April 28, 2013


semangkuk zuppa soup yang membawa kenangan (dok. pribadi)

Semangkuk zuppa soup yang terhidang di depanku itu telah dingin. Lama aku memandanginya. Semangkuk zuppa soup itu membawaku pada kenangan satu tahun lalu. Mataku pun menerawang jauh...

Di tengah hiruk-pikuknya manusia, mataku tertuju pada simbah yang duduk sendiri, di sampingnya ada sepiring bakmi jawa yang sepertinya baru dimakan beberapa sendok saja. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri simbah, "Lho, mbah, bakmine kok ora dimaem?"

"Iki mau dijupukke Budhe Ros, tapi aku ora doyan. Asin banget."

"Trus, simbah arep maem opo?"

"Sing koyo kui lho," simbah menunjuk salah satu orang yang sedang menikmati zuppa soup.

"Doyan po, mbah? Isine meh podho sop sing dipakakke pitik mbiyen lho," aku meningatkan simbah yang pernah memberikan sup asparagus pada ayam-ayamnya karena mengira sup tersebut telah basi.

"Doyan. Aku doyan kok, ngko tak entekke."

"Yo wis, tunggu kene wae, tak jupukke."

Itulah sepenggal percakapanku dengan simbah di resepsi pernikahan adik satu tahun lalu. Saat itu, semua orang sibuk, hingga tanpa sengaja melupakan simbah yang duduk sendiri di tengah keramaian. Aku bersyukur karena kemudian melihatnya. Aku tahu, mungkin simbah berniat mengambil sendiri zuppa soup yang diinginkannya, karena pada dasarnya simbah orang yang enggan merepotkan orang lain. Tapi menyaksikan kerumunan orang yang mengantre di depan oven besar, maka simbah mengurungkan niat. Lagipula, memang tak seharusnya simbah yang sudah sepuh dibiarkan berjalan sendiri dalam keramaian.

Setelah ikut mengantre beberapa saat di depan oven besar, akhirnya kudapatkan juga semangkuk zuppa soup untuk simbah. Aku mengangsurkan mangkuk kecil itu ke tangan simbah, lalu duduk disampingnya dan menungguinya meniup-niup sup yang masih panas sebelum akhirnya bisa dinikmati hingga tak bersisa. Aku pun tersenyum sembari memberikan segelas teh padanya.

***

Mataku masih menerawang. Dan, tak terasa mulai berkaca-kaca yang aku yakin tak lama kemudian kaca-kaca itu akan retak lalu pecah berhamburan. Entahlah. Hampir 40 hari lalu simbah berpulang, namun segala kenangan tentangnya masih kuat membekas dalam ingatan. Ya, bagaimana mungkin bisa dengan mudah dan cepat malupakan simbah, sementara sejak kanan-kanak aku begitu dekat dengannya.

Semangkuk zuppa soup itu masih utuh terhidang di depanku. Aku tak memakannya sama sekali, hanya sedikit menghancurkan puff pastry yang menutupnya...

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates