Bagi para wisatawan, jalan-jalan ke Cilacap identik dengan Pantai Teluk Penyu sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi, dan tak lupa menikmati kuliner seafood-nya di sekitar pantai. Namun, kali ini untuk menikmati sajian seafood bisa jadi makin istimewa, lho.
Pada Agustus 2022 lalu, bersamaan dengan momen peringatan Kemerdekaan Indonesia, favehotel Cilacap menghadirkan promo menu baru. Bertajuk MABAR NUSANTARA atau kepanjangannya Makan Bareng Menu Nusantara, promo ini menawarkan paket makan bareng untuk bertiga, berenam, serta kelipatannya. Istimewa banget, kan, bisa kulineran seafood di dalam hotel.
Mengapa Bertema Mabar Nusantara?
Tema Nusantara dipilih karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan hasil laut maritim yang melimpah. Berjuluk archipelagotaste atau selera nusantara, menu baru ini akan disajikan beramai-ramai di atas meja. Penasaran, ada apa saja menu-menunya? Yuuk, simak terus! 😉
Keistimewaan lain dari Mabar Nusantara adalah menu seafood-nya disajikan ala masakan pedesaan yang tentu saja akan membawa penikmatnya pada nuansa sederhananya makan masakan desa tetapi tak terlupakan.
Menu Andalan dalam Mabar Nusantara
Untuk menjawab rasa penasaran, aku spill menu-menunya, nih.
1. Cumi Hitam Cabai Hijau
Menu ini berupa cumi yang dimasak dengan cara ditumis menggunakan api sedang, kemudian diberi tambahan cabai hijau serta kecap manis. Menghasilkan cita rasa yang gurih, manis, dan asin.
2. Gurame Goreng Tepung
Ikan gurame yang dibalur tepung serta dibumbui aneka rempah nusantara ini dimasak dengan cara digoreng hingga kering. Pasti sudah terbayang bagaimana gurih dan krispinya lauk ini.
3. Layur Goreng Asin
Sajian ikan yang merupakan khasnya Cilacap ini diolah dengan cara digoreng hingga kering, sehingga akan menghasilkan rasa asin serta gurih.
Ketiga menu di atas semakin lengkap dengan menu pendamping lainnya seperti oseng kangkung, gudangan, tempe goreng, berbagai macam sambal, dan tak ketinggalan nasi putih serta bonus es teh manis. Duh! Membayangkannya saja sudah bikin kemecer.
Harga dan Cara Menikmati Mabar Nusantara
Sajian lezat Mabar Nusantara yang menggabungkan cita rasa khas Sunda dan Jawa ini bisa dinikmati dengan cukup hemat, tak akan membuat dompet sekarat. Beneran, makan istimewa di hotel tapi tetap ngirit? Yha! cukup dengan mengeluarkan Rp225.000 per tiga porsi, kalian sudah dapat menikmati serunya kulineran seafood ala pedesaan sekaligus merasakan fancy-nya suasana favehotel Cilacap.
Menu Mabar Nusantara bisa langsung didapatkan di Lime Resto, lantai 2 favehotel Cilacap, dari jam 10 pagi hingga 10 malam. Bagi tim gercep yang penginnya sat-set biar tak kehabisan menu dan memilih untuk reservasi sebelum datang, silakan menghubungi nomor 0282-5390555.
Terletak hanya beberapa menit dari stasiun kereta dan bandara, favehotel Cilacap menawarkan akses mudah ke lokasi industri Pertamina, Semen Dynamix, PLTU, serta Pantai Teluk Penyu dan lokasi wisata lainnya.
Dilengkapi dengan 161 kamar, hotel ini menyediakan fasilitas lengkap termasuk kolam renang, minimarket, restoran, dan Skylounge Rooftop Bar bagi tamu yang ingin menikmati pemandangan laut.
Untuk wisatawan bisnis, favehotel Cilacap menyediakan ballroom terbesar di Cilacap dengan kapasitas hingga 1000 orang. Informasi lebih lengkap, kunjungi cilacap.favehotels.com.
Penutup
Keseruan dan istimewanya kulineran di favehotel ini tak hanya boleh dinikmati para wisatawan yang sedang menginap di hotel. Boleh banget warga asli Cilacap yang ingin menikmatinya juga. Bisa bareng teman, keluarga, atau rekan kerja. Makin banyak yang diajak makan bareng, makin seru kenyangnya!
"Heran, kok tumben Nicholas Saputra mau terima film kayak begitu."
Aku yakin, yang melontarkan kalimat tersebut di sebuah platform media sosial pasti belum menonton filmnya. Hanya menilai dari siapa produser serta tema apa yang diangkat dalam film ini.
Sejak awal mengetahui film Sayap-Sayap Patah sedang diproduksi, langsung bertekad harus menontonnya. Alasannya tentu saja karena Nicholas Saputra menjadi salah satu pemerannya. Dalam film besutan sutradara kondang Rudi Soedjarwo ini, ia memerankan tokoh bernama Sudarmadji yang akrab dipanggil Aji, seorang anggota POLRI di satuan Densus 88. Kebayang kan, bagaimana kerennya seorang Nico mengenakan seragam serba hitam dengan menenteng senjata laras panjang.
Nicholas Saputra sebagai Aji (dok. IG @sayapsayappatahfilm)
Terlepas dari siapa produsernya, film ini layak diapresiasi. Diangkat berdasarkan kisah nyata dari peristiwa yang terjadi pada Mei 2018 lalu, yaitu ketika Mako Brimob Kelapa Dua di Depok rusuh karena ratusan tahanan teroris berhasil melepaskan diri dari sel, kemudian menyandera selama 36 jam beberapa polisi yang sedang bertugas, bahkan ada lima nama yang gugur.
Tak ingin menulis review atau memberikan spoiler tentang film Sayap-Sayap Patah yang tayang sejak 18 Agustus 2022 lalu, aku lebih ingin menyampaikan bahwa di tengah gonjang-ganjing yang terjadi dalam tubuh POLRI, bukan berarti seluruh anggotanya memiliki kinerja buruk.
Sangat dipahami kalau saat ini kepercayaan masyarakat terhadap institusi POLRI sedang nyaris luntur akibat adanya kasus pembunuhan Brigadir J yang direncanakan oleh atasannya sendiri, seorang Jenderal Polisi Bintang 2.
Jujur, aku juga ada rasa kecewa pada lembaga kepolisian, tetapi tak lantas membuatku mengolok-olok mereka. Aku percaya masih banyak polisi yang baik, yang kehidupannya bersahaja dan benar-benar menjalankan tugasnya untuk pengabdian.
Sempat membaca beberapa cuitan di Twitter yang menyatakan jadi malas menonton Sayap-Sayap Patah karena terjadinya kasus Duren Tiga, padahal awalnya mereka penasaran sekaligus tertarik. Banyak yang beranggapan film ini tayang untuk mengembalikan citra baik POLRI, bahkan ada yang berpendapat kalau diangkat dari kisah nyata adalah hoaks belaka.
Hellooo... ke manakaliansewaktu berita kerusuhan di Mako Brimob ramai dibahas? Lagipula, film yang diproduseri Denny Siregar ini proses syutingnya sudah lama. Dijadwalkan tayang 18 Agustus 2022 pun sejak beberapa bulan lalu, jauh sebelum kasus pembunuhan Brigadir J. Ndilalah saja, momen pemutarannya ternyata bersamaan dengan proses pengusutan kasus tersebut.
Aku sempat mengalami perasaan seperti pengguna Twitter tadi, jadi malas menonton meski sangat semangat awalnya. Namun, alasanku berbeda, aku sebal tak diajak nonton bareng oleh Nico saat ia beserta para pemeran dan kru mengadakan early screening di Jogja. Hahaha memangnya siapa kamu, Sha? Sampai Nico harus mengajakmu?
Aji bersama anak buahnya (dok. IG @sayapsayappatahfilm)
Begitulah, memang sekuat itu pengaruh sosok Nico dalam keinginanku menonton Sayap-Sayap Patah. Beruntung, ketika pemutaran hari pertama, ada voucher pembelian tiket beli 1 gratis 1, yang kemudian membuatku kembali memutuskan untuk menonton. Etapi, tak ada promo pun, aku bakal tetap menonton, kok. Mana tega, sih, nyuekin Nico lama-lama. 🤭
Selama masa pandemi, aku jarang mengunjungi Malioboro, belum tentu sebulan sekali ke sana. Padahal, dulunya hampir setiap pekan ada saja keperluan ke kawasan tersebut. Itulah mengapa tak menolak kala minggu lalu (22/4) teman-teman blogger Kompasiana Jogja mengajak ngabuburitdi Malioboro, tepatnya di Jogja Pasaraya.
Awalnya belum mengetahui tentangnya, tetapi ketika mendengar di mana lokasinya, tanpa pikir panjang mengiyakan ajakan tadi. Selain temu kangen dengan teman-teman yang lama tak kujumpai, penasaran pula ada apa saja di sana, dan mengapa memilih tempat tersebut?
Aku yang warga asli Jogja saja penasaran, apalagi kamu yang dari luar Jogja dan berencana berlibur ke kota ini untuk pertama kali ataupun ke sekian kalinya, wajib banget kepo tentang JogjaPasarayayang merupakan pusat oleh-oleh Jogja terlengkap.
Selepas mengikuti acara ngabuburit yang diisi dengan bincang-bincang bersama pendiri Jogja Pasaraya, Bapak Aditya Suryadinata, dan mengeksplorasi tokonya, aku bisa membeberkan alasanmengapa wajib belanja oleh-oleh khas Jogja di sini.
1. Letaknya Strategis di Destinasi Wisata Utama
Saat berlibur ke Jogja, rasanya kurang afdal tanpa menyusuri Malioboro, kawasan pedestrian yang menjadi ikon pariwisata Kota Jogja. Seolah ada peraturan tak tertulis, belum sah ke Jogja kalau tak menyambangi Malioboro. Itulah yang membuat kawasan tersebut selalu ramai, meski bukan di waktu liburan.
Di antara jalur pedestrian yang membentang dari selatan Stasiun Tugu hingga Gedung Agung (Istana Negara) ini, di tengah-tengahnya merupakan lokasi JogjaPasaraya, tepat di seberang bekas Hotel Mutiara. Hal tersebut yang membuatnya juga dikenal sebagai Jogja Pasaraya Malioboro.
Bagi para wisatawan Jogja yang hampir selalu menyempatkan ke Malioboro, lokasi ini pas banget. Selain berjalan-jalan menyusuri kesyahduan Malioboro, bisa sekaligus berbelanja oleh-oleh.
2. Berkonsep One Stop Shopping dengan Produk yang Lengkap
Penampakan dari depan, JogjaPasaraya mirip dengan toko-toko batik yang bertebaran di sepanjang Malioboro. Wajar kalau kemudian aku mengiranya sebagai toko oleh-oleh khusus baju batik.
Ternyata ekspektasiku keliru. Setelah berada di dalam, aku dibuat kaget dengan banyaknya jajanan khas Jogja yang dipajang. Berbagai jajanan yang biasa dijadikan oleh-oleh tersebut tak hanya berupa makanan, melainkan juga minuman.
Makanan ringan yang biasa disebut klethik-klethik, bakpia, camilan kekinian berbagai merek, aneka rasa sambal, rupa-rupa minuman tradisional, permen jadul rasa jahe, dan masih banyak lagi. Semuanya ada.
Lantas bagaimana dengan batik yang pada awalnya memang kukira toko batik? Pasti ada, dong. Koleksi baju-baju di sini ternyata bukan hanya batik, ada tenun dan lurik pula. Kejutan lagi, model bajunya tak cuma itu-itu. Mau cari yang formal hingga yang kekinian tetapi tetap Jogja banget, tersedia. Bukan hanya baju dewasa, baju untuk anak-anak pun ada. Bahkan mau sarimbitan sekeluarga juga bisa didapatkan di sini.
Kalau kamu gemar mengoleksi baju-baju etnik, memasuki Jogja Pasaraya adalah sebuah kewajiban, dijamin bingung memilihnya, atau mungkin malah kalap. Namun, kalau kamu sukanya mendesain atau membuat baju sendiri, di sini pun menyediakan berbagai jenis kain batik yang motifnya cantik-cantik. Batik printing, batik tulis, batik berbahan sutera, atau jenis lainnya, tersedia lengkap.
Jajanan ada, baju ada, apa lagi yang khas dari Jogja? Tentu saja produk kerajinannya. Mulai dari mainan jadul, barang-barang imut untuk souvenir, perhiasan dan aksesoris yang menunjang penampilan, tas-sepatu-sandal bergaya etnik, pajangan untuk dekorasi rumah, hingga furnitur unik ada di Jogja Pasaraya.
3. Produk Berkualitas dengan Harga Terjangkau
Berawal dari kegelisahan Bapak Aditya Suryadinata, yang merasa prihatin dengan semakin kurang dihargainya produk-produk lokal Jogja di kotanya sendiri. Padahal, produk-produk tersebut berkualitas, dan kalau dipasarkan di kota pariwisata lain, Bali misalnya, bisa dihargai jauh lebih tinggi, bahkan banyak UMKM yang kemudian memilih untuk memasarkan produknya ke luar negeri atau mengekspornya.
Bukan rahasia lagi kalau Jogja merupakan gudangnya kreativitas. Apa pun bisa menjadi sesuatu yang bernilai seni di tangan orang Jogja. Sayang sekali jika di rumahnya sendiri justru "disia-siakan".
Dari kegelisahan tersebut, dibukalah Jogja Pasaraya pada Agustus 2020 lalu, dan hingga kini sudah bekerja sama dengan hampir 400 UMKM pilihan di Jogja dan sekitarnya. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan banyaknya kemunculan produk unik dari para UMKM. Namun, untuk bisa lolos dan dipajang di toko, produk-produk tersebut harus melewati kurasi yang ketat, karena ada standar kualitas yang harus dijaga.
Hal tersebut menjadi salah satu nilai lebih, mengapa kita harus belanja oleh-oleh di Jogja Pasaraya. Selain sudah terjamin kualitasnya, juga bisa mendapatkan barang-barang yang bahkan tidak ditemukan di toko oleh-oleh lainnya, karena khusus dipasarkan di luar negeri.
Misinya memang ingin menunjukkan bahwa produk lokal, khususnya dari Jogja, kualitasnya tidak kalah dengan produk impor, tetapi tetap bisa didapatkan dengan harga yang lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga di toko oleh-oleh besar lainnya.
4. Pelayanan Ramah dan Menerapkan Prokes
Begitu melangkahkan kaki ke JogjaPasaraya, pengunjung akan disambut dengan senyuman penjaga toko berseragam lurik warna cokelat, dan diarahkanuntuk melakukan pengecekan suhu tubuh. Meski masker rapat menutup area bibir, keramahan itu tetap terpancar dari sorot mata.
(Dok. Jogja Pasaraya)
Jangan sungkan untuk menanyakan pada penjaga toko jika ada barang yang dicari, tetapi tidak bisa menemukannya. Dengan senang hati mereka akan membantu dan mengantarkan pada etalase yang dicari.
(Dok. Jogja Pasaraya)
Di tengah pandemi yang belum juga usai, tentunya masih ada ketakutan saat mengunjungi tempat umum. Tak perlu khawatir, 100% karyawannya sudah divaksin dosis 1-2, dan hampir 90% telah mendapatkan vaksin booster.
Untuk menambah kenyamanan serta keamanan pengunjung, ruangan di seluruh toko rutin disemprot desinfektan dan disediakan hand sanitizer pada setiap lantai.
5. Desain Tempatnya Cantik, Estetik, Menarik
Bingung nggak, sih, sewaktu aku menyebutkan ada hand sanitizer di setiap lantai. Memangnya JogjaPasaraya bangunannya bertingkat? Tepat sekali, meski hanya semi-bertingkat, faktanya toko ini memiliki tiga lantai, lho.
Ketika belum memasukinya, mungkin tak akan menyangka, karena penampakan dari depan memang mirip toko batik kebanyakan seperti yang sempat kusebutkan. Namun, setelah memasuki toko ini, mood otomatis naik, dan sepasang mata pun akan terus berbinar bersamaan dengan langkah kaki yang semakin jauh ke dalam.
Desain interiornya sungguh menarik, menampilkan aksen-aksen tradisional khas Jawa yang dikemas modern, menciptakan suasana yang hangat dan membuat betah berlama-lama.
Setiap sudut terasa begitu cantik, bisa digunakan untuk bernarsis-ria yang kemudian dipamerkan di Instagram atau media sosial lainnya. Serunya lagi, kita boleh meminjam koleksi bajunya sebagai properti pemotretan.
Sebuah mural unik terlukis indah memenuhi salah satu sisi dinding dari atas ke bawah. Bukan sembarang lukisan, mural tersebut merupakan karya seniman kondang Jogja, Wulang Sunu, yang mengisahkan tentang sumbu filosofi Jogja.
Penataan barang-barangnya pun rapi dan tidak desak-desakkan, serta dikelompokkan sesuai kategori, sehingga mudah dan nyaman saat memilihnya.
Kemudian yang menjadi perhatianku, dan ini merupakan hal yang tak kalah penting, yaitu keberadaan fitting room yang lega banget, bisa untuk barengan teman atau keluarga jika datang rombongan, tak perlu mengantre untuk mencoba baju. Terdapat pula toilet yang bersih dan wangi, tak heran karena di dalam ada lilin aromaterapinya.
Sebagai pusat oleh-oleh terlengkap, JogjaPasarayaberkomitmen untuk menjadi salah satu pusat tujuan pariwisata Jogja, khususnya di kawasan Malioboro. Tak sekadar toko oleh-oleh biasa seperti kebanyakan yang hanya melayani pembelian, tetapi juga hadir untuk menambah kenanganmu tentang Jogja setelah mengunjunginya.
Semua tentang Jogja ada di Jogja Pasaraya. Tak perlu ribet dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mencari oleh-oleh. Sangat efisien, akan menghemat waktu dan tenaga, sehingga bisa lebih banyak mengeksplorasi destinasi wisata lainnya.
Di Jogja Pasaraya ternyata memiliki keistimewaan lain. Pada lantai paling atas terdapat penginapan berkonsep hotel kapsul yang siap menampung para traveler yang gemar berlibur dengan gaya hemat, yaitu Bobobox. Tuh, kurang apa lagi, coba?
Jadi, sudah siap menuntaskan rindu dan melengkapi kenanganmu tentang Jogja di Jogja Pasarayapada liburan selanjutnya?
Beberapa kali melakukan staycation, baru kali ini merasakan menginap dan piknik ala-ala di hotel ketika bulan puasa. Memang apa enaknya melakukan staycation saat Ramadan? Nah, itu juga pernah menjadi tanda tanya bagiku. Namun, begitu mengalami sendiri, ternyata seru banget, Gaes! Penasaran bagaimana keseruannya? Simak tulisan ini sampai akhir, ya.
Hotel yang menjadi jujugan kali ini masih di Jogja, meskipun tidak persis di tengah kota, yaitu di LPP Garden Hotel yang berjarak kurang-lebih 15 menit dari pusat kota, bisa lebih cepat kalau kondisi jalanan lancar. Alasan memilih hotel ini, tentu saja karena tertarik mendengar namanya yang menggunakan "garden". Benar saja, sesuai namanya, hotel ini memiliki slogan living in nature dengan konsep menampilkan taman hijau di seluruh areanya. Tanpa banyak pertimbangan, langsung gercep untuk booking kamar.
Karena beberapa hari sebelumnya hujan badai terus, malamnya menyempatkan untuk berafirmasi positif agar keesokan hari cuacanya cerah seharian, bagus untuk berfoto-foto. Alhamdulillah, sungguh terjadi.
Lobi yang Unik dengan Full Kaca Bening
Sewaktu tiba di hotel, ada hal yang langsung menarik perhatian, kolam ikan sederhana di halaman depan. Tak begitu besar atau mewah, tetapi cukup membuat merasa adem dengan suara aliran airnya.
Selanjutnya, sebelum memasuki lobi dan area front office, lagi-lagi menemukan sesuatu yang membuat takjub.
Bangunannya full kaca bening, membuat apa-apa yang di dalamnya terlihat dari luar. Serasa menyaksikan akuarium besar.
Ketika memasukinya, tak lupa cuci tangan dan check-in melalui aplikasi pedulilindungi terlebih dahulu, kemudian petugas security yang berjaga di depan langsung membantu membuka pintu serta menanyai apa keperluanku.
Sejenak menunggu di lobi untuk proses check-in kamar, perhatianku teralihkan pada suasana ruang tunggu yang cukup luas tersebut. Di sudut utara ada dua sofa melingkar berwarna kontras, cokelat berpadu kuning. Sementara di sudut sebaliknya, terdapat bedug kecil dan pernak-perniknya sebagai hiasan yang menandakan hotel ini turut memeriahkan Ramadan. Di sebelahnya berdiri gagah dua sepeda yang termasuk fasilitas, boleh digunakan oleh tamu hotel. Bergeser ke sebelahnya lagi, sebuah sofa unyu berwarna oranye yang ditemani meja, tak ketinggalan TV berlayar lebar terpasang di samping atasnya.
Aku duduk di sofa sebelah utara. Cuaca Jogja yang sedang panas-panasnya membuat sinar matahari tak terbendung menembus kaca dan masuk ke dalam. Cukup membuat silau, tetapi tidak terasa panas. Di dalam terpasang AC dan beberapa tanaman hijau dalam pot yang membuat kesejukan ruangan terjaga. Kesan nyaman tetap terasa saat berada di dalamnya.
Fasilitas Kamarnya Spesial, Ukuran Kasur Lebih Lebar dan Ada "Pintu Ajaib"
Setelah kunci di tangan, aku langsung menuju kamar sesuai nomor yang tercantum. Senangnya bisa mendapat kamar deluxe room yang berarti berada di bangunan baru. Oh iya, LPP Garden Hotel ini pada Februari 2022 lalu melakukan re-opening. Kamarnya bertambah 32 dengan desain yang lebih modern.
Begitu memasuki kamar, langsung terlihat meja di sisi kanan. Semakin masuk ke dalam, terdapat dua ranjang dengan ukuran kasur yang sempat membuat sedikit berpikir,
lho, kok kasurnya kayak lebih lebar dibandingkan hotel lainnya, ya.
Ternyata single bed di sini ukurannya memang berbeda, bukan yang tipe 100 x 200, tetapi 120 x 200. Wah! Lebih leluasa untuk glundang-glundung, nih! Adanya TV yang terletak pada dinding depan tempat tidur pun akan menambah kesempurnaan sesi mager.
Maklumin ya, alasanku setiap staycation biasanya memang sepenuhnya untuk bermalas-malasan, makanya harus memilih hotel yang nyaman. Misal ternyata dapatnya lebih dari sekadar nyaman, itu namanya rezeki anak solehah.
Belum selesai nggumun perihal ukuran kasur, aku dikejutkan oleh keberadaan kulkas imut yang berada di bagian bawah rak tempat disediakannya teko listrik dan sepasang mug beserta sendok lucu dengan segala ubo rampe untuk membuat minuman. Awalnya kukira minibar, tetapi sewaktu dibuka rupanya melompong. Seketika terlintas ide mencari warung atau toko kelontong terdekat dan membeli minuman kemasan untuk ditaruh dalam kulkas.
Di sebelah rak persis, ada meja kerja yang sedikit lebih rendah tapi lebar. Dilengkapi kursi empuk berdesain minimalis yang hanya dengan melihatnya saja langsung tahu kalau itu sangat nyaman untuk diduduki. Kaum yang menggunakan hotel sebagai tempat transit urusan bisnis atau memang hobi WFH--work from hotel, dijamin bakal bahagia bekerja di space ini.
Lanjut ke bagian toilet, pada dinding sebelah pintu sisi luar terpasang cermin berukuran panjang, dan ketika membuka pintunya, akan bertemu cermin lagi yang sepaket dengan wastafel serta perlengkapan mandi berupa sikat dan pasta gigi, sabun batang untuk cuci tangan, shower cap, dan sebuah plastik kecil yang sepertinya untuk menaruh sampah pembalut jika diperlukan. Disediakan juga dua handuk mandi berukuran jumbo serta handuk lantai.
Di toilet ini, yang paling kusukai adalah tempat mandinya. Bentuk shower-nya lebar dengan banyak lubang untuk memancarnya air. Sebagai tim yang tak bisa mandi pakai air sedikit, shower model ini merupakan sebuah kesempurnaan.
Sempat terlupa, di belakang pintu utama, berdiri sebuah lemari terbuka berisi beberapa gantungan baju dan di bawahnya terdapat sepasang sandal hotel standar warna putih. Mengapa aku mengatakan pintu utama? Ya, karena pintunya memang dua. Pintu satunya berada persis di seberangnya, begitu dibuka langsung dihadapkan pada pemandangan yang memanjakan indera penglihatan.
Seruu! Kalau ingin menikmati outdoor tak perlu jalan memutar, langsung saja buka pintunya.
Di depan mata persis terdapat sebuah kolam renang yang meskipun tak terlalu luas, tetapi desainnya modern serta unik tak simetris, dilengkapi dua jembatan putih bersih menjadikan penampakannya makin jelita. Ditambah keberadaan pelampung jumbo atau floaties berbentuk Unicorn. Cocok buat pengunjung semacam aku yang tak bisa berenang, tapi wajib berfoto-foto untuk dipamerkan di media sosial.
Area Outdoor Bukan Sekadar Ruang Terbuka, Kebun Hidroponiknya Bikin Enggan Beranjak
Karena waktu masih menunjukkan 2,5 jam menuju berbuka, aku pun lanjut untuk mengeksplorasi kolam renang dan wilayah outdoor lainnya, anggap saja ngabuburit. Di area kolam renang juga dilengkapi ruang ganti, tempat mandi terbuka berupa shower, pool bar, dan tak ketinggalan deretan kursi malas.
Bangunan hotel ini memang cuma dua lantai, tetapi lahannya cukup luas dan seluruh outdoor-nya dijadikan taman yang dipenuhi tanaman hijau di mana-mana. Aku sebagai orang yang merasa lebih bersemangat berada di ruang terbuka hijau merasa beruntung dan tak salah pilih hotel.
Sungguh memanjakan mata dan jiwa, makin sempurna karena cuaca Jogja hari itu sangat cerah.
Ada juga spot hidroponik dengan tanaman sayurannya. Bermain ke kebun hidroponiknya benar-benar menenangkan, suasananya sunyi, hanya terdengar gemericik air yang mengaliri tanaman. Meminjam istilah anak-anak zaman sekarang, tempat ini cocok untuk healing.
Menikmati Iftar dengan Puluhan Menu dan Bebas Makan Sepuasnya
Keasyikkan jalan-jalansembari berfoto-foto, tak terasa hampir dua jam berlalu. Enggan tertinggal waktu berbuka dan kehabisan makanan, aku segera menuju restoran hotel yang bernama Nutmeg Sense Cafe.
Selama bulan Ramadan ini, setiap hari diadakan event buka puasa secara prasmanan dan bebas menikmati hidangan sepuasnya. Serunya lagi, untuk menikmati pengalaman iftar (buka puasa) spesial tersebut tak harus sebagai tamu hotel, tetapi terbuka untuk umum. Dan pastinya, biaya yang harus dikeluarkan pun sangat hemat dibandingkan buka puasa di hotel lainnya.
Seraya menunggu azan magrib berkumandang, aku mengelilingi restoran untuk melihat menu-menu yang disajikan, tentunya sambil merekam momen tersebut. Surprise! Menunya tergolong komplet untuk harga yang ditawarkan. Mulai dari takjil, camilan, hidangan utama, makanan penutup, hingga aneka minuman panas dan dingin, semuanya ada.
Bingung nggak, tuh, gimana cara menikmati hidangan sebanyak itu? Enggak, dong.
Durasinya lama, mulai jam 5 sore hingga 9 malam. Tak perlu khawatir tertinggal waktu salat, tersedia fasilitas musala di sini. Aku sebagai tamu hotel, memilih salat di dalam kamar. Bukan karena alasan apa-apa, hanya rasanya lebih nyaman.
Mau pamer lagi, hidangan yang disajikan setiap hari berbeda dan selalu ada live cooking-nya. Kemudian, bagi yang tidak menginap di hotel, kalau ikut buka puasa di LPP Garden Hotel, bebas mengeksplor seluruh areanya. Mau buka bersama sembari menggelar tikar ala piknik di taman atau di pinggiran kolam renang? Boleh banget!
Jalan-Jalan di Sekitar Hotel Juga Diperlukan Saat Staycation
Puas menikmati sajian berbuka dilanjutkan salat magrib, aku bersama dua teman menjalankan misi mencari toko kelontong. Sejujurnya, karena ingin jalan-jalan saja.
Dari petugas security, kami mendapatkan petunjuk di mana warung terdekat yang kira-kira dapat ditempuh dalam waktu 10-15 menit berjalan kaki. Kami menyusuri jalan raya di depan hotel persis ke arah utara. Minimnya lampu penerang jalan membuat sensasi tersendiri, jadi teringat jurit malam masa pramuka. Namun, inilah yang menjadi salah satu keseruan staycation.
Di mana pun itu, aku selalu menyempatkan jalan-jalan di sekitar hotel. Macak warga lokal memang menyenangkan.
Lima belas menit berlalu, akhirnya ketemu warung yang dicari. Sesuai rencana, kami hanya membeli minuman kemasan. Dalam perjalanan pulang, salah satu teman mengusulkan untuk lanjut berjalan sampai PlazaAmbarrukmo yang memang dekat dari lokasi hotel. Mengapa tidak?!
Jaraknya ternyata lebih singkat daripada ke arah warung. Hanya butuh waktu tak sampai 10 menit, dan selama perjalanan terasa lebih berwarna, karena banyak menjumpai berbagai macam warung makan. Jika suatu saat kamu sedang staycation di LPP Garden Hotel, ini bisa sebagai referensi bagi yang hobi kulineran malam.
Tidur Nyenyak dan Indahnya Sahur Tanpa Perlu Menyiapkan Makanan
Kami tiba di hotel lagi jam setengah 10. Setelah beristirahat sebentar, kemudian mandi dilanjutkan salat isya' dan tarawih.
Tak butuh waktu lama dari saat naik ke tempat tidur lantas tertidur pulas. Kasurnya nyaman dan empuk, meskipun tanpa embel-embel "banget". AC-nya yang super dingin bikin tidur makin nyenyak, tetapi tak membuat kedinginan karena selimutnya tebal dan enak.
Di tengah pulasnya tidur, tiba-tiba ketukan pintu oleh petugas room service membangunkanku. Oh, ternyata sudah jam setengah 4, saatnya makan sahur. Ini, nih, satu keseruan lagi staycation di bulan Ramadan.
Jika di rumah harus menyiapkan makanan terlebih dahulu, minimal melakukan pemesanan lewat aplikasi online,
ketika di hotel bisa santaiii... langsung makan sahur sesudah bangun tidur.
Tetap pakai usaha dikit lah, jalan dari tempat tidur menuju pintu untuk menerima makanan.
Makanannya disajikan secara higienis dengan wrap plastik transparan dan menunya super lengkap untuk ukuran makan sahur. Nasi dilengkapi sayur dan lauk-pauk, buah dan puding, kerupuk, serta dua jenis minuman. Benar-benar nikmat, sahur serasa buka puasa. Kalau berhasil menghabiskan semuanya, kamu hebat!
Sejenak Bermalas-malasan Sebelum Check-Out
Biasanya, selepas sahur dan salat subuh, sebisa mungkin aku tidak melanjutkan tidur. Begitu pun saat berada di hotel, aku memutuskan untuk membuka pintu yang terhubung ke outdoor. Kebetulan sekali, pintunya menghadap ke arah timur, dan langit pagi kala itu sangat cantik. Mujurnya aku, bisa merayakan pagi dengan suasana yang syahdu sambil jalan-jalan di taman.
Beberapa menit kemudian, aku masuk ke kamar lagi. Gegoleran, glundang-glundung, malas-malasan, atau apalah itu namanya. Pokoknya tak ingin melakukan apa pun, hanya ingin menikmati momen bebas dari rutinitas pagi yang biasa dikerjakan di rumah. Mumpung sedang staycation, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, apalagi kalau hotelnya nyaman banget begini.
Bagiku, pengalaman staycation ketika Ramadan di hotel yang tergabung dalam LPP Hotel & MICE Group serta merupakan anak perusahaan BUMN ini serasa rekreasi beneran. Selain menyegarkan pikiran dengan bersantai memanfaatkan fasilitas serta menikmati suasana di area hotel, makin seru karena sekaligus mendapatkan pengalaman iftar yang disediakan hotel dengan sistem prasmanan dan bebas makan sepuasnya, serta sensasi makan dini hari di dalam kamar dengan menu seperti makan siang.
Penawaran Menarik Selama Ramadan
Keseruan-keseruan di atas bisa didapatkan dengan harga yang sangat terjangkau, lho. Pada bulan Ramadan ini, LPP Garden Hotel memberikan penawaran-penawaran menarik, yaitu promo Ramadhan Festive (berlaku untuk stay antara Minggu s.d Kamis)dengan rate IDR295.000 per malam, sudah bisa menginap di kamar tipe deluxe room, dan termasuk menikmati hidangan sahur atau sarapan. Sedangkan untuk promo buka puasa, ada Paket Bu Mamat, buka bersama hemat dengan makan sepuasnya cukup membayar IDR65.000.
Yuk! Kapan gantian kamu menikmati Ramadan staycation di LPP Garden Hotel?
Bloger asal Jogja ini suka memandang hujan, tetapi lebih sering berbinar karena langit biru. Gemar mendengarkan musik, tetapi tidak dengan menyanyi. Kadang jalan-jalan, kadang menonton film/serial, kadang membaca buku, dan mencoba untuk rutin menulis. Silakan kirim surel ke mesha.christina@gmail.com, apabila ada pertanyaan, penawaran kerja sama, atau ajakan kolaborasi.