June 22, 2014


Terus melangkah, dan kau akan menemukan hal indah yang tak terduga. Kira-kira seperti itulah yang kualami siang tadi. Kaki mulai terasa cenat-cenut selepas menemani seorang kawan dari Purwokerto jalan-jalan ke Museum Benteng Vredeburg, lalu menuju Museum Kraton Yogyakarta, dan kemudian jalan kaki ke utara lagi menuju Stasiun Tugu untuk 'mengejar' kereta jurusan Solo jam 13.00. Niat awal selepas dari Tugu adalah hunting buku di kompleks Taman Pintar atau yang lebih dikenal dengan nama shopping. Namun apa daya, rupanya di Malioboro sedang ada hajatan yang (katanya) mengharuskan penutupan jalan.

Saat tiba di shelter Transjogja untuk menuju shopping, aku dan beberapa calon penumpang lainnya 'ditolak' mentah-mentah oleh petugasnya. "Maaf, mbak, nanti uangnya saya terima kalau busnya sudah datang, soalnya ini nanti ada penutupan jalan." Tapi, saat ada yang bertanya jam berapa jalannya ditutup, petugasnya juga tak tahu. Ya sudahlah, aku dan yang lainnya pun hanya bisa menunggu. Aku mengamati, jalanan masih ramai, kendaraan masih bebas bersliweran. Tak ada tanda-tanda akan ada penutupan jalan.

Berhubung beberapa saat kemudian bus yang akan kunaiki tak kunjung datang, aku memutuskan melanjutkan jalan kaki saja. Toh, cacing-cacing di perut juga mulai melakukan protes karena baru kusadari, sejak pagi belum ada secuil makanan yang masuk. Kemudian, aku pun masuk ke sebuah warung makan dulu. Setelah perut kenyang, aku kembali melanjutkan langkah. Ketika akan menyeberang jalan, lha kok ternyata dari arah utara ada iring-iringan marching band.

si merah-hitam (dok, pribadi)

kostum ala dayak (dok. pribadi)

kelompok pembawa umbul-umbul (dok. pribadi)

Pucuk dicinta, ulam tiba! Sebagai seorang yang gemar menonton drumband―aku menyebutnya begitu, iring-iringan tersebut terlalu sayang untuk dilewatkan. Tak peduli siapa yang berparade, entah dari AAU, TNI, para mahasiswa, hingga anak-anak TK, aku selalu suka marching band. Bahkan, ketika masih kecil, aku sering dirungon-rungoni marching band pada dini hari yang menurut mitos merupakan drumband setan, bukannya takut, aku malah menyukainya. Ckckck! Kembali ke cerita tadi siang, yang terjadi selanjutnya adalah, aku bergabung dengan penononton lain dan menikmatinya hingga penghabisan.

entah, kurang bisa menangkap maksudnya (dok. pribadi)

barisan hitam-biru (dok. pribadi)

Ada banyak kelompok yang mengikuti parade tersebut. Kalau kubaca dari bannner yang dibawa masing-masing kelompok, mereka ada yang datang dari luar propinsi juga. Setelah bertanya-tanya, rupanya parade tersebut adalah Kejuaraan Marching Band HB X Cup yang dihelat pada 21 s.d 22 Juni 2014, dengan start dari kantor Dinas Pariwisata DIY dan finish di depan Gedung KONI. Pantesan, pesertanya cihuy-cihuy, meski rentang usia mereka dari SD hingga SMP.

baju kurung style (dok. pribadi)

peserta dari makassar yang warna-warni (dok. pribadi)

Untuk menarik perhatian juri, setiap kelompok memiliki tema kostum sendiri-sendiri. Kebanyakan memang mengenakan kostum marching band seperti pada umumnya, hanya warna-warnanya saja yang berbeda. Namun, ada juga kelompok yang mengenakan kostum dengan mengangkat hal-hal unik. Misalnya saja, kostum ala pakaian adat, ala koboi, ala hewan khas daerahnya, dan sebagainya. Bahkan, ada yang terinspirasi dari hal yang sedang menjadi trending, yaitu Piala Dunia.

si 'harimau jawa' menggoda penonton kecil (dok. pribadi)

kostum ala harimau. keren! (dok. pribadi)

Dari pengamatanku sebagai orang awam, aku paling suka kelompok yang mengenakan kostum bertema 'Save Our Harimau Jawa' dan 'Piala Dunia'. Aku lupa, dua kelompok tersebut berasal dari daerah mana. Kelompok 'Save Our Harimau Jawa' secara khusus menghadirkan Harimau Jawa yang diperankan oleh seorang anak, yang ketika kelompok sedang berhenti, si harimau tersebut akan beraksi dengan berjalan merangkak dan menghampiri para penonton.

koboi beraksi (dok. pribadi)

raksasa bukan sih? (dok. pribadi)

ibu-ibu pun ikut unjuk kebolehan (dok. pribadi)

Oiya, dalam parade tadi siang, jalanan Malioboro tetap bebas dilewati kendaraan. Jadi, petugas yang di shelter tadi infonya kurang valid. Hahaha... tapi gakpapa, beruntung ia mengatakan seperti itu, sehingga aku tak jadi naik bus. Dan akhirnya, dapat kejutan tak terduga. Kepingin nonton juga? Besok siang (22/06) masih ada, lho!

***

3 comments:

  1. yeee...ternyata DB-ku juga ada!!! (si merah hitam/Drum band kalimasada)

    ReplyDelete
  2. wahh, senangnya dikunjungi oleh salah satu peserta drumband-nya. sukses terus ya... :)

    ReplyDelete

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates