June 26, 2014


Nasib buruk atau apa ya namanya kalau dua tim yang kudukung dan kujagokan di Piala Dunia 2014 ini harus pulang lebih awal dari yang diperkirakan. Yak, Gli Azzurri akhirnya harus menyusul La Roja untuk segera angkat koper dari Brasil setelah Rabu dini hari (25/06) di Stadion Arena das Dunas dikalahkan oleh tim berjuluk La Celeste, Uruguay, dengan skor tipis 0-1.

skuad gli azzurri saat melawan la celeste (sumber: @Vivo_Azzurro)

Sebenarnya, Gli Azzurri hanya membutuhkan hasil imbang untuk melaju ke 16 besar. Tapi, bukan perkara mudah untuk sekedar bermain imbang melawan Uruguay. Sejak menit awal, pertandingan memang tidak bertempo cepat, tapi tetap berlangsung alot. Italia cenderung bermain lambat dan berhati-hati dalam menusuk ke jantung pertahanan lawan. Sedangkan Uruguay, menunggu diserang dan segera melakukan counter attack. Wajar saja, kerena laga tersebut merupakan penentu hidup atau mati bagi kedua negara. Uruguay juga masih berpeluang lolos, asalkan bisa mengantongi tiga poin di laga tersebut.

Pada babak kedua, tempo permainan masih belum berubah, namun serangan kedua kubu semakin sering dan sesering itu pula bola berhasil dimentahkan oleh barisan pertahanan atau kiper masing-masing. Puncaknya adalah ketika gelandang Italia, Claudio Marchisio diganjar kartu merah oleh wasit Marco Rodriguez pada menit ke-59. Marchisio dianggap mengangkat kaki terlalu tinggi saat mempertahankan bola.

kartu merah untuk marchisio (sumber: @Vivo_Azzurro)

Bukannya menjadi kacau, permaian Italia justru terlihat semakin solid terutama di lini pertahanan. Hingga akhirnya, petaka itu datang... penyerang Uruguay yang bermain untuk Liverpool, Luis Suarez berulah dengan menancapkan barisan gigi depannya ke pundak Giorgio Chiellini alias menggigit saat perebutan bola. Chiellini yang kesakitan, refleks menyorongkan pundaknya ke gigi Suarez sebelum kemudian terjatuh. Dan tiba-tiba, Suarez ikut jatuh, antara pura-pura kesakitan, atau memang sakit beneran karena giginya mengenai tulang selangka Chiellini. Awalnya, wasit memang tak melihat insiden tersebut. Namun, setelah melihat kedua pemain tersebut dalam posisi terduduk di rumput, harusnya ia berusaha untuk memastikan apa yang terjadi, bukannya malah bergeming saja. Padahal, Chiellini pun sudah bersuka-rela menurunkan jersey-nya untuk menunjukkan bekas gigitan.

suarez mulai lapar! (sumber: fanpage JDHSBD)

Entah karena kejadian tersebut atau bukan, permainan Italia mulai buyar. Di menit ke-81 Uruguay mendapat tendangan sudut yang kemudian berhasil disundul oleh Diego Godin dan menjebol gawang Gianluigi Buffon. Setelahnya, Italia terus melancarkan serangan untuk menciptakan gol balasan. Bahkan, di menit-menit akhir, Buffon ikut maju membantu serangan. Sayangnya, dewi fortuna enggan mendekat. Hingga wasit meniup peluit, kedudukan tak berubah.

Antiklimaks. Mengawali laga di babak penyisihan dengan penampilan meyakinkan dan berhasil membungkam tim sekelas Inggris 2-1. Pada laga kedua, anak-anak asuhan Cesare Prandelli justru tak dapat berbuat banyak dan dikalahkan Kosta Rika. Rabu dini hari di laga terakhir Grup D, Italia harus kembali menelan kekalahan dari Uruguay. Dengan perolehan tersebut, Italia mengulang kisah lama, kiprahnya harus terhenti di babak penyisihan, sama seperti saat Piala Dunia 2010.

"Kami memiliki harapan yang sangat besar, sayangnya kami tak mencetak gol dalam dua laga terakhir, dan kami hanya menciptakan sedikit peluang." ~ Gianluigi Buffon

Kepulangan Italia menandai bahwa aku tak punya tim jagoan lagi di Piala Dunia kali ini. Tak ingin mutung―dengan cara tak menonton pertandingan-pertandingan selanjutnya hingga babak final―seperti beberapa teman yang juga kehilangan tim jagoan, aku memutuskan untuk tetap menonton dan menjadi penggembira saja. Kalau ngetwit untuk mengomentari pertandingan yang sedang berlangsung, pakainya hashtag #SuporterHore. Hahaha...

Beberapa saat setelah pertandingan usai, sang allenatore memutuskan mundur dari kursi kepelatihan Gli Azzurri. Prandelli memang tak sempat mempersembahkan gelar, namun tangan dinginnya patut diberi pujian karena dalam masa empat tahun kepelatihannya, ia berhasil membawa Italia menjadi finalis Piala Eropa 2012, meski pada akhirnya harus cukup puas sebagai runner-up. Selain itu, Prandelli juga berhasil membawa Italia menjadi runner-up kedua dalam ajang Piala Konfederasi 2013.

Seperti yang terjadi pada La Roja, tragedi ini adalah pelajaran. Pelajaran untuk bangkit dan terus berjuang!  Grazie lo stesso Ragazzi!

grazie! (sumber: @Vivo_Azzurro)

Forza, Azzurri! Uniamoci, uniamoci l'unione e l'amore...

***

*review pertandingan lebih lengkap, silakan klik di sini atau di sini.

Rerintik Kisah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates