Entah menyelinap semenjak kapan, seseorang yang tak diinginkan muncul dalam satu babak hidupku. Melukai sisi emosional dan menguji kewarasan. Aku mencoba tak buru-buru meluapkan benci.

Keberadaannya membawa kerumitan baru. Tapi kemudian, justru menghentikan arah yang selama ini keliru kuambil, dan menyelamatkan dari belenggu kenyamanan palsu yang mungkin perlahan mematikan.

Melalui usikannya, aku dipaksa membuka mata, melihat kenyataan pahit yang sering sengaja kuabaikan demi menjaga sebuah ekspektasi.

Rupanya, ia dikirim bukan untuk merebut kebahagiaan. Ia datang untuk mengajariku berani memasang batas tegas, menunjukkan seni melangkah mundur secara anggun ketika ketulusan tak lagi dihargai, pun menuntun langkahku kembali bersandar pada diri sendiri.

Barangkali, aku mestinya berterima kasih atas kehadirannya yang kuanggap menyebalkan. Tanpa gangguan atau kekecewaan yang ia goreskan, aku masih terlelap dalam buaian hubungan semu, dan tak pernah tahu kapan akan terbangun.

Mau tak mau harus kuakui, ia adalah selembar berkat terselubung yang diutus semesta. Blessing in disguise. Diam-diam memantik untuk membakar jembatan usang di depanku, memaksa meninggalkan lingkaran yang melelahkan hati.

Tempat healing di jogja, daerah kulon progo.
babak baru tempat bernapas lega (dok. pribadi)

Akhirnya, aku kehilangan sesuatu yang kupertahankan mati-matian sebelum ia datang: sebuah kerumitan berbalut candu. Anehnya, aku tak merasa kalah. Episode baru tempat bernapas lega malah kutemukan.


***

**Racauan tentang self-respect ini fiksi, tapi pada dasarnya terinspirasi kisah nyata seorang kawan lama