempat bernarsis ria di tengah sawah. Beberapa orang yang lewat mengolok kelakuanku dan Ika, tapi kami cuek saja. Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju bendungan, ternyata daerah tersebut juga sedang dirintis menjadi sebuah desa wisata. Namun karena (mungkin) bukan musim liburan, kawasan tersebut sepi-sepi saja saat kami berkunjung.

Sesuatu yang menurutku lucu terjadi ketika kami berada di bendungan tersebut. Ada penggembala kambing yang akan memandikan kambing-kambingnya, sebelum sampai tujuan kambing-kambingnya sudah berlarian dulu demi melihat tanaman-tanaman hijau nan segar di pinggir bendungan, padahal tanaman tersebut dipelihara oleh orang lain. Alhasil 'ngamuk' lah si penggembala itu, ia mengejar kambing-kambingnya sambil melempar kerikil dan marah-marah seperti memarahi anak-anaknya. Kedengarannya biasa, tapi hal itu bisa membuatku tertawa. :D

Selanjutnya, ketika kami sedang asyik mengamati bendungan, di kejauhan muncul sesosok bapak yang kemudian diketahui bernama Pak Barman. Beliau ini juga lucu, awalnya kami hanya bertanya tentang bendungan, sampai kemudian ia menawarkan mampir ke rumahnya.

"Trus kalo mampir mau dikasih apa, Pak?" tanya Ika.

"Loh kok dikasih apa, gini-gini aku punya anak Joko (perjaka), nanti tak kenalin."

Kami berdua hanya tertawa.

"Malah ngguyu, anakku ki bagus lho. Genah bapakne yo bagus ngene," lanjut Pak Barman dengan pedenya.

Lagi-lagi kami hanya tertawa. Kemudian Ika dan Pak Barman ngobrol tentang kuliah.

"Ohh, nek wis skripsi ki enak. Ngko gek lulus trus ndang mantenan."

"Wah, masih lama, Pak. Mau kerja dulu."

"Arep kerjo opo tho?"

"Ya apa yang ada, Pak, yang penting gawean."

Obrolan pun berlanjut sampai akhirnya ada perkataan Pak Barman yang membuat kami sedikit  tertohok, "Kita ini, meskipun punya ilmu setinggi langit dan punya buku sekamar, kalau belum menikah itu belum sempurna."

Jleb!

Tertawa. Hanya itu yang mampu kami lakukan saat itu.

"Tenanan kui, aku mbiyen nyesel ngopo ora rabi enom," lanjut Pak Barman.

"Lha kenapa, Pak?" tanya kami berdua.

"Lha ternyata duwe bojo ki penak je, tonjo! Hahahaha...."

Aku dan Ika cuma melongo. Ndomblong.

Untuk menghentikan obrolan itu, akhirnya Ika bertanya arah jalan menuju Parangtritis kalau dari posisi kami saat itu. Dengan fasihnya Pak Barman memberika petunjuk, ia menggambarkan sebuah rute di tanah. Perkataannya yang paling kuingat adalah, "Ngko nek ono dalan nyabang, sing mungggah ojo diturut. Milih sing nengen, ngko lewat pinggiran gunung. Nek sing munggah kui neng Mangunan."

Kami pun berpamitan pada Pak Barman dan melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Benar saja, akhirnya kami menemui jalan bercabang seperti yang disebutkan Pak Barman, dan sesuai petunjuknya, kami melewati jalan yang ke kanan. Begitulah, setelah melewati Imogiri, kami melewati Siluk, nurut pinggir gunung.

Terlihat jalan di depan kami berkelok-kelok dan naik turun, tapi justru itu menambah semangat kami untuk mengayuh sepeda... (bersambung)

4 comments:

  1. #eaaaa...kwi lho buuk ditawari mas joko,,sape tau jodoh,,hihihihi :P

    ReplyDelete
  2. hahaha mosok yo karo brondong, buuk... :))

    ReplyDelete
  3. haha ngakak aku lik mengingat pak barman,,,,, mb. wong e aneh,,, gek ditulis lanjutane

    ReplyDelete
  4. hehehe sik males nulis e ka, lagipula aku lali lanjutane :))

    ReplyDelete

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates