September 26, 2012


Astaga! Rupanya sudah sekitar tiga bulan aku jarang menyambangi blog-ku tercinta ini. Ngenes banget ya? :( Tapi, bukan tanpa alasan aku melakukan hal yang sebenarnya tidak disengaja dan bukan keinginanku ini. Jadi ceritanya, empat bulan belakangan, aku memiliki 'hobi' baru yang berawal dari iseng bersama Mbak Lina. Lumayan lah, dari keisengan tersebut akhirnya kami bisa mendapatkan berbagai hal: lebih pandai bersyukur; pengetahuan yang bertambah; kebahagiaan karena membantu orang lain; dan pastinya rejeki yang mengalir, meskipun kecil. :)

Baiklah... beralih ke hal utama, cara praktis mematikan radio. Tapi sebelumnya mau memberi peringatan nih, jangan terlalu percaya kalau dalam postingan ini aku benar-benar akan membagikan sebuah tips. :P

radio saku
Beberapa hari lalu, tiba-tiba ibu menceritakan secuil kisah masa kecilku saat belum genap dua tahun, yang bagiku merupakan sebuah fakta baru. :D Sudah kuketahui dari dulu, sejak bayi―bahkan sampai sekarang―hobiku adalah mendengarkan musik. Kata ibu, meski sedang ditinggal melakukan kesibukan rumah, aku tak akan rewel kalau di dekatku ada radio yang memutar lagu-lagu dan disetel dengan suara keras.

Beranjak lebih besar lagi―saat kaki sudah bisa melangkah sendiri―ibu dan bapak mulai memberiku radio saku sebagai 'mainan' yang bisa aku bawa kesana-kemari di dalam rumah dengan tangan kecilku. Nah! Yang jadi masalah adalah, saat sedang ditinggal ibu di dapur atau melakukan kesibukan lain, aku selalu kesulitan jika ingin mematikan radio mini tersebut. Bukannya menghampiri ibu untuk meminta bantuannya, aku malah mengambil 'jalan pintas'. Apakah itu? Aku memasukkan radionya ke dalam cangkir raksasa milik bapak―entah berisi kopi, entah berisi air putih―yang ada di meja ruang tamu. Dengan cara itu, aku 'berhasil' membekap si radio, hahaha....

Masih menurut ibu, kalau kebetulan yang ada di meja adalah gelas biasa, sudah pasti tak akan memuat si radio. Akhirnya aku pun menaruh radio di meja, kemudian menuangkan air dalam gelas ke atas radio. Ide brilian, bukan? *gubrak* Ada satu 'kasus' lagi... ketika
yang sedang nangkring di meja adalah cangkir berukuran besar (bukan raksasa) dan masih terisi penuh, itu juga merupakan suatu masalah Mesha kecil. Mau memasukkan radionya, tapi tak muat. Mau menyiram radionya, tapi juga tak kuat mengangkat cangkir penuh itu. Lalu, ide yang terlintas di dalam kepala adalah meletakkan radio di sebelah cangkir, dan menjatuhkan cangkir ke arah radio dengan bantuan punggung tangan. Hasilnya, tumpah lah segala isi cangkir mengenai radio. Reaksi selanjutnya, radio pun diam membisu.

Kejadian tersebut tak hanya berlangsung sekali-dua kali, melainkan beberapa kali. Untungnya, bapak bekerja di toko kaset, sehingga sering mendapatkan free radio-radio mini. Entah, harus takjub atau harus mengelus dada mengetahui fakta masa kecil tersebut. Tapi, yang jelas aku langsung ngakak begitu mendengarnya. :))

3 comments:

  1. Hahahahaha parah bangeeet...
    Tapi selalu ya ada kata untungnya ;)

    ReplyDelete
  2. Hehehehe... maklum wong jowo, mbak. Gak pernah jauh-jauh dari kata 'untungnya' ;))

    ReplyDelete
  3. wakakakakakakakakaaaaaaaa aku baru baca :lol:

    ReplyDelete

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates