February 4, 2012


Siang yang terik tak menghalangi rombongan siswa-siswi SMP dan gurunya yang berasal dari Lampung untuk berkelana di kota Jogja. Dari hotel tempat menginap, mereka ingin ke Malioboro, sekedar untuk berjalan-jalan ataupun membeli buah tangan bagi keluarga. Hari itu merupakan hari kedua mereka study tour di Jogja. Siswa-siswi menuju Malioboro menggunakan becak-becak yang selalu mangkal di depan hotel. Namun ada juga dari mereka yang naik Trans Jogja atau andong.

Salah satu guru yang mengajak anaknya turut serta berwisata, tak mau ketinggalan dari murid-muridnya. Ia ingin ke Malioboro juga. Akhirnya ia pun melakukan penawaran pada salah satu tukang becak di depan hotel.


"Pak, ke Malioboro berapa?"

"Tiga puluh ribu saja, Bu, nanti saya antarkan sampai depannya persis."

"Wah, itu sih mahal banget, Pak. Kalo boleh dua puluh ribu saja deh."

"Gimana ya, Bu, Malioboro kan jauh kalo dari sini."

"Lah, Bapak tinggal bilang aja mau atau enggak. Kalo nggak mau, saya bisa cari becak lain. Gitu aja repot."

"Ya sudah, Bu, monggo saya antarkan ke Malioboro."

Becak pun menyusuri jalanan menuju Malioboro. Ibu beserta anaknya tersebut asyik membicarakan segala sesuatu yang mereka temui selama perjalanan. Sampai akhirnya Si Ibu tersadar, becak yang akan membawanya ke Malioboro keluar dari jalur yang seharusnya. Ia tahu, tukang becak di belakangnya bukan akan membawa ke Malioboro, namun justru menjauh dari Malioboro.

"Lho, lho! Ini saya mau dibawa ke mana, Pak? Saya ini mau ke Malioboro, bukan Keraton," teriak Si Ibu pada tukang becak.

Becak pun berhenti, tepat di pinggir jalan, arah menuju Keraton.

"Ini sudah sampai Malioboro, Bu. Malioboro ya di sini ini."

"Tapi ini bukan Malioboro, saya tahu ini Keraton. Bapak jangan coba-coba bohongi saya! Ayo, Pak, antarkan kami ke Malioboro atau saya akan lapor Polisi," Si Ibu keukeuh tak mau turun dari becak.

Tukang becak hanya diam saja, ia menggeser, memutar arah becak dan kembali mengayuhnya ke arah barat, menuju 'Malioboro'. Sesaat kemudian ia menghentikan becaknya dan turun kemudian memberitahukan pada penumpangnya, "Bu, sudah sampai di Malioboro. Monggo turun."

"Pak, Anda ini bagaiaman?! Sudah saya bilang dari awal, saya mau ke Malioboro! Tapi kenapa dari tadi Bapak malah ngajak saya muter-muter? Sekarang di mana lagi ini?!"

"Ohh! Saya tahu, ini Ngasem kan? Bapak jangan coba-coba bohongi saya deh! Saya nggak akan tertipu, memang di sini banyak penjualnya juga, tapi ini bukan Malioboro!" lanjut Si Ibu dengan berapi-api.

"Saya kemarin sudah ke sini, Pak. Keraton, Ngasem, Taman Sari sudah saya kunjungi semua. Sekarang Bapak maunya gimana? Mau antar kami ke Malioboro atau benar-benar saya laporkan Polisi saja?!" masih lanjut Si Ibu.

"Jangan! Jangan, Bu, saya jangan dilaporkan Pak Polisi. Baik akan saya antarkan Ibu ke Malioboro yang beneran. Maaf ya, Bu..." dengan tertunduk lesu, tukang becak kembali memutar becaknya.

"Nah! Kalo dari tadi begini kan enak. Sekarang kalo kayak gini siapa yang rugi? Bapak juga kan?"

Dalam hati, tukang becak itu membatin. Asyem! Galak tenan Ibu siji iki. Niat arep nggarapi malah keno semprot, nganggo arep dilaporke Polisi barang. Pancen apes!

***

*cerita seorang guru kepada beberapa muridnya ketika sedang di trans jogja, dalam perjalanan pulang dari malioboro menuju hotel tempat menginap.

4 comments:

  1. haha ngarapi wong Lampung jangan macem2, malah rugi dewe

    ReplyDelete
  2. haha iyo ka, ibu itu pas cerita di bus juga sampe berapi-api gitu. :D

    ReplyDelete
  3. nah, tukang becak seperti itu yang kadang merusak citra wisata jogja :(

    ReplyDelete

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates