Di balik tirai hujan yang riuh, sepasang sosok penjaga toko duduk mematung, berlagak dua maneken pada kotak kaca di belakang mereka.
Entah, manantikan apa.
Mungkin hujan yang segan menghilang? Mungkin pelanggan yang enggan bertandang? Atau mungkin, menunggui pohon di seberang agar sudi berteduh bersama, tak hanya mematung didera jarum-jarum air yang berjatuhan.
Lagi-lagi tentang mimpi. Memang, tak ada yang salah dengan bermimpi. Justru dalam kehidupan, mimpi bisa diibaratkan sebagai bahan bakar yang memantik semangat untuk menjalani hidup tetap menyala. Setiap pribadi berhak bermimpi, tanpa mengenal batasan usia. Kata orang-orang, mimpi itu harus besar. Menurutku sendiri tak begitu, mimpi tak melulu menyangkut sesuatu yang 'wah'. Segala sesuatu yang membuat kita menjadi bergairah, bersemangat, dan terus berjalan―bahkan berlari―untuk mewujudkannya, itulah yang disebut mimpi.
Katanya, dalam menjalani hidup, kita harus berani bermimpi. Sesederhana apa pun mimpinya, kita juga mesti berani mengejar untuk mewujudkannya. Begitu pun denganku, ada mimpi-mimpi yang terus minta dikejar, dan mereka enggan peduli, apakah aku mampu mengejarnya hingga tercapai atau tidak. Sebagai seorang penggemar sepak bola, wajar jika salah satu impianku adalah bertemu dengan para pemain pujaan, biasanya yang ganteng-ganteng, sih.
Setelah beberapa tahun lalu kesampaian bertatap muka langsung dengan seorang pemain sepak bola asal Spanyol, Jose Antonio Reyes, akhir catur wulan kedua tahun ini (Agustus 2014), satu lagi mimpiku terwujud. Meski tak bertatap muka langsung, tetapi aku bisa melihatnya bermain bola secara langsung. Di stadion termegah milik Indonesia pula!
Ialah Fernando Llorente, pemain berkebangsaan Spanyol, yang sejak Piala Dunia 2010 membuatku kagum padanya. Ia yang awal-awal kemunculannya memiliki gaya rambut bak dewa Yunani Kuno. Ia yang begitu rendah hati dan ramah pada penggemar. Dan, ia yang memiliki kepedulian tinggi pada orang-orang tak seberuntung dirinya. Singkatnya, aku mengaguminya bukan karena permainannya di lapangan, namun karena karakter pribadinya.
terpesona (sumber: tumblr)
Tak dimungkiri, selain baik hati, ia juga ganteng. Aku masih ingat betul saat Timnas Spanyol tiba di Polandia dalam rangka mengikuti gelaran Piala Eropa 2012, Llorente lah yang diberi roti penyambutan oleh gadis penyambut tamu. Gadis tersebut mengiranya kapten tim, dan pasti memberikan roti padanya juga karena ia yang terlihat paling ganteng. :P
llorente dengan trofi piala eropa 2012 (sumber: tumblr)
Kedatangan beberapa pemain asal Spanyol ke Indonesia membuatku berani bermimpi jika suatu saat ia pun akan singgah ke negara ini. Tahun 2011, berbekal fanbase abal-abal di Twitter, aku mulai sering mengirimkan tweet-tweet untuknya, berupa bujukan agar mengunjungi Indonesia. Aku selalu menyebutkan kalau Indonesia dekat dengan India, negara yang pernah dikunjunginya dalam rangka misi kemanusiaan. Aku pun sering bertanya padanya, apakah tak ingin seperti beberapa rekan senegaranya, FrancescFabregas atau Xabi Alonso yang pernah mengunjungi Indonesia, bahkan Fabregas malah sudah dua kali.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada bursa transfer musim panas 2013, ia yang awalnya bermain di Athletic Bilbao memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya dan hengkang ke Juventus dengan status free transfer. Sebelum memutuskan memilih Juventus, beberapa klub ternama sempat memperebutkannya, dan saat itu aku sangat berharap ia akan memilih Arsenal atau Barcelona yang notabene adalah klub favoritku.
madre dan padre yang selalu membanggakannya (sumber: tumblr)
Masa-masa ketika ia di Juventus, aku mulai jarang membribiknya melalui akun fanbase, tapi lewat akun pribadiku, terkadang masih suka mengomentari status atau foto-foto yang diunggahnya.
Hingga kemudian, pertengahan tahun ini, tanpa sengaja aku membaca tweet entah milik siapa, aku lupa. Dalam tweet itu, ia menyatakan kalau tak sabar bertemu Llorente yang akan datang ke Indonesia. Aku langsung penasaran. Alih-alih bertanya pada orang tersebut, aku malah sibuk googling sendiri, mencari tahu dalam rangka apa Llorente datang, kapan datangnya, dan sebagainya. Namun, usahaku sia-sia, tak ada satu pun portal berita olah raga yang memuat berita rencana kedatangannya.
Aku sama sekali tak berpikiran kalau ia akan datang bersama Juventus. Jeda kompetisi memang sering dimanfaatkan para klub kaya untuk melakukan touring. Dan, akhir-akhir ini, Indonesia seringkali menjadi salah satu jujugan mereka. Jadi, kedatangan Llorente ke Indonesia tentu saja bersama klubnya.
Saat itu juga, aku membulatkan tekad harus menontonnya langsung. Kapan lagi bisa menonton aksi idola dari dekat? Saking semangatnya, sampai-sampai aku bertekad akan berangkat sendiri jika memang tak ada temannya. Asal tahu saja, Juventus bukan klub yang kudukung, tapi demi Llorente, apa pun kulakukan. Bahkan, ketika Arsenal ke Indonesia, aku malah tak menontonnya.
Nyatanya, ada dua kawan yang mau ikut. Satu juventini, dan satunya memutuskan ikut karena ingin merasakan suasanadi ibu kota. Sesederhana itu. Sehari menjelang hari H, di tengah arus balik Lebaran yang masih memadati lalu-lintas, kami menuju Jakarta menggunakan bus yang sebelumnya sama sekali tak masuk dalam rencana.
Singkat cerita, pada sore keesokan harinya, kami sudah berada di pelataran GBK. Iya, Gelora Bung Karno yang stadion termegah di Indonesia itu! Ya Allah, lebih dari sepuluh tahun jadi penggila bola, baru kali itu masuk ke stadion megah.
Selepas menukarkan tiket, kemudian sholat maghrib, kami segera masuk ke dalam stadion. Merinding, bisa duduk di salah satu bangku penonton, meski kami berada di tribune atas, area paling jauh dengan lapangan.
Pertandingan baru akan dimulai jam 20.00 WIB, dan aku sudah tak sabar merasakan euforia sebuah pertandingan. Selama ini, biasa nonton bola dari TV saja, sesekali nobar, nonton di stadion kota juga pernah, tapi aku yakin suasananya akan sangat berbeda.
Di tengah-tengah suntuknya menanti, tiba juga giliran para pemain Juventus memasuki lapangan untuk berlatih, yang beberapa menit kemudian berlangsung kick-off antara ISL All Stars melawan FC Juventus. Sorak-sorai dari para suporter dan suara kembang api yang disulut membahana memenuhi seluruh stadion. Mereka meneriakkan nama Pirlo, Buffon, Vidal, Tevez, Pogba, dll. Aku? Tentu saja meneriakkan panggilan kesayanganku untuk Fernando Llorente: Floris!
Selanjutnya bisa ditebak, sepanjang pertandingan mataku tak lepas dari sosoknya. Ke mana pun ia menggiring bola, dari kejauhan, mataku terus saja mengawasinya. Permainan indahnya menghasilkan empat gol yang dilesakkan ke gawang Kurnia Meiga, kiper yang mengawal gawang ISL All Star.
mau banget jadi anak yang dipegang pundaknya itu! (sumber: Nine Sport Inc.)
Aaaakk... akhirnya aku bisa melihatnya langsung. Mata sampai berkaca-kaca karena saking senangnya. Dulu, sempat mengira kalau salah satu mimpiku itu akan terwujud dalam waktu yang masih lama. Kenyataannya, ketetapan Allah memang tak bisa diterka. Memang benar kalau konspirasi semesta turut serta membukakan jalanku, mulai dari adanya kawan yang mau menemani, kedatangan bus penyelamat, telepon dari Budhe di Jakarta, dan banyak hal lainnya lagi.
ada llorente dalam foto yang berkualitas sangat buruk ini (dok. pribadi)
Terima kasih, Avi dan Catur, yang telah menemaniku menjemput mimpi. Tanpa kalian, mungkin aku batal ke Jakarta, karena aku tak yakin akan benar-benar nekat berangkat sendiri. Pengalaman tersebut menjadi yang paling berkesan di 2014 ini, sekaligus menjadi yang takkan terlupakan dalam hidup. Terima kasih juga untuk Nine Sport Inc, selaku pihak promotor yang mendatangkan Juventus FC. Tanpamu, mimpi bertemu Llorente belum akan terwujud.
Dan, mimpi tersebut pun berlanjut... kelak, giliranku yang akan mengunjungi negara Llorente. Semoga!
Kalau tak malas, aku juga akan menuliskan kisah kami menjadi gembel di ibukota. Mulai dari kegalauan di Kutoarjo, city tour di Jakarta, hingga detail pengalaman berada di GBK. Pastinya, tulisan tersebut untuk tahun depan, yaa... ;)
Bahagia itu sederhana. Sesederhana peralatan untuk membuat kue, roti, cake, dan sejenisnya yang tertumpuk rapi di depan mata. Peralatan berupa oven, mixer, serta loyang berbagai ukuran tersebut kutemukan teronggok di ruang serba-guna dalam rumahku. Omong-omong ruangan serba-guna, kusebut begitu karena ruangan tersebut memang benar-benar multifungsi: ya untuk menerima tamu, ya untuk tidur, ya untuk nonton TV, ya untuk makan, dsb.
Kembali ke pokok bahasan. Tumpukan peralatan tadi sangat tak mungkin kalo dibeli oleh ibu, apalagi anggota keluarga lainnya. Dari dulu ada keinginan membeli oven, tapi belum juga kesampaian dikarenakan belum ada dananya. Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu, ibu yang berprofesi sebagai juru masak ditawari oleh tetangga untuk mengikuti program dari pemerintah, berupa pelatihan kewirausahaan yang entah diadakan oleh departemen apa, aku juga tak tahu. Tanpa pikir panjang, ibu langsung bersedia mengikutinya dan minta didaftarkan. Makin semangat lagi saat tahu kalau pelatihannya dilakukan di ruangan ber-AC dalam hotel berbintang, dan bakal mendapatkan bantuan berupa peralatan untuk menunjang usaha.
Pelatihan berlangsung selama beberapa hari, dari pagi hingga sore. Kala itu, ibu sering berbagi cerita mengenai apa-apa saja yang dilakukan ketika pelatihan. Paling banter sih berupa kuliah dari pakar atau mendengarkan kisah jatuh-bangunnya para pelaku wirausaha yang sudah suskes. Selain itu, persis anak sekolahan, peserta pelatihan juga diberikan PR alias pekerjaan rumah. Hahaha. Lumayan lah, ibu jadi bertambah ilmu teorinya. Karena selama ini, ibu menjalankan usaha berdasarkan insting saja.
Hari-hari pun berlalu. Belum ada informasi kapan bantuan yang dijanjikan akan turun, sampai kemudian lupa dengan janji tersebut. Tapi, beberapa hari lalu, para tetangga yang dulu mengikuti pelatihan mulai heboh karena diminta mengambil bantuannya. Bantuan yang diberikan wujudnya macam-macam, sesuai dengan bidang usaha yang selama ini digeluti. Ibu yang juru masak, berpikiran kalau paling-paling bantuan yang diberikan untuknya 'hanya' berupa kompor.
surprise!
Alhamdulillah, pikiran ibu salah besar. Hari ini, ibu baru sempat mengambil bantuan yang menjadi jatahnya. Pemerintah memang memberikan bantuan kompor, tapiii... ditambah dengan tumpukan peralatan yang kutemukan teronggok tadi. Jadilah ini semacam hadiah akhir tahun untuk ibu. Aku tak memiliki hobi memasak, tapi saat melihat peralatan membuat kue, seolah ikut mendapat kejutan. Langsung penasaran ingin menggunakannya untuk bereksperimen. Meskipun, belum tahu juga alat-alat tersebut akan diletakkan di mana, saking sempitnya rumah kami.
Sempat iseng bertanya pada ibu, apakah peralatannya akan dijual? Dengan tegas ibu menjawab tidak. Katanya, ingin digunakan untuk belajar membuat kue, agar bisa mengembangkan usahanya. Agar bisa digunakan adek untuk mengasah bakat memasaknya juga. Kalau aku? Cukup jadi perusuh dan tukang icip-icip saja. :P Semoga, impian sederhana yang berawal dari barang-barang tak sederhana (menurut kami) itu akan mampu terwujud. Aamiin...
Bloger asal Jogja ini suka memandang hujan, tetapi lebih sering berbinar karena langit biru. Gemar mendengarkan musik, tetapi tidak dengan menyanyi. Kadang jalan-jalan, kadang menonton film/serial, kadang membaca buku, dan mencoba untuk rutin menulis. Silakan kirim surel ke mesha.christina@gmail.com, apabila ada pertanyaan, penawaran kerja sama, atau ajakan kolaborasi.